Tampilkan postingan dengan label berjalan di atas badai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berjalan di atas badai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Empat Sifat Dari Masalah Hidup Manusia

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (I Kor. 10 : 13)

Dari ayat diatas, seperti ingin memberi tahu kita bahwa masalah memiliki empat sifat, apa saja itu? Yuk, kita lihat bersama-sama.

  1. Semua masalah bersifat tidak luar biasa
    "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan yang biasa." Ini bukan berarti Allah hendak menyepelekan masalah yang sedang Anda hadapi, melainkan hal yang sebaliknya, Dia hendak menunjukkan bahwa semua permasalahan dan pergumulan yang sedang Anda hadapi berada penuh di bawah kontrol-Nya. Jika Allah mengatakan "biasa" maka itu berarti :
    • Biasa, karena orang lain juga banyak yang mengalaminya, dan bahkan ada yang jauh lebih berat.
    • Biasa, karena baik orang yang percaya maupun tidak percaya juga mengalaminya.
    • Biasa, karena kita masih berada di dunia, belum di surga.
    • Biasa, karena itu proses untuk menuju peningkatan.
  2. Semua masalah bersifat tidak melebihi kekuatan kita
    "...yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu." Sebagian besar dari kita tidak bisa menyelesaikan masalah bukan karena masalah lebih kuat daripada kita, melainkan karena kita berpikir bahwa masalah lebih kuat daripada kita. Hal yang membuat masalah tampak besar  dan melebihi kekuatan kita adalah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Contohnya saja yaitu Daud dan Goliat. Orang Israel melihat Goliat begitu besar sehingga mereka memliki keyakinan bahwa Goliat tidak bisa dikalahkan, dan apa hasilnya? Mereka tidak mencoba dengan cara apapun untuk mengalahkannya, sehingga Goliat pun menjadi tak terkalahkan. Sementara itu, walaupun Daud melihat Goliat begitu besar, tetapi Daud mempunyai keyakinan bahwa umbannya tidak akan meleset, ia akan mengenainya dan mengalahkannya. Dan akhirnya Goliat pun berhasil dikalahkan.
  3. Semua masalah bersifat tidak sempurna
    Jika Anda pernah melihat Tembok China, Anda akan mendapat kesan megah dan kokoh. Tembok China didirikan pada zamannya untuk melindungi bangsa China dari serangan bangsa Barbar, dan tujuan itu tercapai. Bagi para musuhnya, tembok China merupakan masalah yang sangat besar. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa menaklukkannya. Sangat menyedihkan, tembok yang kokoh itu mampu didobrak musuh bukan dengan kekuatan militer yang besar, tetapi dengan cara menyuap penjaga gerbang tembok tersebut.

    Pelajaran yang dapat kita ambil adalah sekuat dan sekokoh apapun "tembok" persoalan yang kita hadapi, pasti dapat ditaklukkan karena tidak ada satupun masalah yang sempurna. Setiap masalah pasti memiliki celah untuk ditaklukkan karena "Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar."
  4. Semua masalah bersifat tidak abadi
    "...dan angipun redalah." Siapa yang menghentikan badainya? Tidak ada! Coba kita bandingkan kisah dalam Matius 14 : 22 - 33 dengan Matius 8 : 23 - 27. Badai yang terdapat dalam Matius 14 : 22 - 33 merupakan badai kedua yang dialami oleh murid-murid Yesus. Ada perbedaan yang menarik mengenai cara badai itu berhenti. Badai yang pertama berhenti karena dihentikan oleh Tuhan Yesus. "Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali." (Matius 8 : 26). Sedangkan badai kedua berhenti dengan sendirinya. "Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah." (Matius 14 : 32). Inilah salah satu sifat masalah, tidak ada masalah yang kekal, tidak ada "badai" yang abadi. Akhirnya semua masalah pasti "reda".

    Setiap gunung ada puncaknya
    Setiap lembah ada dasarnya
    Setiap laut ada pantainya
    Setiap masalah ada batasnya
    Tidak ada badai yang abadi

    "....sehingga kamu dapat menanggungnya"
Sumber : Buku Berjalan di Atas Badai

Selasa, 29 April 2014

Masalah Merupakan Potensi Untuk Terjadinya Mukjizat

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Kisah Inspiratif – Masalah Justru Akan Membuat Kita Menjadi Pribadi Yang Tangguh, dengan masih mengupas tentang buku Berjalan di Atas Badai karangan dari Pdt. Sukamal B Fadelan, saya ingin mengajak sobat sekalian untuk menyadari bahwa masalah seringkali bisa menjadi potensi untuk terjadinya suatu mukjizat. Ya, benar! Masalah merupakan suatu kesempatan. Mukjizat kesembuhan terjadi karena adanya sakit penyakit. Mukjizat kebangkitan terjadi karena adanya kematian. Mukjizat pemulihan keluarga terjadi karena adanya kehancuran rumah tangga. Mukjizat kelimpahan terjadi karena adanya kekurangan, dan seterusnya. Saat menghadapi masalah, Anda sedang berada dalam kemungkinan untuk mengalami mukjizat. Tetapi apakah mungkin Allah sengaja "menciptakan" masalah supaya Anda mengalami mukjizat? Ya, sangat mungkin sekali.

Burung Rajawali adalah seekor burung yang sangat menarik. Ia membangun sarangnya di pohon yang paling tinggi atau tebing-tebing curam. Peneliti pernah mengamati cara burung ini membuat sarangnya. Caranya dengan pertama-tama meletakkan ranting-ranting berduri, batu-batu tajam, dan semua benda runcing yang sepertinya sangat tidak cocok untuk sebuah sarang yang nyaman. Langkah selanjutnya adalah ia menutupi semuanya itu dengan bulu-bulu yang halus dan kulit binatang berbulu tebal yang menjadi mangsanya, sehingga sarang itu menjadi lembut dan menyenangkan serta cocok untuk anak-anak burung rajawali yang hendak ditetaskan.

Akan tetapi mahkluk-mahkluk itu tidak ditentukan untuk terus tinggal di sarang yang nyaman tersebut. Tiba saatnya bagi mereka untuk keluar sarang ketika induknya mengobrak-abrik sarang itu. Dengan cakarnya yang tajam, burung rajawali mulai mengarahkan duri dan batu-batu tajam ke tubuh anak-anaknya. Sampai pada waktu itu, anak-anaknya memperoleh makanan yang dijatuhkan induknya ke dalam mulut mereka. Setelah sarang itu diobrak-abrik, rajawali kecil menjadi tidak nyaman lagi dan berusaha keluar untuk pergi kemana saja. Tindakan yang tampak kejam itu sebenarnya bertujuan agar anak-anaknya bisa terbang dan menjadi mandiri.

Seperti halnya burung rajawali, Allah seringkali "merusak" kenyamanan kita supaya kita mau untuk keluar dari "sarang kenyamanan" dan menghadapi tantangan supaya kita bisa "terbang" dan mandiri serta mengalami mukjizat. Mengapa Petrus dapat berjalan di atas badai? Jawabannya adalah karena Petrus sedang menghadapi badai. Jika tidak ada badai, maka tidak akan pernah ada Petrus yang berjalan di atasnya.

Dikutip dari : Buku Berjalan di Atas Badai

Kamis, 03 April 2014

Kesimpulan Akhir dari Buku Berjalan di Atas Badai



Setelah menulis artikel tentang buku Berjalan di Atas Badai (Part 1) hingga Berjalan di Atas Badai (Part 5), maka disini penulis ingin membuat suatu kesimpulan ringkas tentang isi buku tersebut. Kisah Petrus berjalan di atas air memiliki kesan yang begitu kuat bagi penulis karena cerita tersebut memberikan gambaran yang sangat nyata tentang kehidupan kita.

  1. Awalnya bahtera kehidupan kita berlayar dengan aman, danau kehidupan pun begitu tenang. 
  2. Namun tiba-tiba sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Badai kehidupan datang menerjang dan mengancam untuk menenggelamkan bahtera kehidupan kita. Keadaan yang nyaman seketika berubah menjadi suatu kepanikan, ketakutan dan kekuatiran.
  3.  Inilah yang selalu dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia datang tepat pada waktunya untuk memberi penghiburan, “Tenaglah, Aku ini, jangan takut!” serta menawarkan pertolongan. 
  4. Ketika kita bersedia merespon, hidup kita menjadi terangkat, mukjizat kita alami dan kitapun berada pada puncak kesuksesan berjalan di atas badai. 
  5. Meskipun demikian, di tengah kesuksesan sekalipun, ternyata kita masih berada pada kemungkinan untuk tenggelam.
  6. Ketika hal itu mulai terjadi, asal kita mau berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus pasti mengulurkan tangan-Nya dan tidak membiarkan kita tenggelam. 
  7. Hasilnya, kita mengalami pemulihan, bangkit kembali dan berjalan di atas badai kembali bersama dengan Yesus. 
  8. Akhir cerita yang membuat orang percaya tetap kuat adalah, lalu kita naik ke perahu dan badai pun reda. 
  9. Ya, badai itu tunduk pada kita.

Awalnya, penulis berpikir bahwa selesai sudah tulisan ini sampai disini karena telah memberikan kesimpulan. Namun, penulis merasa belum puas jika tidak menyampaikan hal berikut. Penelitian yang ada membuktikan bahwa Anda akan mengingat :
10 % dari yang Anda baca
25% dari yang Anda dengar
30% dari yang Anda lihat
50% dari yang Anda lihat dan dengar
70% dari yang Anda katakan saat Anda bicara
90% dari yang Anda katakan dan lakukan

Artinya, jika hanya membaca buku ini, Anda hanya akan mendapatkan manfaat sebesar 10%. Namun jika Anda ingin mendapatkan manfaat hampir 100%, Anda harus bersedia untuk mengatakan atau membagikannya kepada orang lain serta melakukannya. Dengan demikian, Anda tidak hanya menjadi pribadi yang dapat berjalan di atas badai, tetapi Anda juga dapat membantu orang lain berjalan di atas badai.


Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'

Pdt. Sukamal B Fadelan


Berjalan di Atas Badai (Part 5)


Yesus meredakan angin ribut dan badai

Shalom sobat, kali ini saya ingin meringkas bagian keempat atau bagian terakhir dari buku Berjalan di Atas Badai yang merupakan buku luar biasa yang ditulis oleh Bapak Pendeta Sukamal B Fadelan. Sebelumnya kita telah membahas bagian ketiga dari buku ini dalam tulisan saya Berjalan di Atas Badai (Part 4), dan sekarang saya ingin mengajak sobat sekalian membahas bagian terakhirnya. Mari kita lihat bersama-sama, apa isi bagian terakhir dari buku ini.

