Kisah tongkat yang bertunas ini diawali oleh sungut-sungut yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap Tuhan tentang siapa yang terbesar dan menyebabkan terjadinya pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram, sebagaimana tertulis dalam Bilangan pasal 16. Akibat sungut-sungut bangsa Israel tersebut akhirnya Tuhan berfirman kepada Musa agar mengumpulkan satu buah tongkat dari setiap suku bangsa Israel, sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 12 tongkat, dan pada setiap tongkat tersebut haruslah ditulis nama-nama pemimpin masing-masing suku, dan kemudian semua tongkat tersebut haruslah diletakkan di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut hukum. "Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi." (Bilangan 17 : 5).
Dari kisah diatas ini, ada tiga hal yang dapat kita pelajari bersama yaitu :
1. Tuhan Memilih dan Tidak Melihat Masa Lalu Kita
Pada Bilangan 17 : 8 diceritakan bahwa tongkat Harun yang bertunas, sebagai tanda jika Tuhan telah memilih Harun dari kedua belas suku Israel lainnya. Padahal jika kita lihat kembali pada Bilangan 12, disana diceritakan bagaimana Harun melakukan pemberontakan terhadap Tuhan, dan sebelumnya Harun juga turut membuat patung lembu emas. Sungguh bukan masa lalu yang baik untuk dipilih Tuhan menjadi seorang pemimpin, namun Tuhan memilih kita tanpa melihat masa lalu kita yang kelam.
2. Jalin Hubungan yang Erat dengan Tuhan dalam hadirat-Nya
Pada Bilangan 17 : 4 menjelaskan bahwa tongkat-tongkat dari semua pemimpin suku diletakkan di dalam kemah pertemuan, di hadapan tabut hukum tempat Allah biasa bertemu dengan Musa. Jika kehidupan rohani kita mau bertunas, kita harus senantiasa membawa hidup kita dalam hadirat Tuhan, merenungkan Firman Tuhan tiap-tiap hari, dan melakukan segenap perintah Tuhan
3. Kesempatan Bersinar adalah Ketika Sekeliling Mulai Menjadi Gelap
Bilangan 17 : 8 menyebutkan bahwa keesokan harinya tongkat telah bertunas, ini menjelaskan proses bertunas terjadi sebelum fajar, yakni saat gelap malam hari. Begitupun dengan iman kita, akan terlihat bukan ketika baik-baik saja, namun di saat yang penuh dengan masalah, badai cobaan datang menerpa, maka disaat seperti itulah iman perlu dibuktikan yang menandakan tongkat kerohanian kita mulai bertunas, sehingga tatkala waktunya tiba maka terang kemuliaan Tuhan akan terpancar melalui kehidupan kita.
Dengan demikian, kita sebagai umat yang telah diampuni dosa-dosanya, mari melekat dalam hadirat Tuhan dengan menjalin hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan, maka sinar kemuliaan Tuhan akan senantiasa terpancar dalam kehidupan kita. --WISH
Selasa, 14 Oktober 2014
Senin, 13 Oktober 2014
Anugerah Keselamatan Kekal Itu Gratis
Pada suatu ketika diadakan operasi katarak secara gratis yang dilakukan oleh beberapa gereja yang bekerja sama dengan beberapa lembaga dari daerah setempat. Selain mendapatkan operasi gratis, pasien juga mendapatkan ongkos untuk transportasinya. Yang unik adalah sebagian besar dari pasien tidak percaya jika operasi katarak tersebut benar-benar gratis, mereka bertanya-tanya apakah ada syarat-syarat lain yang harus mereka penuhi, termasuk apakah mereka harus membayar sejumlah uang sekedar sebagai uang lelah bagi para relawan yang telah terlibat di dalam acara tersebut.
Hal yang hampir sama dapat kita temukan di dalam kasus yang berkaitan dengan anugerah keselamatan kekal yang diberikan oleh Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Kita selalu bertanya, apakah ini benar-benar gratis? Jawabannya adalah Ya, ini gratis..tis. Kita hanya perlu percaya kepada-Nya saja. Percaya atau beriman berarti sepakat bahwa kita tidak dapat mengatasi dosa dengan kekuatan kita sendiri, melainkan cukup dengan menerima penebusan Yesus yang sempurna. Hanya itu saja. Kita tidak perlu "membayar" penebusan-Nya itu dengan perbuatan baik atau membayar sejumlah uang dan harta benda yang kita miliki. Penebusan-Nya sudah cukup untuk menyelamatkan kita semua, melepaskan kita dari kuasa dosa dan memberikan kita kehidupan baru bersama dengan Dia. Karena keselamatan merupakan pemberian, kita tidak dapat menyombongkannya, namun kita dapat merayakannya.
"Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya." (Efesus 2 : 8-10).
