Tampilkan postingan dengan label pendeta sukamal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendeta sukamal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

Kesimpulan Akhir dari Buku Berjalan di Atas Badai



Setelah menulis artikel tentang buku Berjalan di Atas Badai (Part 1) hingga Berjalan di Atas Badai (Part 5), maka disini penulis ingin membuat suatu kesimpulan ringkas tentang isi buku tersebut. Kisah Petrus berjalan di atas air memiliki kesan yang begitu kuat bagi penulis karena cerita tersebut memberikan gambaran yang sangat nyata tentang kehidupan kita.

  1. Awalnya bahtera kehidupan kita berlayar dengan aman, danau kehidupan pun begitu tenang. 
  2. Namun tiba-tiba sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Badai kehidupan datang menerjang dan mengancam untuk menenggelamkan bahtera kehidupan kita. Keadaan yang nyaman seketika berubah menjadi suatu kepanikan, ketakutan dan kekuatiran.
  3.  Inilah yang selalu dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia datang tepat pada waktunya untuk memberi penghiburan, “Tenaglah, Aku ini, jangan takut!” serta menawarkan pertolongan. 
  4. Ketika kita bersedia merespon, hidup kita menjadi terangkat, mukjizat kita alami dan kitapun berada pada puncak kesuksesan berjalan di atas badai. 
  5. Meskipun demikian, di tengah kesuksesan sekalipun, ternyata kita masih berada pada kemungkinan untuk tenggelam.
  6. Ketika hal itu mulai terjadi, asal kita mau berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus pasti mengulurkan tangan-Nya dan tidak membiarkan kita tenggelam. 
  7. Hasilnya, kita mengalami pemulihan, bangkit kembali dan berjalan di atas badai kembali bersama dengan Yesus. 
  8. Akhir cerita yang membuat orang percaya tetap kuat adalah, lalu kita naik ke perahu dan badai pun reda. 
  9. Ya, badai itu tunduk pada kita.

Awalnya, penulis berpikir bahwa selesai sudah tulisan ini sampai disini karena telah memberikan kesimpulan. Namun, penulis merasa belum puas jika tidak menyampaikan hal berikut. Penelitian yang ada membuktikan bahwa Anda akan mengingat :
10 % dari yang Anda baca
25% dari yang Anda dengar
30% dari yang Anda lihat
50% dari yang Anda lihat dan dengar
70% dari yang Anda katakan saat Anda bicara
90% dari yang Anda katakan dan lakukan

Artinya, jika hanya membaca buku ini, Anda hanya akan mendapatkan manfaat sebesar 10%. Namun jika Anda ingin mendapatkan manfaat hampir 100%, Anda harus bersedia untuk mengatakan atau membagikannya kepada orang lain serta melakukannya. Dengan demikian, Anda tidak hanya menjadi pribadi yang dapat berjalan di atas badai, tetapi Anda juga dapat membantu orang lain berjalan di atas badai.


Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'

Pdt. Sukamal B Fadelan


Rabu, 19 Maret 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 3)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 2), pada bagian ini kita akan melanjutkan bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Yuk kita lihat bersama-sama.

Bab II : Permintaan Melampaui Badai

Ada dua belas orang yang berada di dalam perahu, tapi hanya Petrus yang berjalan di atas air. Mengapa? Salah satu yang membedakan Petrus dengan yang lain adalah keberanian untuk meminta perkara yang besar. Bagaimana dengan  yang lain? Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali berteriak dengan ketakutan. Patut untuk kita renungkan, daripada berteriak ketakutan, bukankah lebih baik berteriak kepada Tuhan dalam doa supaya dapat hidup melampaui badai. Apa yang membuat Petrus keluar dari perahu dan berjalan di atas air? jawabannya adalah perkataan Tuhan Yesus, "Datanglah!" Apa yang membuat Tuhan Yesus berkata seperti itu? Permintaan Petrus, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Inilah hukum yang ditetapkan Tuhan, Tuhan memberikan kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Bagaimana seharusnya kita berdoa saat menghadapi "badai"? Ada tiga jenis doa yang seringkali dipanjatkan saat menghadapi "badai" kehidupan.
  1. Tuhan, Janganlah Membawa Kami ke Dalam Badai
    Jenis doa pertama yang sering kita panjatkan adalah, "Tuhan, janganlah membawa kami ke dalam badai." Kita boleh dan bahkan harus berdoa seperti itu karena Tuhan Yesus mengajarkan doa tersebut. Namun ada tiga hal yang juga harus kita ketahui yaitu, keuntungan, kerugian, dan juga hal yang seharusnya.
    • Keuntungan : Kita tidak mengalami badai
    • Kerugian : Kita akan tetap menjadi pribadi yang lemah
    • Hal yang seharusnya : Kita tidak seharusnya terus berdoa seperti itu
  2. Tuhan, Hentikanlah Badai Ini
    Setiap kali mengijinkan "badai" terjadi dalam kehidupan kita, Allah selalu mempunyai tujuan yang jauh lebih besar daripada "badai" itu sendiri, bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan harga yang harus kita bayar saat menghadapinya. Jadi, Allah tidak akan menghentikan "badai" sebelum tujuan-Nya tercapai. Jika kita memaksa Dia untuk menghentikan "badai", maka kita tidak akan sampai pada tujuan. Dan jika kita tidak sampai pada tujuan, apa artinya hidup ini?. Sekali lagi, kita boleh berdoa, "Tuhan, hentikanlah badai ini." Namun jika doa kita terus seperti itu , hal ini mencerminkan bahwa kita bersedia menghadapi "badai" namun tidak siap untuk mengatasinya.
  3. Tuhan, Berikanlah Kami Hikmat dan Kekuatan untuk Mengatasi Badai Ini
    Bukanlah doa supaya tidak ada beban, melainkan berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk mengangkat beban. Bukan berdoa supaya beban dikurangi, melainkan berdoalah supaya kekuatan kita ditambah. Bukan berdoa untuk menghilangkan masalah, melainkan berdoalah supaya dapat mengubah masalah. Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai" jika kita selalu meminta supaya tidak mengalami "badai". Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai", jika setiap kali ada "badai" tapi kita selalu meminta Tuhan untuk menghentikannya. Kehidupan melampaui "badai" dimungkinkan jika kita berani menghadapi "badai" dan senantiasa meminta hikmat serta kekuatan untuk mengatasinya.

Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'











Pdt. Sukamal B. Fadelan

Senin, 24 Februari 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 2)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 1), pada bagian ini kita akan masuk ke bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Mari kita lihat bersama-sama.

Bab I : Menggandeng Sang Badai

Ada 3 macam sikap manusia dalam menghadapi setiap "badai" dalam kehidupannya, antara lain :
  1. Lari menjauh untuk menghindari "badai".
  2. "Tenggelam" di dalam "badai".
  3. Terjun menghadapi "badai", lalu berusaha mengatasinya dan akhirnya menang.
Hanya orang yang terlatih dan siap yang mampu menghadapi dan mengatasi "badai". Hal pertama yang harus diperhatikan adalah cara kita dalam memandang "badai". Pada bagian ini, kita belajar untuk memandang suatu masalah dari sisi positifnya. Dengan melihat sisi positif dari setiap masalah yang menghadang, maka kita akan menjadi tidak takut terhadap masalah yang muncul, tidak menolak "badai", sebaliknya justru menjadi orang yang "menggandeng badai". Lalu akan muncul pertanyaan,"Mengapa kita harus menggandeng sang badai?"
  • Semua kapal pasti menghadapi badai
 Para murid Yesus merupakan orang-orang yang spesial, karena mereka mendapatkan pengajaran khusus yang tidak diterima oleh semua orang Israel pada saat itu. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, karena melalui merekalah Injil tersebar ke seluruh dunia. Meski demikian, mereka juga menghadapi "badai" yang sama dengan orang lain. Setiap kapal menghadapi badai, setiap orang menghadapi masalahnya masing-masing.
  • Anda adalah seorang Nahkoda saat kapal menghadapi badai
Badai boleh bergelora, lautan luar boleh membentang di hadapan Anda, orang-orang di sekitar boleh saja tidak sepikir dengan Anda, tetapi itu semua tidak boleh menghalangi Anda untuk hidup dengan gemilang, hidup yang "berjalan di atas badai" dan hidup yang "melampaui badai". Anda adalah orang yang mengendalikan hidup Anda sendiri, Anda yang menentukan masa depan Anda, dan Andalah yang menentukan hasil yang akan Anda peroleh, bukan orang-orang lain di sekitar Anda.
  • Di dalam Bahaya, ada Bahagia
"Sesudah itu, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang" (Matius 14 : 22).

Pertanyaannya : "Siapa yang memerintahkan mereka ke seberang?". Tuhan Yesus! Apakah mereka taat? Ya, mereka taat! Lalu apa yang mereka alami? Mereka harus menghadapi badai yang mengombang-ambingkan perahu mereka. Mengapa demikian, padahal mereka sudah taat kepada perintah Tuhan? Hal ini membuktikan bahwa sekalipun kita taat kepada Tuhan, bukan berarti bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Taat atau tidak, Anda tetap akan menghadapi "badai".

Namun disini penulis ingin menjelaskan bahwa Anda harus tetap taat. Mengapa? Karena buah ketaatan adalah upah, sedangkan buah ketidaktaatan adalah hukuman. Diluar semua penyebab "badai" yang Anda alami, pasti tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa sepengetahuan dan seiizin Allah. Saat Allah mengijinkan "badai" terjadi, ada satu hal yang pasti, Semuanya itu mendatangkan kebaikan bagi Anda. Allah pasti mendatangkan bahagia dalam bahaya.
  • Tidak ada badai yang abadi
".....dan anginpun redalah," Inilah salah satu sifat dari "badai" kehidupan.

Dua hal penting yang harus kita pahami adalah hal yang pasti dan hal yang tidak pasti dari suatu masalah. Hal yang tidak pasti adalah bentuknya, sedangkan hal yang pasti adalah sifatnya. Masalah bisa datang dalam berbagai bentuk atau wujud, tetapi masalah selalu datang dengan sifat yang pasti.

Ada empat sifat dari masalah yang perlu kita ketahui yaitu :
  1. Semua masalah memiliki sifat yang Tidak Luar Biasa
  2. Semua masalah bersifat Tidak Melebihi Kekuatan Kita
  3. Semua masalah memiliki sifat Tidak Sempurna
  4. Semua masalah bersifat Tidak Abadi
Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'










Pdt. Sukamal B. Fadelan