Bab IV : Bersama Yesus, Badai pun Tenanglah
Banyak dari sobat sekalian saya percaya pernah membaca atau mendengar kisah tentang “jejak-jejak kaki di pantai” yang begitu popular. Dalam kisah tersebut intinya adalah ketika kita sedang kuat untuk berjalan, maka Dia akan menyertai perjalanan kita (ada dua pasang jejak kaki). Namun disaat kita sudah tidak kuat lagi untuk  berjalan, maka Dia akan menggendong kita (hanya satu pasang jejak kaki). Bagaimanapun keadaan kita saat ini, selama Yesus masih bersama dengan kita dan kita bersedia untuk beserta dengan Yesus, maka kita pasti akan sampai ke tujuan.
1.      Yesus yang memerintahkan, Yesus yang menjamin kesuksesan
Ada tiga tahapan perhatian yang Yesus berikan kepada para murid-Nya disaat mereka diombang-ambingkan badai, yaitu mengerti, peduli dan empati.
·        Ketika sedang berada di atas bukit, Yesus tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari para murid-Nya, sehingga ketika mereka diombang-ambingkan oleh badai, Yesus mengerti.
·        Yesus tidak hanya mengerti, tetapi Ia juga peduli. Karena Ia tidak membiarkan mereka menghadapi badai sendirian. Dia turun dan menolong mereka.
·        Tidak cukup sampai disitu, Yesus juga bersedia berada di tengah badai bersama dengan para murid-Nya. Itulah empati.
Perjalanan Petrus menuju sukses saat berjalan di atas air juga bukannya tanpa hambatan. Setidaknya ada 3 hambatan yang harus dihadapi oleh Petrus, yaitu
·        Keadaan badai yang masih bergelora dengan dasyat.
·        Keterbatasan diri. Bagaimanapun juga Petrus adalah manusia yang menyadari bahwa berjalan di atas air tanpa tenggelam merupakan suatu hal yang mustahil sebab itu bertentangan dengan hukum gravitasi.
·        Tidak ada dukungan. Ia satu-satunya orang yang harus melakukannya, sementara kesebelas temannya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya melihat dan diam seribu bahasa
Meskipun demikian, Petrus tidak mau dibatasi oleh berbagai hambatan tersebut.
·        Tidak menjadi masalah walaupun keadaan di sekitar Anda seperti apa, yang terpenting adalah Anda bersama dengan Yesus yang sanggup untuk mengubah berbagai keadaaan.
·        Tidak menjadi masalah betapa terbatasnya diri Anda, yang terpenting Anda bersama dengan Yesus yang tidak terbatas.
·        Tidak menjadi masalah jika orang di sekitar Anda tidak mendukung, mereka mungkin saja akan berkata, “Itu mustahil,”. Hal yang terpenting adalah Anda selalu bersama dengan Yesus yang berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”.
Tidaklah mudah untuk meraih kesuksesan hidup yang melampaui badai. Dibutuhkan perjuangan karena banyaknya hambatan dan rintangan. Meskipun demikian, kejarlah itu! Karena Yesus telah merancangkan Anda untuk sampai ke sana.
2.      Yesus yang memerintahkan, Yesus yang siap menolong.
Kita semua tahu apa yang dialami oleh Petrus, ia berhasil berjalan di atas air. Namun baru saja ia sukses besar berjalan di atas air, tak lama kemudian ia mulai tenggelam. Jika hal seperti itu juga yang Anda alami, apa yang harus Anda lakukan? Berikut langkah-langkah yang dilakukan Petrus untuk bangkit kembali :
·        Jangan terlambat untuk meminta tolong kepada Yesus
Hal yang sangat Anda butuhkan adalah kepekaan untuk melihat tanda bahwa Anda “mulai tenggelam”. Tanda bahwa Petrus mulai tenggelam bisa menjadi acuan bagi Anda saat mulai tenggelam yaitu saat Petrus mulai tidak berpusat pada Yesus, saat Petrus mulai mengalami ketakutan, saat Petrus mulai kehilangan keyakinan. Kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari ketiga hal tersebut :
ü  Saat tujuan hidup Anda mulai bergeser dari Tuhan, itu merupakan tanda bahwa Anda mulai tenggelam. Anda harus mulai berseru kepada Tuhan.
ü  Saat ketakutan akan keadaan sekitar menghampiri Anda, itu juga merupakan tanda bahwa Anda mulai tenggelam. Anda juga harus mulai berseru kepada Tuhan
ü  Saat kebimbangan mulai menyelinap masuk dan menggeser iman Anda, itu pun tanda bahwa Anda sudah mulai tenggelam. Anda sudah harus mulai berseru kepada Tuhan.
·        Andalkan Tuhan, bukan manusia
Selain Petrus, ada berapa orang di danau tersebut? Ada 12 orang, 11 murid dan ditambah dengan Yesus. Kepada siapa Petrus berteriak minta tolong? Kepada Yesus! Bukan kepada teman-temannya. Meminta tolong kepada manusia boleh-boleh saja asal Anda tidak menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Prioritas meminta tolong adalah kepada Tuhan. Saat mengandalkan pertolongan manusia, Anda akan sangat kecewa. Andalkanlah Tuhan karena : “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23 : 19).
·        Dia tidak akan membiarkan Anda tenggelam
Ketika Petrus berjalan di atas air, apakah Yesus tahu jika nanti Petrus mulai tenggelam? Tahu! Jika Yesus tahu, mengapa Ia memerintahkan Petrus untuk berjalan di atas air? Karena mengetahuinya, Yesus juga yang siap menolong. Yesus tahu kalau Petrus mulai tenggelam, tapi Yesus jugalah yang tidak membiarkan Petrus tenggelam

