Rabu, 05 Maret 2014

Aletheia Family Faithzone - Language of Love


http://dedhotindra.blogspot.com/2014/02/shooting-pengambilan-video-aff-news-gbi.html

Di dalam sebuah pernikahan, komunikasi adalah sesuatu yang amat sangat penting bagi pasangan suami dan istri. Bahkan, komunikasi bisa juga disebut sebagai denyut nadi di dalam pernikahan. Secara umum komunikasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
  1. Komunikasi Verbal. Komunikasi yang terjadi melalui kata-kata yang kita ucapkan.
  2. Komunikasi Non Verbal. Komunikasi yang terjadi melalui bahasa tubuh (gestures). Misalnya, suami menunjukkan ekspresi dan mimik wajah yang tidak suka saat istri sedang mengutarakan pendapatnya, sebenarnya kita tidak mengucapkan apa-apa namun istri sudah bisa melihat dari perubahan mimik wajah kita. Bahasa non verbal ini pada kenyataannya justru jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya di dalam memberi makna suatu komunikasi, dan juga lebih berdampak dibandingkan dengan bahasa verbal. Kita bisa menafsir makna dari apa yang dikatakan oleh seseorang bukan berdasarkan pada ucapannya, namun lebih kepada bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh bisa juga merupakan sikap secara langsung.
Ada sebuah pepatah keluarga yang mengatakan, "Cara terbaik untuk mengasihi anak-anak adalah dengan mengasihi ayah atau ibunya." Pernyataan ini menurut saya sangat benar, karena kualitas kedekatan dan keintiman sebuah keluarga sangat ditentukan oleh cinta antara suami dan istri, dan anak biasanya akan belajar bersikap seperti orang tuanya. Ada salah satu kutipan suatu pernikahan yang berhasil dari Amanda Bradley yaitu :
  • Pernikahan yang baik dibangun atas dasar persahabatan, menghadapinya bersama-sama, saling bergandengan tangan, mengarungi kehidupan, baik dalam suka maupun di dalam duka.
  • Mereka tidak takut untuk saling berbagi perasaan-perasaan dari hati yang terdalam, dan saling menghormati kebutuhan satu dengan yang lainnya.
  • Mereka mendukung yang satu dengan yang lainnya dalam kesetiaan.
  • Ketika masalah-masalah datang dalam kehidupan mereka, mereka tidak saling menyalahkan, tetapi mereka mengasihi seperti apa yang mereka katakan.
  • Mereka menjadikan pernikahan seperti persahabatan sejati, penuh dengan  tindakan yang menunjukkan bahwa mereka saling memperhatikan dan menemukan dunia kebahagiaan, dalam seluruh kasih yang mereka bagikan.
  • Kasih atau cintalah yang menjadi dasar bagi sebuah pernikahan sejati yang dibangun lewat persahabatan sejati. Persahabatan selalu berkaitan erat dengan kasih yang tulus.
Unsur utama di dalam sebuah kasih adalah memberi. Kita bisa saja memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Bahkan Tuhan Yesus pun memberikan teladan yang sangat luar biasa dalam hal ini :
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan (memberi) anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3 : 16)

Jadi, pernikahan yang berhasil bisa dicapai jika suami atau istri mempraktikkan kasih dengan tulus. Namun sayangnya, kenyataan yang terjjadi adalah seorang istri tidak merasa dikasihi padahal sang suami sudah mengasihi dengan total. Kadangkala sang suami juga merasa tangki emosionalnya kering karena merasa tidak dikasihi dan dicintai oleh istrinya, "Apa yang sesungguhnya terjadi?"

Di dalam bukunya yang berjudul "The Five Love Languages", Gary Chapman menjelaskan, bisa saja suami/istri merasa sudah mengasihi pasangannya dengan total, namun pasangannya tetap saja merasa kurang atau tidak dikasihi lagi. Mengapa bisa begitu? Jawabnya adalah karena suami atau istri tidak mengasihi pasangannya sesuai dengan BAHASA CINTA PRIMERNYA. Memahami dan menguasai bahasa kasih diperlukan untuk menghasilkan sebuah pernikahan yang sehat dan berhasil.

Sumber :
Khotbah Pdt. Larry Nathan Kurniadi, M. A.
Dalam acara Persekutuan Pasutri Aletheia "Aletheia Family Faithzone"
Hari Selasa, 25 Februari 2014
Bertempat di GBI Aletheia Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar