Tampilkan postingan dengan label badai kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label badai kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 April 2014

Kisah Inspiratif – Masalah Justru Akan Membuat Kita Menjadi Pribadi Yang Tangguh



Bola itu menggelinding di bawah meja. Si anak lalu berkata kepada ayahnya, “Pa….tolong ambilkan olaku!” pinta si anak. Lalu si ayah berkata, “Ambil sendiri Sayang, kan cuma di bawah meja”. Namun si anak tidak menurut, dan sambil mendekati ayahnya, si anak kemudian berkata, “akut Pa!”. “Lho takut apa?” tanya ayahnya dengan heran.

Sang ayah menjadi heran mengapa anaknya jadi begitu takut untuk mengambil bola yang ada di bawah meja. Ternyata, si anak takut jika kepalanya terbentur meja, karena selama ini orang tuanya terlalu melindunginya, selalu mengembalikan apa saja yang ia butuhkan dan tidak mengijinkan si anak untuk mengalami kesulitan dan mengambil sebuah resiko. Orang tuanya tidak mau mengijinkan si anak untuk menghadapi masalah dan melatihnya untuk menyelesaikan masalahnya. Hasilnya adalah, si anak menjadi takut untuk mengambil bola di bbawah meja. Setelah kejadian tersebut, orang tuanya mulai membiarkan si anak untuk mendapatkan masalah, bahkan justru “menciptakan” masalah bagi si anak.

Dan benar saja, saat mulai berlatih, beberapa kali kepalanya membentur meja dan ia mulai menangis, tetapi itu kemudian melatihnya mengetahui cara mengambil bola di bawah meja tanpa terbentur. Akhirnya, si anak bukan saja tidak takut lagi mengambil bola di bawah meja, melainkan juga bisa mengambil bola tanpa mengalami benturan di kepalanya.

Kenyamanan akan menghasilkan pribadi yang lemah, sedangkan tantangan akan menghasilkan pribadi yang lebih kuat. Keadaan yang sulit akan menghasilkan orang yang ulet. Masalah akan menghasilkan orang yang pantang menyerah. Di bawah ini ada beberapa kisah orang yang sebelumnya bisa dikatakan “tidak dianggap” namun karena meghadapi berbagai tantangan yang keras justru terbentuk menjadi pribadi yang hebat dan tangguh.

Sebut saja ia adalah orang yang dilahirkan dari keluarga besar, anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ia terlahir premature dan mempunyai harapan hidup yang tipis. Saat menginjak usia empat tahun, ia mengalami serangan penyakit radang paru-paru dan demam scarlet yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh. Menurut dokter, ia tidak mungkin dapat berjalan lagi, apalagi harus berlari. Namun semua masalah tersebut justru membuat ia terus berjuang keras dan akhirnya berhasil merebut tiga medali emas dalam olimpiade cabang lari. Ia adalah Wilma Rudolph.

Sebut saja ia adalah orang yang menurut gurunya “terlalu lamban” dan sulit diatur sehingga ibunya harus menarik ia dari sekolah dan mengajarnya sendiri di rumah. Ia sudah melakukan eksperimen sebanyak 2000 kali dan belum berhasil. Namun setiap masalah tersebut membuat ia terus berjuang sehingga berhasil menciptakan sebuah bola lampu dan menghasilkan 1300 penemuan serta disebut sebagai penemu terbesar. Ia adalah Thomas A. Edison.

Sebut saja ia adalah orang yang lumpuh pada usia 39 tahun akibat penyakit polio. Namun “badai” tersebut justru membuat ia terus berjuang sehingga akhirnya ia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat sebanyak empat kali dan menjadi salah satu pemimpin Amerika yang paling dicintai dan berpengaruh. Ia adalah Franklin D. Roosevelt.

Tingkat kehebatan Anda adalah setinggi tantangan yang Anda hadapi. Pergumulan, kesulitan dan kesakitan akan menghasilkan “mutiara” di dalam hidup Anda. Hal yang paling berharga bukanlah apa yang Anda capai, melainkan menjadi siapa Anda dengan pencapaian itu.

Dikutip dari : Buku Berjalan di Atas Badai

Kamis, 03 April 2014

Kesimpulan Akhir dari Buku Berjalan di Atas Badai



Setelah menulis artikel tentang buku Berjalan di Atas Badai (Part 1) hingga Berjalan di Atas Badai (Part 5), maka disini penulis ingin membuat suatu kesimpulan ringkas tentang isi buku tersebut. Kisah Petrus berjalan di atas air memiliki kesan yang begitu kuat bagi penulis karena cerita tersebut memberikan gambaran yang sangat nyata tentang kehidupan kita.

  1. Awalnya bahtera kehidupan kita berlayar dengan aman, danau kehidupan pun begitu tenang. 
  2. Namun tiba-tiba sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Badai kehidupan datang menerjang dan mengancam untuk menenggelamkan bahtera kehidupan kita. Keadaan yang nyaman seketika berubah menjadi suatu kepanikan, ketakutan dan kekuatiran.
  3.  Inilah yang selalu dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia datang tepat pada waktunya untuk memberi penghiburan, “Tenaglah, Aku ini, jangan takut!” serta menawarkan pertolongan. 
  4. Ketika kita bersedia merespon, hidup kita menjadi terangkat, mukjizat kita alami dan kitapun berada pada puncak kesuksesan berjalan di atas badai. 
  5. Meskipun demikian, di tengah kesuksesan sekalipun, ternyata kita masih berada pada kemungkinan untuk tenggelam.
  6. Ketika hal itu mulai terjadi, asal kita mau berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus pasti mengulurkan tangan-Nya dan tidak membiarkan kita tenggelam. 
  7. Hasilnya, kita mengalami pemulihan, bangkit kembali dan berjalan di atas badai kembali bersama dengan Yesus. 
  8. Akhir cerita yang membuat orang percaya tetap kuat adalah, lalu kita naik ke perahu dan badai pun reda. 
  9. Ya, badai itu tunduk pada kita.

Awalnya, penulis berpikir bahwa selesai sudah tulisan ini sampai disini karena telah memberikan kesimpulan. Namun, penulis merasa belum puas jika tidak menyampaikan hal berikut. Penelitian yang ada membuktikan bahwa Anda akan mengingat :
10 % dari yang Anda baca
25% dari yang Anda dengar
30% dari yang Anda lihat
50% dari yang Anda lihat dan dengar
70% dari yang Anda katakan saat Anda bicara
90% dari yang Anda katakan dan lakukan

Artinya, jika hanya membaca buku ini, Anda hanya akan mendapatkan manfaat sebesar 10%. Namun jika Anda ingin mendapatkan manfaat hampir 100%, Anda harus bersedia untuk mengatakan atau membagikannya kepada orang lain serta melakukannya. Dengan demikian, Anda tidak hanya menjadi pribadi yang dapat berjalan di atas badai, tetapi Anda juga dapat membantu orang lain berjalan di atas badai.


Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'

Pdt. Sukamal B Fadelan


Jumat, 21 Maret 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 4)

Melanjutkan kembali beberapa artikel saya sebelumnya, dengan artikel terakhir berjudul Berjalan di Atas Badai (Part 3), pada bagian ini kita akan mengupas kembali bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Mari kita kupas bersama-sama.

Bab III : Bertindak Melampaui Badai

Ketika Petrus meminta kepada Tuhan Yesus untuk bisa berjalan di atas air, apakah permintaan tersebut dikabulkan? Ya benar, permintaannya dikabulkan. Sekalipun permintaan Petrus dikabulkan, apakah secara otomatis Petrus langsung berjalan di atas air? Tidak!. Permintaannya untuk berjalan di atas air memang dikabulkan, namun untuk merealisasikan permintaannya tersebut diperlukan tindakan nyata dari Petrus sendiri, Petrus pun kemudian melangkahkan kakinya. Ia tidak pernah berpikir apakah ia bisa berjalan di atas air ataupun tidak. Ia hanya berpikir bahwa ia harus melangkah karena itu yang harus ia lakukan. Kemudian mukjizat pun terjadi, Petrus "berjalan di atas badai".

Doa kita mungkin sebenarnya sudah dikabulkan oleh Tuhan, tetapi realisasi dari apa yang kita doakan sedang menantikan tindakan nyata dari kita sendiri. Allah ingin bekerja sama dengan kita. Kerjakan bagian kita dengan baik, dan Allah akan mengerjakan bagian-Nya. Oleh karena itu, beranilah "bertindak melampaui badai". Jangan pernah terikat dengan pemikiran apakah saya bisa atau tidak. Nah, ada empat hal yang harus kita lakukan untuk bertindak melampaui badai yaitu :

  1. Beranilah Memulai Sesuatu yang Baru
    Kalau Petrus ingin mengalami "berjalan di atas badai", ia tentu tidak bisa hanya diam saja dan tetap berada di atas perahu. Ia harus berani melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dengan cara yang juga berbeda, yaitu berjalan keluar dari perahunya. Memang benar bahwa berada di dalam perahu tentu akan lebih aman dan nyaman dibandingkan berada di luar perahu, apalagi saat ada badai. Namun perahu itu justru membatasi Petrus untuk mengalami peristiwa yang luar biasa.

    Keadaan nyaman yang sudah kita alami saat ini sering menjadi batasan yang menghalangi kita untuk bisa mengalami berbagai terobosan. Keluarlah dari "zona nyaman" dan mulailah di zona yang baru. Melakukan sesuatu yang baru dan berbeda sering membuat kita merasa tidak nyaman. Namun, jika kita ingin mengalami pembaruan, maka kita harus berani untuk melakukan sesuatu yang baru dan berbeda, serta memiliki pola pikir yang baru, yaitu pola pikir yang berbeda dari biasanya.
  2. Beranilah Bertindak Sekalipun Beresiko
    Resiko apakah yang mungkin terjadi jika Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air? Resiko yang sangat jelas adalah Petrus akan tenggelam. Apakah Petrus mengetahui resiko ini? Tahu. Namun, apakah ia mengurungkan niatnya? Tidak.

    Jika keluar dari perahu tentu ada resiko yang mungkin terjadi, jadi apakah jika kita tetap berada di dalam perahu tidak akan mengalami resiko? Perahu bisa saja diterjang badai dan lalu tenggelam, itu artinya bahwa tetap di dalam perahu pun masih memiliki resiko, semua ada resikonya, itulah kehidupan. Permasalahan hidup ini bukan ada resiko atau tidak, melainkan resiko yang mana yang sebaiknya kita ambil. Ada empat hal yang dapat kita pelajari dari Petrus. Kapan kita harus berani mengambil resiko?
    • Beranilah mengambil resiko jika itu adalah impian Anda
    • Beranilah mengambil resiko jika Tuhan yang memerintahkannya
    • Beranilah mengambil resiko jika hal itu untuk kemuliaan Tuhan
    • Beranilah mengambil resiko jika hal itu sebanding dengan harga yang harus Anda bayar
  3. Tetaplah Berfokus Kepada Tuhan
    Petrus sudah memulai dengan baik, ia bisa berjalan di atas badai, Namun di tengah perjalanan, ia mulai tenggelam. Petrus mulai tenggelam ketika ia mulai merasakan tiupan angin. Akibatnya, terpaan angin yang keras membuat ia takut, dan ketakutannya membuat ia bimbang, dan hasilnya ia mulai tenggelam dan mukjizat pun berhenti. Hal yang berbeda ketika Petrus berfokus pada Yesus, tiupan angin tidak dirasakannya, tidak membuat ia takut dan bimbang. Ia melangkah dengan kepastian dan mukjizat pun terjadi. Kuncinya adalah terletak pada Fokus.
  4. Janganlah Bimbang, Percaya Saja
    Bukan tiupan angin ataupun badai yang membuat Petrus tenggelam, melainkan ketakutan dan kebimbangannya. Ketika Petrus khawatir dan takut, imannya menjadi lemah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegurnya, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?". Hal yang menarik disini adalah Tuhan Yesus tidak menegur Petrus karena permintaan ataupun keinginannya, tetapi menegur ketidakpercayaannya. Silakan Anda meminta hal-hal yang mustahil kepada Tuhan dan milikilah impian yang besar, namun yang terpenting adalah Anda harus percaya maka Anda akan mengalami pengalaman hidup yang luar biasa bersama Yesus.
Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'

Pdt. Sukamal B. Fadelan

Rabu, 19 Maret 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 3)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 2), pada bagian ini kita akan melanjutkan bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Yuk kita lihat bersama-sama.