3.      Yesus yang memerintahkan, Yesus yang meredakan badai
Pada bagian terakhir ini, penulis ingin memberikan ringkasan berkat yang pasti Anda dapatkan jika Anda menghadapi “badai” bersama dengan Yesus.

  • Bersama dengan Yesus tidak menjamin kehidupan Anda bebas dari “badai”, tetapi bersama Yesus menjamin kehidupan Anda melampaui “badai”. Inilah berkat pertama 
  • Bersama dengan Yesus tidak menjamin kehidupan Anda tanpa kegagalan, tetapi bersama Yesus menjamin kehidupan Anda pasti sampai ke tujuan. Inilah berkat kedua 
  • Bersama dengan Yesus tidak menjamin bahwa “badai” akan segera berhenti, tetapi bersama Yesus ada jaminan sehingga akhirnya “badai” pasti berhenti. Inilah berkat ketiga. 
  • Bersama dengan Yesus menjamin Anda mengenal Dia lebih dalam dan hidup menjadi sangat bermakna. Inilah berkat keempat.


Saya tidak berkata, “Bersama dengan Yesus tidak ada badai,” yang saya katakan adalah, “Bersama dengan Yesus maka badai pun tenanglah.”

Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'




Pdt. Sukamal B Fadelan

Jumat, 21 Maret 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 4)

Melanjutkan kembali beberapa artikel saya sebelumnya, dengan artikel terakhir berjudul Berjalan di Atas Badai (Part 3), pada bagian ini kita akan mengupas kembali bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Mari kita kupas bersama-sama.

Bab III : Bertindak Melampaui Badai

Ketika Petrus meminta kepada Tuhan Yesus untuk bisa berjalan di atas air, apakah permintaan tersebut dikabulkan? Ya benar, permintaannya dikabulkan. Sekalipun permintaan Petrus dikabulkan, apakah secara otomatis Petrus langsung berjalan di atas air? Tidak!. Permintaannya untuk berjalan di atas air memang dikabulkan, namun untuk merealisasikan permintaannya tersebut diperlukan tindakan nyata dari Petrus sendiri, Petrus pun kemudian melangkahkan kakinya. Ia tidak pernah berpikir apakah ia bisa berjalan di atas air ataupun tidak. Ia hanya berpikir bahwa ia harus melangkah karena itu yang harus ia lakukan. Kemudian mukjizat pun terjadi, Petrus "berjalan di atas badai".

