Sebagai
orang kristen kita seringkali bersaksi tentang kebaikan dan pertolongan
Tuhan di dalam kehidupan kita, kita bisa bersaksi bahwa Tuhan telah menyelamatkan hidup kita dari bencana, bersaksi bahwa Tuhan memberkati kehidupan ekonomi kita, dan juga bersaksi tentang segala hal yang Tuhan perbuat dalam kehidupan kita. Kita bisa saja merangkai kata-kata yang
bagus dalam menyampaikan kesaksian kita, tapi tahukah kita bahwa sikap
hidup dan tindakan kita bisa lebih "berbicara" sebagai kesaksian tentang
kebaikan Tuhan dibandingkan dengan hanya sekedar untaian kata-kata yang
manis.
Tujuan dari sebuah kesaksian adalah menyatakan kebaikan atau pertolongan Tuhan dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar agar mereka yang mendengar, baik itu yang sudah percaya maupun yang belum mengenal Yesus bisa mengalami pertumbuhan iman dan percaya akan kuasa Tuhan yang masih terus terjadi pada masa sekarang ini. Namun yang terpenting dari sebuah kesaksian adalah "bukti nyata" yang tampak dalam kehidupan kita. Adalah aneh jika kita bersaksi bahwa hidup kita telah diselamatkan dan kita telah mengalami pemulihan, namun dalam kesehariannya hidup kita masih jauh dari kata benar. Orang-orang disekitar kita akan lebih percaya dengan "kondisi yang sesungguhnya terjadi" dibandingkan dengan kata-kata kesaksian kita yang begitu manis. Oleh karena itu, mari kita buat sikap hidup yang mencerminkan Roh Kudus tinggal di dalam hati kita, agar dunia tahu bahwa orang yang percaya kepada Yesus memiliki sikap hidup yang menjadi terang bagi sekitarnya.
Matius
5:16, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya
mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga."
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Desember 2014
Rabu, 14 Mei 2014
Taat Perpuluhan Adalah Kunci Menuju Hidup Yang Semakin Diberkati Tuhan
Shalom sobat semua, pada kesempatan ini saya ingin bersaksi tentang kebaikan Tuhan dalam kehidupan saya, dan bagaimana Ia selalu menepati semua janji yang pernah disampaikan-Nya, dalam hal ini terutama tentang janji berkat bagi anak-anaknya yang setia memberikan perpuluhan. Maleakhi 3 : 10, "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN
semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan".
Saya ingin berbagi pengalaman saya tentang perpuluhan ini dan baru saja terjadi minggu tanggal 11 Mei 2014 kemarin. Karena saya adalah pengusaha dan bukan karyawan yang gajian tiap bulan, maka saya lebih suka memberikan perpuluhan setiap minggu supaya tidak terlalu berat jika langsung satu bulan sekaligus. Puji Tuhan selama tahun 2014 ini saya belum pernah bolong dalam memberikan perpuluhan, dan Tuhan pun menjawab dengan memberkati usaha saya dengan sangat luar biasa karena sejak januari kemarin hingga april selalu meningkat dan selalu membukukan rekor baru dalam hal keuntungan usaha.
Nah, ceritanya minggu kemarin, televisi yang saya gunakan untuk memantau CCTV rusak dan sepertinya sudah minta diganti dengan yang baru (layar mengecil dan mati sendiri), dan istri sudah mengeluh meminta tambahan laptop baru untuk mendukung pekerjaan, dan saya baru kepingin punya home teater baru untuk hiburan di kamar, pokoknya keinginan dan kebutuhannya baru banyak, dan dari hari sabtu si iblis sudah bekerja dengan hebatnya untuk menggoda saya agar tidak perlu membayar perpuluhan, agar uangnya yang buat perpuluhan bisa dipakai buat beli kebutuhan dan keinginan diatas. Jujur saja, Tuhan memberkati saya dan keluarga dengan sangat melimpah sehingga perpuluhan saja bisa saya gunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan diatas. Biasanya pada minggu-minggu sebelumnya, saya bisa memberikan perpuluhan dengan ikhlas dan hati yang bersuka cita, namun pada minggu ini, jujur harus saya akui terasa begitu berat. Sepanjang hari sabtu hingga minggu pagi saya terus bergumul antara menuruti keinginan pribadi saya atau menaati perintah Tuhan.