Bagaimana dengan kita? semoga kita tidak termasuk dalam kelompok yang berusaha menambahkan anugerah keselamatan dengan perbuatan tertentu. Kita hanya perlu menerima anugerah Allah dengan rasa syukur, lalu menanggapinya dengan menjalani hidup baru yang dikaruniakan-Nya. Kehidupan baru yang kita miliki bersama dengan Dia akan mengubahkan karakter dan gaya hidup yang kita miliki saat ini, dan kita akan memiliki identitas baru di dalam Kristus. Perbuatan baik bukan lagi digunakan untuk meraih keselamatan, namun sebagai ucapan syukur karena kita telah diselamatkan. Persembahan bukanlah harga atau uang yang harus kita bayar untuk keselamatan kita, melainkan sebagai ucapan syukur dan bukti bahwa kita lebih mengasihi Tuhan dibandingkan harta duniawi yang kita miliki saat ini.
Hal yang hampir sama dapat kita temukan di dalam kasus yang berkaitan dengan anugerah keselamatan kekal yang diberikan oleh Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Kita selalu bertanya, apakah ini benar-benar gratis? Jawabannya adalah Ya, ini gratis..tis. Kita hanya perlu percaya kepada-Nya saja. Percaya atau beriman berarti sepakat bahwa kita tidak dapat mengatasi dosa dengan kekuatan kita sendiri, melainkan cukup dengan menerima penebusan Yesus yang sempurna. Hanya itu saja. Kita tidak perlu "membayar" penebusan-Nya itu dengan perbuatan baik atau membayar sejumlah uang dan harta benda yang kita miliki. Penebusan-Nya sudah cukup untuk menyelamatkan kita semua, melepaskan kita dari kuasa dosa dan memberikan kita kehidupan baru bersama dengan Dia. Karena keselamatan merupakan pemberian, kita tidak dapat menyombongkannya, namun kita dapat merayakannya.
"Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya." (Efesus 2 : 8-10).
Bagaimana dengan kita? semoga kita tidak termasuk dalam kelompok yang berusaha menambahkan anugerah keselamatan dengan perbuatan tertentu. Kita hanya perlu menerima anugerah Allah dengan rasa syukur, lalu menanggapinya dengan menjalani hidup baru yang dikaruniakan-Nya. Kehidupan baru yang kita miliki bersama dengan Dia akan mengubahkan karakter dan gaya hidup yang kita miliki saat ini, dan kita akan memiliki identitas baru di dalam Kristus. Perbuatan baik bukan lagi digunakan untuk meraih keselamatan, namun sebagai ucapan syukur karena kita telah diselamatkan. Persembahan bukanlah harga atau uang yang harus kita bayar untuk keselamatan kita, melainkan sebagai ucapan syukur dan bukti bahwa kita lebih mengasihi Tuhan dibandingkan harta duniawi yang kita miliki saat ini.
Saat Hati Nurani Menjadi Tumpul Maka Dosa pun Menjadi Sesuatu Yang Biasa
Nabi Yeremia melayani di tengah situasi yang serba sulit. Ia dipilih Tuhan pada saat usianya masih tergolong muda, ia harus bernubuat bagi bangsa Yehuda yang dipimpin oleh para imam dan nabi senior serta raja. Yang menjadi lebih menyulitkan lagi adalah, pesan Tuhan yang harus disampaikannya berbeda dengan nubuat yang disampaikan oleh kebanyakan nabi pada saat itu. Ia hanya seorang diri dan melawan begitu banyak mayoritas orang. Ia menjadi sangat tidak populer karena menubuatkan kejatuah Yehuda dan runtuhnya Bait Allah, namun mayoritas nabi dan imam justru menubuatkan yang sebaliknya. Tentu saja Yeremia menghadapi masalah yang besar karena mayoritas orang akan lebih mempercayai apa yang disampaikan oleh para imam dan nabi senior tersebut dibandingkan dengan dirinya. Untuk mempertahankan kebenaran yang dipercayai, Yeremia harus menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, dipukul, dipasung, diejek, dan bahkan diancam akan dibunuh. Tetapi Yeremia tetap berpegang teguh pada keyakinannya sebab ia tahu bahwa pesan tersebut berasal dari Tuhan walaupun tidak ada orang yang berpihak kepadanya.
Di tengah dunia yang semakin sulit ini, kita perlu memiliki iman seperti Yeremia. Terkadang kita akan sulit untuk mengetahui kebenaran karena berhadapan dengan pendapat mayoritas. Jika banyak orang di sekitar kita melakukan hal yang salah, hal tersebut akan tampak sebagai sesuatu yang benar, sebaliknya jika kita melakukan sesuatu yang benar maka akan terlihat aneh dan ganjil. Namun, seperti Yeremia peka terhadap suara Tuhan dan taat kepada-Nya, kita perlu peka untuk mengenali suara kebenaran di tengah mayoritas. Sebagai contoh yang barusan saya alami. Saya tergabung di dalam satu group BB (blackberry messenger) bersama dengan teman-teman eks SMU dahulu, dan kebetulan saya yang menjadi admin group, karena sudah cukup lama terpisah (sekitar 16 tahun) maka saat berkumpul jadi cukup ramai dalam diskusi karena bernostalgia pada kisah-kisah semasa sekolah dulu. Awalnya tidak ada yang salah, semua berjalan dengan baik, namun lama-kelamaan mulai ada beberapa teman yang usil dengan meng-share gambar-gambar yang tidak senonoh. Awalnya sih tidak langsung saya tegur tetapi diam-diam saya hapus gambarnya dari group, namun ternyata hal tersebut tidak menyurutkan niat teman-teman untuk terus menyebarkan gambar tersebut. Akhirnya saya mulai memberikan teguran dengan sangat halus agar tidak terus menyebarkan gambar tersebut.