Doa kita mungkin sebenarnya sudah dikabulkan oleh Tuhan, tetapi realisasi dari apa yang kita doakan sedang menantikan tindakan nyata dari kita sendiri. Allah ingin bekerja sama dengan kita. Kerjakan bagian kita dengan baik, dan Allah akan mengerjakan bagian-Nya. Oleh karena itu, beranilah "bertindak melampaui badai". Jangan pernah terikat dengan pemikiran apakah saya bisa atau tidak. Nah, ada empat hal yang harus kita lakukan untuk bertindak melampaui badai yaitu :

  1. Beranilah Memulai Sesuatu yang Baru
    Kalau Petrus ingin mengalami "berjalan di atas badai", ia tentu tidak bisa hanya diam saja dan tetap berada di atas perahu. Ia harus berani melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dengan cara yang juga berbeda, yaitu berjalan keluar dari perahunya. Memang benar bahwa berada di dalam perahu tentu akan lebih aman dan nyaman dibandingkan berada di luar perahu, apalagi saat ada badai. Namun perahu itu justru membatasi Petrus untuk mengalami peristiwa yang luar biasa.

    Keadaan nyaman yang sudah kita alami saat ini sering menjadi batasan yang menghalangi kita untuk bisa mengalami berbagai terobosan. Keluarlah dari "zona nyaman" dan mulailah di zona yang baru. Melakukan sesuatu yang baru dan berbeda sering membuat kita merasa tidak nyaman. Namun, jika kita ingin mengalami pembaruan, maka kita harus berani untuk melakukan sesuatu yang baru dan berbeda, serta memiliki pola pikir yang baru, yaitu pola pikir yang berbeda dari biasanya.
  2. Beranilah Bertindak Sekalipun Beresiko
    Resiko apakah yang mungkin terjadi jika Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air? Resiko yang sangat jelas adalah Petrus akan tenggelam. Apakah Petrus mengetahui resiko ini? Tahu. Namun, apakah ia mengurungkan niatnya? Tidak.

    Jika keluar dari perahu tentu ada resiko yang mungkin terjadi, jadi apakah jika kita tetap berada di dalam perahu tidak akan mengalami resiko? Perahu bisa saja diterjang badai dan lalu tenggelam, itu artinya bahwa tetap di dalam perahu pun masih memiliki resiko, semua ada resikonya, itulah kehidupan. Permasalahan hidup ini bukan ada resiko atau tidak, melainkan resiko yang mana yang sebaiknya kita ambil. Ada empat hal yang dapat kita pelajari dari Petrus. Kapan kita harus berani mengambil resiko?
    • Beranilah mengambil resiko jika itu adalah impian Anda
    • Beranilah mengambil resiko jika Tuhan yang memerintahkannya
    • Beranilah mengambil resiko jika hal itu untuk kemuliaan Tuhan
    • Beranilah mengambil resiko jika hal itu sebanding dengan harga yang harus Anda bayar
  3. Tetaplah Berfokus Kepada Tuhan
    Petrus sudah memulai dengan baik, ia bisa berjalan di atas badai, Namun di tengah perjalanan, ia mulai tenggelam. Petrus mulai tenggelam ketika ia mulai merasakan tiupan angin. Akibatnya, terpaan angin yang keras membuat ia takut, dan ketakutannya membuat ia bimbang, dan hasilnya ia mulai tenggelam dan mukjizat pun berhenti. Hal yang berbeda ketika Petrus berfokus pada Yesus, tiupan angin tidak dirasakannya, tidak membuat ia takut dan bimbang. Ia melangkah dengan kepastian dan mukjizat pun terjadi. Kuncinya adalah terletak pada Fokus.
  4. Janganlah Bimbang, Percaya Saja
    Bukan tiupan angin ataupun badai yang membuat Petrus tenggelam, melainkan ketakutan dan kebimbangannya. Ketika Petrus khawatir dan takut, imannya menjadi lemah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegurnya, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?". Hal yang menarik disini adalah Tuhan Yesus tidak menegur Petrus karena permintaan ataupun keinginannya, tetapi menegur ketidakpercayaannya. Silakan Anda meminta hal-hal yang mustahil kepada Tuhan dan milikilah impian yang besar, namun yang terpenting adalah Anda harus percaya maka Anda akan mengalami pengalaman hidup yang luar biasa bersama Yesus.
Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'

Pdt. Sukamal B. Fadelan

Rabu, 19 Maret 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 3)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 2), pada bagian ini kita akan melanjutkan bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Yuk kita lihat bersama-sama.