Pada hari minggu pagi, saya dan keluarga beribadah di GBI Aletheia Yogyakarta dengan mengambil jam ibadah pukul 08.15 WIB, dan dengan bulat hati saya menguatkan iman bahwa saya harus belajar taat pada perintah Tuhan. Akhirnya uang yang sudah saya persiapkan, saya masukkan ke dalam amplop persembahan perpuluhan dan sebelum saya masukkan ke dalam kotak persembahan, saya berkata kepada Tuhan, "Saya ikhlas ya Tuhan, saya percaya uang ini akan lebih bermanfaat di gereja daripada buat keinginan pribadi saya, Amin". Plooong...itulah perasaaan yang saya alami, dan saya tidak pernah berharap Tuhan tiba-tiba memberkati saya sehingga saya bisa mendapatkan uang itu kembali segera.
Hari senin, tanggal 12 Mei 2014, kami mulai bekerja seperti biasa dengan membuka toko dan melayani pembeli. Tidak pernah saya duga jika hari itu juga Tuhan langsung memberkati saya dengan begitu luar biasa. Toko begitu ramai, dan ada sepasang suami istri yang datang membeli 34 lembar kasur busa tanpa nego ribet (padahal biasanya beli 1 lembar aja negonya terkadang sampe bikin pusing kepala hehehe...), dan keuntungan total penjualan di hari itu mencapai 3 kali lipat dari hari biasanya, dan juga lebih dari 3 kali lipat dari jumlah perpuluhan yang saya berikan minggu kemarin, wooww...dan itu merupakan rekor tertinggi keuntungan saya dalam satu hari selama saya berdagang. dan yang lebih menggembirakan lagi adalah ternyata TV saya yang rusak tiba-tiba normal kembali seolah-olah tidak pernah mengalami kerusakan, alhasil saya pun tidak perlu membeli TV baru. Puji Tuhan...:D. Saya hanya ingin berkata, jika kita taat dan setia maka Ia pun akan selalu menepati janji-Nya untuk memberkati kita dengan luar biasa. Amin..
Saya ingin berbagi pengalaman saya tentang perpuluhan ini dan baru saja terjadi minggu tanggal 11 Mei 2014 kemarin. Karena saya adalah pengusaha dan bukan karyawan yang gajian tiap bulan, maka saya lebih suka memberikan perpuluhan setiap minggu supaya tidak terlalu berat jika langsung satu bulan sekaligus. Puji Tuhan selama tahun 2014 ini saya belum pernah bolong dalam memberikan perpuluhan, dan Tuhan pun menjawab dengan memberkati usaha saya dengan sangat luar biasa karena sejak januari kemarin hingga april selalu meningkat dan selalu membukukan rekor baru dalam hal keuntungan usaha.
Nah, ceritanya minggu kemarin, televisi yang saya gunakan untuk memantau CCTV rusak dan sepertinya sudah minta diganti dengan yang baru (layar mengecil dan mati sendiri), dan istri sudah mengeluh meminta tambahan laptop baru untuk mendukung pekerjaan, dan saya baru kepingin punya home teater baru untuk hiburan di kamar, pokoknya keinginan dan kebutuhannya baru banyak, dan dari hari sabtu si iblis sudah bekerja dengan hebatnya untuk menggoda saya agar tidak perlu membayar perpuluhan, agar uangnya yang buat perpuluhan bisa dipakai buat beli kebutuhan dan keinginan diatas. Jujur saja, Tuhan memberkati saya dan keluarga dengan sangat melimpah sehingga perpuluhan saja bisa saya gunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan diatas. Biasanya pada minggu-minggu sebelumnya, saya bisa memberikan perpuluhan dengan ikhlas dan hati yang bersuka cita, namun pada minggu ini, jujur harus saya akui terasa begitu berat. Sepanjang hari sabtu hingga minggu pagi saya terus bergumul antara menuruti keinginan pribadi saya atau menaati perintah Tuhan.