Bab II : Permintaan Melampaui Badai

Ada dua belas orang yang berada di dalam perahu, tapi hanya Petrus yang berjalan di atas air. Mengapa? Salah satu yang membedakan Petrus dengan yang lain adalah keberanian untuk meminta perkara yang besar. Bagaimana dengan  yang lain? Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali berteriak dengan ketakutan. Patut untuk kita renungkan, daripada berteriak ketakutan, bukankah lebih baik berteriak kepada Tuhan dalam doa supaya dapat hidup melampaui badai. Apa yang membuat Petrus keluar dari perahu dan berjalan di atas air? jawabannya adalah perkataan Tuhan Yesus, "Datanglah!" Apa yang membuat Tuhan Yesus berkata seperti itu? Permintaan Petrus, "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Inilah hukum yang ditetapkan Tuhan, Tuhan memberikan kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Bagaimana seharusnya kita berdoa saat menghadapi "badai"? Ada tiga jenis doa yang seringkali dipanjatkan saat menghadapi "badai" kehidupan.
  1. Tuhan, Janganlah Membawa Kami ke Dalam Badai
    Jenis doa pertama yang sering kita panjatkan adalah, "Tuhan, janganlah membawa kami ke dalam badai." Kita boleh dan bahkan harus berdoa seperti itu karena Tuhan Yesus mengajarkan doa tersebut. Namun ada tiga hal yang juga harus kita ketahui yaitu, keuntungan, kerugian, dan juga hal yang seharusnya.
    • Keuntungan : Kita tidak mengalami badai
    • Kerugian : Kita akan tetap menjadi pribadi yang lemah
    • Hal yang seharusnya : Kita tidak seharusnya terus berdoa seperti itu
  2. Tuhan, Hentikanlah Badai Ini
    Setiap kali mengijinkan "badai" terjadi dalam kehidupan kita, Allah selalu mempunyai tujuan yang jauh lebih besar daripada "badai" itu sendiri, bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan harga yang harus kita bayar saat menghadapinya. Jadi, Allah tidak akan menghentikan "badai" sebelum tujuan-Nya tercapai. Jika kita memaksa Dia untuk menghentikan "badai", maka kita tidak akan sampai pada tujuan. Dan jika kita tidak sampai pada tujuan, apa artinya hidup ini?. Sekali lagi, kita boleh berdoa, "Tuhan, hentikanlah badai ini." Namun jika doa kita terus seperti itu , hal ini mencerminkan bahwa kita bersedia menghadapi "badai" namun tidak siap untuk mengatasinya.
  3. Tuhan, Berikanlah Kami Hikmat dan Kekuatan untuk Mengatasi Badai Ini
    Bukanlah doa supaya tidak ada beban, melainkan berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk mengangkat beban. Bukan berdoa supaya beban dikurangi, melainkan berdoalah supaya kekuatan kita ditambah. Bukan berdoa untuk menghilangkan masalah, melainkan berdoalah supaya dapat mengubah masalah. Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai" jika kita selalu meminta supaya tidak mengalami "badai". Tidak ada kehidupan yang melampaui "badai", jika setiap kali ada "badai" tapi kita selalu meminta Tuhan untuk menghentikannya. Kehidupan melampaui "badai" dimungkinkan jika kita berani menghadapi "badai" dan senantiasa meminta hikmat serta kekuatan untuk mengatasinya.

Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'











Pdt. Sukamal B. Fadelan

Senin, 24 Februari 2014

Berjalan di Atas Badai (Part 2)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya Berjalan di Atas Badai (Part 1), pada bagian ini kita akan masuk ke bagian inti dari buku Berjalan di Atas Badai yang ditulis oleh Pdt. Sukamal B. Fadelan. Mari kita lihat bersama-sama.