Bab II : Permintaan Melampaui Badai

Ada dua belas orang yang berada di dalam perahu, tapi hanya Petrus yang berjalan di atas air. Mengapa? Salah satu yang membedakan Petrus dengan yang lain adalah keberanian untuk meminta perkara yang besar. Bagaimana dengan  yang lain? Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali berteriak dengan ketakutan. Patut untuk kita renungkan, daripada berteriak ketakutan, bukankah lebih baik berteriak kepada Tuhan dalam doa supaya dapat hidup melampaui badai. Apa yang membuat Petrus keluar dari perahu dan berjalan di atas air? jawabannya adalah perkataan Tuhan Yesus, "Datanglah!" Apa yang membuat Tuhan Yesus berkata seperti itu? Permintaan Petrus, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Inilah hukum yang ditetapkan Tuhan, Tuhan memberikan kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Bagaimana seharusnya kita berdoa saat menghadapi "badai"? Ada tiga jenis doa yang seringkali dipanjatkan saat menghadapi "badai" kehidupan.
  1. Tuhan, Janganlah Membawa Kami ke Dalam Badai
    Jenis doa pertama yang sering kita panjatkan adalah, "Tuhan, janganlah membawa kami ke dalam badai." Kita boleh dan bahkan harus berdoa seperti itu karena Tuhan Yesus mengajarkan doa tersebut. Namun ada tiga hal yang juga harus kita ketahui yaitu, keuntungan, kerugian, dan juga hal yang seharusnya.
    • Keuntungan : Kita tidak mengalami badai
    • Kerugian : Kita akan tetap menjadi pribadi yang lemah
    • Hal yang seharusnya : Kita tidak seharusnya terus berdoa seperti itu
  2. Tuhan, Hentikanlah Badai Ini
    Setiap kali mengijinkan "badai" terjadi dalam kehidupan kita, Allah selalu mempunyai tujuan yang jauh lebih besar daripada "badai" itu sendiri, bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan harga yang harus kita bayar saat menghadapinya. Jadi, Allah tidak akan menghentikan "badai" sebelum tujuan-Nya tercapai. Jika kita memaksa Dia untuk menghentikan "badai", maka kita tidak akan sampai pada tujuan. Dan jika kita tidak sampai pada tujuan, apa artinya hidup ini?. Sekali lagi, kita boleh berdoa, "Tuhan, hentikanlah badai ini." Namun jika doa kita terus seperti itu , hal ini mencerminkan bahwa kita bersedia menghadapi "badai" namun tidak siap untuk mengatasinya.
  3. Tuhan, Berikanlah Kami Hikmat dan Kekuatan untuk Mengatasi Badai Ini
    Bukanlah doa supaya tidak ada beban, melainkan berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk mengangkat beban. Bukan berdoa supaya beban dikurangi, melainkan berdoalah supaya kekuatan kita ditambah. Bukan berdoa untuk menghilangkan masalah, melainkan berdoalah supaya dapat mengubah masalah. Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai" jika kita selalu meminta supaya tidak mengalami "badai". Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai", jika setiap kali ada "badai" tapi kita selalu meminta Tuhan untuk menghentikannya. Kehidupan melampaui "badai" dimungkinkan jika kita berani menghadapi "badai" dan senantiasa meminta hikmat serta kekuatan untuk mengatasinya.

Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'











Pdt. Sukamal B. Fadelan

Senin, 24 Februari 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 2)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 1), pada bagian ini kita akan masuk ke bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Mari kita lihat bersama-sama.