Pada hari minggu pagi, saya dan keluarga beribadah di GBI Aletheia Yogyakarta dengan mengambil jam ibadah pukul 08.15 WIB, dan dengan bulat hati saya menguatkan iman bahwa saya harus belajar taat pada perintah Tuhan. Akhirnya uang yang sudah saya persiapkan, saya masukkan ke dalam amplop persembahan perpuluhan dan sebelum saya masukkan ke dalam kotak persembahan, saya berkata kepada Tuhan, "Saya ikhlas ya Tuhan, saya percaya uang ini akan lebih bermanfaat di gereja daripada buat keinginan pribadi saya, Amin". Plooong...itulah perasaaan yang saya alami, dan saya tidak pernah berharap Tuhan tiba-tiba memberkati saya sehingga saya bisa mendapatkan uang itu kembali segera.
Hari senin, tanggal 12 Mei 2014, kami mulai bekerja seperti biasa dengan membuka toko dan melayani pembeli. Tidak pernah saya duga jika hari itu juga Tuhan langsung memberkati saya dengan begitu luar biasa. Toko begitu ramai, dan ada sepasang suami istri yang datang membeli 34 lembar kasur busa tanpa nego ribet (padahal biasanya beli 1 lembar aja negonya terkadang sampe bikin pusing kepala hehehe...), dan keuntungan total penjualan di hari itu mencapai 3 kali lipat dari hari biasanya, dan juga lebih dari 3 kali lipat dari jumlah perpuluhan yang saya berikan minggu kemarin, wooww...dan itu merupakan rekor tertinggi keuntungan saya dalam satu hari selama saya berdagang. dan yang lebih menggembirakan lagi adalah ternyata TV saya yang rusak tiba-tiba normal kembali seolah-olah tidak pernah mengalami kerusakan, alhasil saya pun tidak perlu membeli TV baru. Puji Tuhan...:D. Saya hanya ingin berkata, jika kita taat dan setia maka Ia pun akan selalu menepati janji-Nya untuk memberkati kita dengan luar biasa. Amin..
Sabtu, 01 Maret 2014
Bersabarlah dengan Waktunya Tuhan
Seorang hamba Tuhan asal Surabaya, mengalami peristiwa unik dan akhirnya menceritakan kesaksian seorang ibu penjual tempe. Kisah ini nyata terjadi di sebuah desa di daerah Jawa Tengah. Ada seorang ibu, kira-kira berumur setengah baya, ia setiap harinya berjualan tempe di pasar desanya. Pada suatu hari, saat ia hendak pergi ke pasar untuk menjual tempe, ia sangat terkejut karena ternyata tempe yang hendak ia jual masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi. Ibu ini sangat terpukul, karena jika tempe tersebut tidak jadi maka ia tidak bisa menjualnya dan juga berarti tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku untuk dijual. Ia sangat sedih karena menjual tempe adalah mata pencaharian satu-satunya dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.
Dengan kondisi hati yang sedih, si ibu akhirnya berdoa kepada Tuhan. Si ibu memang tergolong aktif beribadah ke gereja, dan saat itu terngiang di telinganya firman Tuhan tentang kuasa Tuhan yang sanggup melakukan berbagai perkara-perkara yang ajaib, dan segala sesuatu bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kemudian dengan harap-harap cemas, si ibu mulai berdoa dengan menumpangkan tangannya pada tempe dagangannya tersebut, "Bapa di dalam Sorga, aku mohon kepada-Mu agar kiranya kedele ini bisa segera menjadi tempe, dalam nama Tuhan Yesus, Amin". Demikianlah kira-kira ia berdoa kepada Tuhan. Dengan hari deg-degan, ia mulai membuka sedikit demi sedikit bungkusan tempenya dan berharap bahwa mujizat benar-benar terjadi.