Bab I : Menggandeng Sang Badai

Ada 3 macam sikap manusia dalam menghadapi setiap "badai" dalam kehidupannya, antara lain :
  1. Lari menjauh untuk menghindari "badai".
  2. "Tenggelam" di dalam "badai".
  3. Terjun menghadapi "badai", lalu berusaha mengatasinya dan akhirnya menang.
Hanya orang yang terlatih dan siap yang mampu menghadapi dan mengatasi "badai". Hal pertama yang harus diperhatikan adalah cara kita dalam memandang "badai". Pada bagian ini, kita belajar untuk memandang suatu masalah dari sisi positifnya. Dengan melihat sisi positif dari setiap masalah yang menghadang, maka kita akan menjadi tidak takut terhadap masalah yang muncul, tidak menolak "badai", sebaliknya justru menjadi orang yang "menggandeng badai". Lalu akan muncul pertanyaan,"Mengapa kita harus menggandeng sang badai?"
  • Semua kapal pasti menghadapi badai
 Para murid Yesus merupakan orang-orang yang spesial, karena mereka mendapatkan pengajaran khusus yang tidak diterima oleh semua orang Israel pada saat itu. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, karena melalui merekalah Injil tersebar ke seluruh dunia. Meski demikian, mereka juga menghadapi "badai" yang sama dengan orang lain. Setiap kapal menghadapi badai, setiap orang menghadapi masalahnya masing-masing.
  • Anda adalah seorang Nahkoda saat kapal menghadapi badai
Badai boleh bergelora, lautan luar boleh membentang di hadapan Anda, orang-orang di sekitar boleh saja tidak sepikir dengan Anda, tetapi itu semua tidak boleh menghalangi Anda untuk hidup dengan gemilang, hidup yang "berjalan di atas badai" dan hidup yang "melampaui badai". Anda adalah orang yang mengendalikan hidup Anda sendiri, Anda yang menentukan masa depan Anda, dan Andalah yang menentukan hasil yang akan Anda peroleh, bukan orang-orang lain di sekitar Anda.
  • Di dalam Bahaya, ada Bahagia
"Sesudah itu, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang" (Matius 14 : 22).

Pertanyaannya : "Siapa yang memerintahkan mereka ke seberang?". Tuhan Yesus! Apakah mereka taat? Ya, mereka taat! Lalu apa yang mereka alami? Mereka harus menghadapi badai yang mengombang-ambingkan perahu mereka. Mengapa demikian, padahal mereka sudah taat kepada perintah Tuhan? Hal ini membuktikan bahwa sekalipun kita taat kepada Tuhan, bukan berarti bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Taat atau tidak, Anda tetap akan menghadapi "badai".

Namun disini penulis ingin menjelaskan bahwa Anda harus tetap taat. Mengapa? Karena buah ketaatan adalah upah, sedangkan buah ketidaktaatan adalah hukuman. Diluar semua penyebab "badai" yang Anda alami, pasti tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa sepengetahuan dan seiizin Allah. Saat Allah mengijinkan "badai" terjadi, ada satu hal yang pasti, Semuanya itu mendatangkan kebaikan bagi Anda. Allah pasti mendatangkan bahagia dalam bahaya.
  • Tidak ada badai yang abadi
".....dan anginpun redalah," Inilah salah satu sifat dari "badai" kehidupan.

Dua hal penting yang harus kita pahami adalah hal yang pasti dan hal yang tidak pasti dari suatu masalah. Hal yang tidak pasti adalah bentuknya, sedangkan hal yang pasti adalah sifatnya. Masalah bisa datang dalam berbagai bentuk atau wujud, tetapi masalah selalu datang dengan sifat yang pasti.

Ada empat sifat dari masalah yang perlu kita ketahui yaitu :
  1. Semua masalah memiliki sifat yang Tidak Luar Biasa
  2. Semua masalah bersifat Tidak Melebihi Kekuatan Kita
  3. Semua masalah memiliki sifat Tidak Sempurna
  4. Semua masalah bersifat Tidak Abadi
Sumber :
Buku "Berjalan di Atas Badai'