Bab I : Menggandeng Sang Badai

Ada 3 macam sikap manusia dalam menghadapi setiap "badai" dalam kehidupannya, antara lain :
  1. Lari menjauh untuk menghindari "badai".
  2. "Tenggelam" di dalam "badai".
  3. Terjun menghadapi "badai", lalu berusaha mengatasinya dan akhirnya menang.
Hanya orang yang terlatih dan siap yang mampu menghadapi dan mengatasi "badai". Hal pertama yang harus diperhatikan adalah cara kita dalam memandang "badai". Pada bagian ini, kita belajar untuk memandang suatu masalah dari sisi positifnya. Dengan melihat sisi positif dari setiap masalah yang menghadang, maka kita akan menjadi tidak takut terhadap masalah yang muncul, tidak menolak "badai", sebaliknya justru menjadi orang yang "menggandeng badai". Lalu akan muncul pertanyaan,"Mengapa kita harus menggandeng sang badai?"
  • Semua kapal pasti menghadapi badai
 Para murid Yesus merupakan orang-orang yang spesial, karena mereka mendapatkan pengajaran khusus yang tidak diterima oleh semua orang Israel pada saat itu. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, karena melalui merekalah Injil tersebar ke seluruh dunia. Meski demikian, mereka juga menghadapi "badai" yang sama dengan orang lain. Setiap kapal menghadapi badai, setiap orang menghadapi masalahnya masing-masing.
  • Anda adalah seorang Nahkoda saat kapal menghadapi badai
Badai boleh bergelora, lautan luar boleh membentang di hadapan Anda, orang-orang di sekitar boleh saja tidak sepikir dengan Anda, tetapi itu semua tidak boleh menghalangi Anda untuk hidup dengan gemilang, hidup yang "berjalan di atas badai" dan hidup yang "melampaui badai". Anda adalah orang yang mengendalikan hidup Anda sendiri, Anda yang menentukan masa depan Anda, dan Andalah yang menentukan hasil yang akan Anda peroleh, bukan orang-orang lain di sekitar Anda.
  • Di dalam Bahaya, ada Bahagia
"Sesudah itu, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang" (Matius 14 : 22).

Pertanyaannya : "Siapa yang memerintahkan mereka ke seberang?". Tuhan Yesus! Apakah mereka taat? Ya, mereka taat! Lalu apa yang mereka alami? Mereka harus menghadapi badai yang mengombang-ambingkan perahu mereka. Mengapa demikian, padahal mereka sudah taat kepada perintah Tuhan? Hal ini membuktikan bahwa sekalipun kita taat kepada Tuhan, bukan berarti bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Taat atau tidak, Anda tetap akan menghadapi "badai".

Namun disini penulis ingin menjelaskan bahwa Anda harus tetap taat. Mengapa? Karena buah ketaatan adalah upah, sedangkan buah ketidaktaatan adalah hukuman. Diluar semua penyebab "badai" yang Anda alami, pasti tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa sepengetahuan dan seiizin Allah. Saat Allah mengijinkan "badai" terjadi, ada satu hal yang pasti, Semuanya itu mendatangkan kebaikan bagi Anda. Allah pasti mendatangkan bahagia dalam bahaya.
  • Tidak ada badai yang abadi
".....dan anginpun redalah," Inilah salah satu sifat dari "badai" kehidupan.

Dua hal penting yang harus kita pahami adalah hal yang pasti dan hal yang tidak pasti dari suatu masalah. Hal yang tidak pasti adalah bentuknya, sedangkan hal yang pasti adalah sifatnya. Masalah bisa datang dalam berbagai bentuk atau wujud, tetapi masalah selalu datang dengan sifat yang pasti.

Ada empat sifat dari masalah yang perlu kita ketahui yaitu :
  1. Semua masalah memiliki sifat yang Tidak Luar Biasa
  2. Semua masalah bersifat Tidak Melebihi Kekuatan Kita
  3. Semua masalah memiliki sifat Tidak Sempurna
  4. Semua masalah bersifat Tidak Abadi
Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'










Pdt. Sukamal B. Fadelan