Namun apa yang terjadi? Dengan kecewa, si ibu harus menerima kenyataan bahwa kedelainya belum menjadi tempe alias masih mentah. Sementara itu, matahari terus naik dan hari semakin siang dimana pasar tentunya akan makin ramai. Si ibu walau dengan perasaan sedikit kecewa atas doanya yang belum terkabul tetap pergi ke pasar membawa tempe dagangannya yang belum jadi tersebut. Dalam hati kecilnya masih berharap bahwa mujizat akan terjadi di tengah perjalanan menuju pasar. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk berdoa dan menumpangkan tangan sekali lagi. "Bapa, aku percaya Engkau akan mengabulkan doa anak-Mu ini. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mujizat buatku. dalam nama Tuhan Yesus, Amin." Kemudian iapun segera berangkat.
Sesampainya di pasar, seperti biasa ia segera mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Sekarang ia yakin bahwa kedelainya sekarang pasti sudah jadi tempe. Lalu iapun membuka keranjangnya perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata..........seperti yang sudah kita duga, tempenya benar-benar .......... belum jadi ! Si Ibu menelan ludahnya dan menarik napas dalam-dalam. hatinya mulai kecewa pada Tuhan karena merasa doanya tidak dikabulkan. Ia marah karena merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya padahal ia menggantungkan hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Seharian itu, ia hanya duduk saja tanpa menggelar tempe dagangannya karena ia tahu bahwa tidak mungkin ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Hari mulai beranjak sore dan pasar sudah mulai sepi ditinggal pembeli. Melihat ke kiri dan ke kanan, ia melihat teman-teman seprofesinya yang sama-sama menjual tempe sudah hampir habis dan siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Hatinya betul-betul kecewa, sambil termenung ia membayangkan bahwa hari ini ia tidak mendapatkan keuntungan dari menjual tempe tapi justru menghadapi kerugian akibat tempenya belum jadi.
Saat ia sudah mulai pasrah dan mulai bersiap-siap untuk beranjak pulang, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapanya, "Permisi bu, mohon maaf, saya mau tanya apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya." Seketika itu juga si ibu tadi terperangah. Ia sungguh kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Tuhan?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula. Dalam nama Yesus, dalam namaYesus, Amin." Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu ragu-ragu untuk menjawab ya kepada wanita itu. "Bagaimana nih?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjijat Tuhan?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan, tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Kemudian? apa yang dilihatnya? Ternyata ? ternyata memang benar tempenya belum jadi! Ia bersorak gembira di dalam hatinya. Puji Tuhan..Puji Tuhan, katanya.
Singkat cerita wanita itu akhirnya memborong semua tempe setengah jadi si Ibu itu. Tapi sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kok ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Dan wanita itu akhirnya mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak yang tinggal di Yogya kepingin banget makan tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya di sana tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya di sana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak.
Kesimpulan dari kisah di atas :
Pertama : Kita terlalu sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada saat kita berdoa, padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan.
Kedua : Tuhan menolong kita dengan cara-Nya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya.
Ketiga : Tiada hal yang mustahil bagi Tuhan
Keempat : Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita sesuai dengan waktu-Nya.