Pdt. Sukamal B. Fadelan

Minggu, 05 Januari 2014

Bersiap Menghadapi Pengalaman Hidup Yang Menakjubkan di Tahun 2014 Bersama Yesus

Shalom sobat semua, ini adalah hari minggu pertama kita di tahun 2014, ayo sudah pada ke gereja belum? :D. Agenda saya hari ini adalah ibadah ke gereja jam 08.15 - 10.00, sepulang dari gereja, saya sekeluarga menikmati liburan kami ke Kaliurang, minum ronde, makan jadah tempe, dll. sampai lupa kalau waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan sudah waktunya untuk pulang. :D. Maaf cuma sekedar intermezzo saja, kembali ke topik judul di atas, hari ini saya ingin membagikan firman Tuhan yang disampaikan oleh Bapak Pendeta Abraham (Kalimantan) yang diundang secara khusus untuk menyampaikan firman Tuhan kepada jemaat di GBI Aletheia Yogyakarta. Berhubung tadi berangkat ke gereja agak terburu-buru dan saya kelupaan membawa pena maka saya coba membagikannya dengan sedikit keterbatasan ingatan saya saja ya.

Firman yang disampaikan oleh Bpk. Pdt. Abraham menurut saya sangat bagus sekali, terutama pada saat ini dimana kita baru saja memasuki tahun yang baru yaitu tahun 2014. Seringkali dalam pikiran kita diliputi kekuatiran jika menghadapi sesuatu yang baru termasuk juga dalam menghadapi tahun baru ini. Baiklah, kita mulai saja dan saya ingin mengajak sobat untuk membuka Alkitab kita pada Injil Markus  4 : 35 - 41 dengan perikop berjudul "Angin ribut diredakan". Dalam ayat ke-35 tertulis "Yesus berkata kepada mereka, marilah kita bertolak ke seberang". Kita berhenti sebentar pada bagian ayat ini. Jika kita melihat lebih teliti dalam perikop sebelumya, disebutkan bahwa Yesus habis mengajar begitu banyak orang di tepi danau tersebut, begitu banyak sekali pengajaran-pengajaran yang diberikan oleh Yesus melalui berbagai perumpamaan-Nya. Memberikan pengajaran demikian banyak tentu saja melelahkan, tidak terkecuali bagi para murid-Nya yang selalu mengikuti-Nya, namun bukannya beristirahat, Yesus justru mengajak para murid untuk naik ke dalam perahu dan bertolak ke seberang. Ini seperti gambaran kita pada saat ini, Yesus mengajak kita menghadapi tahun 2014 saat kita masih nyaman dengan kondisi kita di tahun 2013.

Pada ayat selanjutnya, yaitu pada ayat ke-37 diceritakan tiba-tiba datanglah sebuah topan yang sangat dasyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, kapal seolah-olah hendak tenggelam, sedangkan Yesus sedang "asyik" tidur di buritan, lalu mulailah para murid menjadi panik dan akhirnya membangunkan-Nya. Akhir ceritanya adalah, Yesus bangun dan menghardik angin dan berkata kepada danau, "Diam! Tenanglah!" Lalu anginpun menjadi reda dan danau menjadi teduh sekali. Hal inipun menggambarkan kehidupan kita bersama Tuhan, saat kita melayani-Nya, bukan berarti kita tidak akan menghadapi "topan dan badai" dalam kehidupan kita, yang harus kita pahami adalah bahwa kita hanya perlu fokus dalam melayani-Nya dan tidak perlu kuatir terhadapi "badai" yang harus kita hadapi karena Ia berjanji untuk selalu bersama dengan kita. Saat kita berjalan bersama dengan Tuhan Yesus, maka kita akan mengalami banyak pengalaman-pengalaman luar biasa dan sangat menakjubkan, seperti yang dialami oleh para murid Yesus. Mereka begitu tercengang ketika menghadapi kenyataan bahwa "angin dan danaupun taat kepada-Nya".

Tahun 2014 sudah kita jalani beberapa hari, kita tidak tahu apa yang akan kita alami sepanjang 366 hari di tahun ini, namun Tuhan berkata kepada kita untuk tidak perlu takut, kita hanya perlu percaya kepada-Nya. Karena jika kita serahkan sepenuhnya hidup kita kepada-Nya maka Ia akan membimbing setiap langkah kita, dan percayalah kita akan menghadapi banyak pengalaman-pengalaman hidup yang menakjubkan, yang rasanya seperti mustahil untuk terjadi, namun bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Mari kita siapkan hati kita untuk menjalani tahun 2014 dengan iman dan percaya yang lebih besar lagi kepada Tuhan Yesus. Amin