Dengan kondisi hati yang sedih, si ibu akhirnya berdoa kepada Tuhan. Si ibu memang tergolong aktif beribadah ke gereja, dan saat itu terngiang di telinganya firman Tuhan tentang kuasa Tuhan yang sanggup melakukan berbagai perkara-perkara yang ajaib, dan segala sesuatu bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kemudian dengan harap-harap cemas, si ibu mulai berdoa dengan menumpangkan tangannya pada tempe dagangannya tersebut, "Bapa di dalam Sorga, aku mohon kepada-Mu agar kiranya kedele ini bisa segera menjadi tempe, dalam nama Tuhan Yesus, Amin". Demikianlah kira-kira ia berdoa kepada Tuhan. Dengan hari deg-degan, ia mulai membuka sedikit demi sedikit bungkusan tempenya dan berharap bahwa mujizat benar-benar terjadi.
Namun apa yang terjadi? Dengan kecewa, si ibu harus menerima kenyataan bahwa kedelainya belum menjadi tempe alias masih mentah. Sementara itu, matahari terus naik dan hari semakin siang dimana pasar tentunya akan makin ramai. Si ibu walau dengan perasaan sedikit kecewa atas doanya yang belum terkabul tetap pergi ke pasar membawa tempe dagangannya yang belum jadi tersebut. Dalam hati kecilnya masih berharap bahwa mujizat akan terjadi di tengah perjalanan menuju pasar. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk berdoa dan menumpangkan tangan sekali lagi. "Bapa, aku percaya Engkau akan mengabulkan doa anak-Mu ini. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mujizat buatku. dalam nama Tuhan Yesus, Amin." Kemudian iapun segera berangkat.
Sesampainya di pasar, seperti biasa ia segera mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Sekarang ia yakin bahwa kedelainya sekarang pasti sudah jadi tempe. Lalu iapun membuka keranjangnya perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata..........seperti yang sudah kita duga, tempenya benar-benar .......... belum jadi ! Si Ibu menelan ludahnya dan menarik napas dalam-dalam. hatinya mulai kecewa pada Tuhan karena merasa doanya tidak dikabulkan. Ia marah karena merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya padahal ia menggantungkan hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Seharian itu, ia hanya duduk saja tanpa menggelar tempe dagangannya karena ia tahu bahwa tidak mungkin ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Hari mulai beranjak sore dan pasar sudah mulai sepi ditinggal pembeli. Melihat ke kiri dan ke kanan, ia melihat teman-teman seprofesinya yang sama-sama menjual tempe sudah hampir habis dan siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Hatinya betul-betul kecewa, sambil termenung ia membayangkan bahwa hari ini ia tidak mendapatkan keuntungan dari menjual tempe tapi justru menghadapi kerugian akibat tempenya belum jadi.
Saat ia sudah mulai pasrah dan mulai bersiap-siap untuk beranjak pulang, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapanya, "Permisi bu, mohon maaf, saya mau tanya apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya." Seketika itu juga si ibu tadi terperangah. Ia sungguh kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Tuhan?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula. Dalam nama Yesus, dalam namaYesus, Amin." Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu ragu-ragu untuk menjawab ya kepada wanita itu. "Bagaimana nih?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjijat Tuhan?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan, tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Kemudian? apa yang dilihatnya? Ternyata ? ternyata memang benar tempenya belum jadi! Ia bersorak gembira di dalam hatinya. Puji Tuhan..Puji Tuhan, katanya.
Singkat cerita wanita itu akhirnya memborong semua tempe setengah jadi si Ibu itu. Tapi sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kok ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Dan wanita itu akhirnya mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak yang tinggal di Yogya kepingin banget makan tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya di sana tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya di sana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak.
Kesimpulan dari kisah di atas :
Pertama : Kita terlalu sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada saat kita berdoa, padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan.
Kedua : Tuhan menolong kita dengan cara-Nya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya.
Ketiga : Tiada hal yang mustahil bagi Tuhan
Keempat : Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita sesuai dengan waktu-Nya.
Label:
bersabar menantikan waktu tuhan,
kesaksian,
kisah inspiratif kristen,
percaya kepada yesus,
waktu tuhan

Kamis, 21 November 2013
Tuhan Yesus Tidak Pernah Berhutang
Saya ingin menceritakan beberapa kejadian beberapa waktu yang lalu yang sungguh membuat saya takjub. Cerita dimulai pada
tanggal 11 oktober 2013, saya mendapat pengumuman bahwa pada tanggal 14-15 Oktober 2013 sekolah anak saya diliburkan
untuk memperingati hari raya Idul Adha. Saya sungguh senang sekali dan langsung
bilang ke suami dan mengungkapkan keinginan saya untuk berlibur ke sebuah hotel di daerah kaliurang supaya kami
bisa refreshing dan menikmati kenyamanan disana, namun suami saya menolak
dengan alasan sayang uangnya untuk liburan ke hotel. Akan lebih baik dan
bermanfaat bila uang tersebut dipakai untuk yang lain. Saya pun
berpikir, benar juga dan saya pun tidak marah pada suami.
Pada Sabtu pagi 12 Oktober 2013 seperti biasa kami mengantar anak-anak ke sekolah. Setelah itu suami mengajak untuk belanja kebutuhan makanan bagi anak-anak panti asuhan. Siang harinya dia langsung mengantar makanan yang kami belanjakan tersebut itu ke panti asuhan. Kami memang senang berbagi buat mereka karena bagi kami, mereka juga sudah seperti anak-anak kami sendiri. Keajaiban terjadi, di hari Sabtu itu toko kami sangat ramai pembeli. Sampai-sampai toko baru tutup pukul 18.30, padahal biasanya kami tutup paling lama pukul 17.30. Penjualan kami di hari itu, sudah melebihi target harian penjualan, lebih dari 2x lipat. How great You're God. Sungguh Dasyat. Saya tetap heran dengan pekerjaanMu Tuhan...Thanks Jesus
Hari Minggu, seperti biasa kami sekeluarga beribadah di gereja GBI Aletheia dan pulangnya langsung piknik ke Kaliurang karena itu memang tempat favorit saya dan anak-anak karena selain murah juga anak-anak bisa bermain sepeda dengan bebas disana. Tapi sayangnya suami saya tidak begitu suka piknik disana, tapi puji Tuhan dia selalu berusaha menunjukkan bahwa dia ikut menikmati kebersamaan bersama keluarga, meski di tempat yang bukan favoritnya.
Senin, 14 Oktober 2013 sore, tiba-tiba ibu saya menelepon dan mengabarkan bahwa saudaranya dari Semarang yang sedianya mau liburan di Jogja tidak jadi datang karena sedang sakit masuk rumah sakit. Padahal saudaranya itu sudah memesan kamar di hotel Melia Purosani dan sudah lunas dibayar. Ibu meminta supaya kami sekeluarga menginap disana malam itu. Betapa kami surprise mendengar kabar itu. Kami akhirnya dapat liburan di hotel tanpa mengeluarkan biaya serupiahpun. Terutama anak-anak, mereka sangat bahagia menikmati fasilitas hotel. Kami sungguh mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Dia tahu kalau kami ingin liburan di hotel dan Dia memberikannya bahkan dengan kelas kamar yang lebih dari yang kami harapkan. Dia benar-benar tidak mau berhutang kepada kami. Suatu cara yg membuat saya dan suami sangat takjub, sampe mau nangis (lebay ya, tapi bener lho...). Terimakasih Tuhan Yesus...
Hari Selasa. Suami saya mau ke toko Mirota dengan misi untuk membeli celana baru karena sekarang celananya banyak yang kedodoran akibat program dietnya sukses besar. Sampai disana, dia tidak jadi membeli karena lagi-lagi dengan alasan sayang uangnya. Tapi pada malam harinya sepulang dari komsel bersama teman-temannya di Ayam Wong Jowo (sebelah Paparon's Pizza), dia membeli 1 pizza untuk kami sekeluarga dan 2 pizza untuk anak-anak panti asuhan. Malam itu saya bangga kepada suami saya. Beli celana baru untuk dirinya sendiri, dia bilang sayang uangnya. Tp utk memberi kepada anak-anak panti asuhan, dia tidak perlu berpikir panjang. Kalau bukan Tuhan yang memberi hati seperti itu, siapa lagi? Terimakasih Tuhan sudah memberikan suami seperti itu. I love u so much, Dedy...Pada hari Rabu, toko kembali buka. Puji Tuhan, omzet penjualan sprei yang Tuhan berikan luar biasa lagi. Lebih tinggi dari hari Senin yg lalu. Sungguh luar biasa pemeliharaanNya. Itulah yang saya renungkan, sekalipun Tuhan tidak pernah berhutang pada kami.
Amsal 19:17 berkata: Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.Firman Tuhan itu Ya dan Amin. Dia tidak pernah menepati janjiNya.
Mazmur 37:25-26 berkata: Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat. Kiranya catatan saya ini dapat menginspirasi bagi yang membacanya. Jadilah berkat bagi sesama kita. Begitu banyak orang2 di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Membantu tidak perlu menunggu kaya dulu. Saya pun dulu orang miskin, kesulitan ekonomi. Sampai-sampai saya pun pernah yang mengalami kelaparan dan hutang yang menumpuk. Kalau Tuhan sudah memberkati saya sekeluarga dengan melimpah, memulihkan kehidupan kami, Tuhan pun juga pasti bisa memberkati dan memulihkan kehidupanmu. Keajaiban Tuhan , masih terjadi.
Ingatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan hanya 2 peser, 1 duit. Namun Tuhan meninggikannya dengan mengatakan bahwa janda ini memberi lebih banyak daripada semua orang. Mengapa? Karena ia memberi bukan dari kelimpahannya, namun dari kekurangannya, semua yang ada padanya. Note: Kekayaan dan berkat yang Tuhan berikan, tetap boleh untuk kita nikmati. Tapi gunakan semua yang Tuhan beri itu untuk kemuliaan-Nya. Ada 2 lagu yang menginspirasi saya:
- Kalau ku hidup, ku hidup bagiMu
- Berikan ku hati sperti hati Mu, yang penuh dengan belas kasihan
Segala kemuliaan bagi Tuhan. Tuhan memberkati kita semua ^o^
Pada Sabtu pagi 12 Oktober 2013 seperti biasa kami mengantar anak-anak ke sekolah. Setelah itu suami mengajak untuk belanja kebutuhan makanan bagi anak-anak panti asuhan. Siang harinya dia langsung mengantar makanan yang kami belanjakan tersebut itu ke panti asuhan. Kami memang senang berbagi buat mereka karena bagi kami, mereka juga sudah seperti anak-anak kami sendiri. Keajaiban terjadi, di hari Sabtu itu toko kami sangat ramai pembeli. Sampai-sampai toko baru tutup pukul 18.30, padahal biasanya kami tutup paling lama pukul 17.30. Penjualan kami di hari itu, sudah melebihi target harian penjualan, lebih dari 2x lipat. How great You're God. Sungguh Dasyat. Saya tetap heran dengan pekerjaanMu Tuhan...Thanks Jesus
Hari Minggu, seperti biasa kami sekeluarga beribadah di gereja GBI Aletheia dan pulangnya langsung piknik ke Kaliurang karena itu memang tempat favorit saya dan anak-anak karena selain murah juga anak-anak bisa bermain sepeda dengan bebas disana. Tapi sayangnya suami saya tidak begitu suka piknik disana, tapi puji Tuhan dia selalu berusaha menunjukkan bahwa dia ikut menikmati kebersamaan bersama keluarga, meski di tempat yang bukan favoritnya.
Senin, 14 Oktober 2013 sore, tiba-tiba ibu saya menelepon dan mengabarkan bahwa saudaranya dari Semarang yang sedianya mau liburan di Jogja tidak jadi datang karena sedang sakit masuk rumah sakit. Padahal saudaranya itu sudah memesan kamar di hotel Melia Purosani dan sudah lunas dibayar. Ibu meminta supaya kami sekeluarga menginap disana malam itu. Betapa kami surprise mendengar kabar itu. Kami akhirnya dapat liburan di hotel tanpa mengeluarkan biaya serupiahpun. Terutama anak-anak, mereka sangat bahagia menikmati fasilitas hotel. Kami sungguh mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Dia tahu kalau kami ingin liburan di hotel dan Dia memberikannya bahkan dengan kelas kamar yang lebih dari yang kami harapkan. Dia benar-benar tidak mau berhutang kepada kami. Suatu cara yg membuat saya dan suami sangat takjub, sampe mau nangis (lebay ya, tapi bener lho...). Terimakasih Tuhan Yesus...
Hari Selasa. Suami saya mau ke toko Mirota dengan misi untuk membeli celana baru karena sekarang celananya banyak yang kedodoran akibat program dietnya sukses besar. Sampai disana, dia tidak jadi membeli karena lagi-lagi dengan alasan sayang uangnya. Tapi pada malam harinya sepulang dari komsel bersama teman-temannya di Ayam Wong Jowo (sebelah Paparon's Pizza), dia membeli 1 pizza untuk kami sekeluarga dan 2 pizza untuk anak-anak panti asuhan. Malam itu saya bangga kepada suami saya. Beli celana baru untuk dirinya sendiri, dia bilang sayang uangnya. Tp utk memberi kepada anak-anak panti asuhan, dia tidak perlu berpikir panjang. Kalau bukan Tuhan yang memberi hati seperti itu, siapa lagi? Terimakasih Tuhan sudah memberikan suami seperti itu. I love u so much, Dedy...Pada hari Rabu, toko kembali buka. Puji Tuhan, omzet penjualan sprei yang Tuhan berikan luar biasa lagi. Lebih tinggi dari hari Senin yg lalu. Sungguh luar biasa pemeliharaanNya. Itulah yang saya renungkan, sekalipun Tuhan tidak pernah berhutang pada kami.
Amsal 19:17 berkata: Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.Firman Tuhan itu Ya dan Amin. Dia tidak pernah menepati janjiNya.
Mazmur 37:25-26 berkata: Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat. Kiranya catatan saya ini dapat menginspirasi bagi yang membacanya. Jadilah berkat bagi sesama kita. Begitu banyak orang2 di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Membantu tidak perlu menunggu kaya dulu. Saya pun dulu orang miskin, kesulitan ekonomi. Sampai-sampai saya pun pernah yang mengalami kelaparan dan hutang yang menumpuk. Kalau Tuhan sudah memberkati saya sekeluarga dengan melimpah, memulihkan kehidupan kami, Tuhan pun juga pasti bisa memberkati dan memulihkan kehidupanmu. Keajaiban Tuhan , masih terjadi.
Ingatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan hanya 2 peser, 1 duit. Namun Tuhan meninggikannya dengan mengatakan bahwa janda ini memberi lebih banyak daripada semua orang. Mengapa? Karena ia memberi bukan dari kelimpahannya, namun dari kekurangannya, semua yang ada padanya. Note: Kekayaan dan berkat yang Tuhan berikan, tetap boleh untuk kita nikmati. Tapi gunakan semua yang Tuhan beri itu untuk kemuliaan-Nya. Ada 2 lagu yang menginspirasi saya:
- Kalau ku hidup, ku hidup bagiMu
- Berikan ku hati sperti hati Mu, yang penuh dengan belas kasihan
Segala kemuliaan bagi Tuhan. Tuhan memberkati kita semua ^o^
Langganan:
Postingan (Atom)