Namun ternyata, dari teguran yang sangat halus tersebut membuat banyak teman-teman yang tersinggung dan mungkin menganggap saya sok suci, lalu satu persatu mulai "leave" dari group dan membuat group baru tanpa mengundang saya dan memberi kesan memusuhi saya karena dianggap mengganggu "keasyikan" mereka, dan juga dianggap memulai suatu pertengkaran. Mereka menganggap bahwa gambar-gambar orang tanpa pakaian tersebut adalah sesuatu yang biasa untuk disebarkan dengan dalih bahwa mereka hanya ingin menunjukkan foto orang yang telah membuat berita menggemparkan tersebut dengan cara mereka sendiri. Dan lebih parahnya saya dianggap angkuh dan sombong serta perlu didoakan agar bertobat karena tidak mau menerima nasihat, ditambah dengan embel-embel kutipan ayat Firman Tuhan. OMG....dunia benar-benar sudah terbalik. Saya yang memberi nasihat tapi justru saya yang disuruh bertobat hehehe...Awalnya saya ingin berkonfrontasi secara langsung untuk meyakinkan mereka jika itu adalah sesuatu yang salah, dan tentu tidak berkenan di hadapan Tuhan, namun dengan melihat kondisi bahwa mereka adalah orang kristen, rajin ke gereja, sering sharing Firman Tuhan, dll. saya jadi bingung sendiri apa lagi yang harus saya sampaikan. Mereka seharusnya sudah mengerti terhadap apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan, tapi mengapa mereka tetap tidak bisa membedakan hal yang berkenan dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ya sudahlah, apa yang kita perbuat pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Saya sudah berusaha yang terbaik walaupun resikonya akhirnya saya kehilangan teman karena mereka mulai membenci dan meninggalkan saya. Dunia boleh membenci saya dan teman-teman boleh meninggalkan saya, tapi saya tetap punya penghiburan bahwa Tuhan Yesus akan selalu menyertai dan tidak sekali-kalipun meninggalkan saya. Amin :)
Di tengah dunia yang semakin sulit ini, kita perlu memiliki iman seperti Yeremia. Terkadang kita akan sulit untuk mengetahui kebenaran karena berhadapan dengan pendapat mayoritas. Jika banyak orang di sekitar kita melakukan hal yang salah, hal tersebut akan tampak sebagai sesuatu yang benar, sebaliknya jika kita melakukan sesuatu yang benar maka akan terlihat aneh dan ganjil. Namun, seperti Yeremia peka terhadap suara Tuhan dan taat kepada-Nya, kita perlu peka untuk mengenali suara kebenaran di tengah mayoritas. Sebagai contoh yang barusan saya alami. Saya tergabung di dalam satu group BB (blackberry messenger) bersama dengan teman-teman eks SMU dahulu, dan kebetulan saya yang menjadi admin group, karena sudah cukup lama terpisah (sekitar 16 tahun) maka saat berkumpul jadi cukup ramai dalam diskusi karena bernostalgia pada kisah-kisah semasa sekolah dulu. Awalnya tidak ada yang salah, semua berjalan dengan baik, namun lama-kelamaan mulai ada beberapa teman yang usil dengan meng-share gambar-gambar yang tidak senonoh. Awalnya sih tidak langsung saya tegur tetapi diam-diam saya hapus gambarnya dari group, namun ternyata hal tersebut tidak menyurutkan niat teman-teman untuk terus menyebarkan gambar tersebut. Akhirnya saya mulai memberikan teguran dengan sangat halus agar tidak terus menyebarkan gambar tersebut.
Namun ternyata, dari teguran yang sangat halus tersebut membuat banyak teman-teman yang tersinggung dan mungkin menganggap saya sok suci, lalu satu persatu mulai "leave" dari group dan membuat group baru tanpa mengundang saya dan memberi kesan memusuhi saya karena dianggap mengganggu "keasyikan" mereka, dan juga dianggap memulai suatu pertengkaran. Mereka menganggap bahwa gambar-gambar orang tanpa pakaian tersebut adalah sesuatu yang biasa untuk disebarkan dengan dalih bahwa mereka hanya ingin menunjukkan foto orang yang telah membuat berita menggemparkan tersebut dengan cara mereka sendiri. Dan lebih parahnya saya dianggap angkuh dan sombong serta perlu didoakan agar bertobat karena tidak mau menerima nasihat, ditambah dengan embel-embel kutipan ayat Firman Tuhan. OMG....dunia benar-benar sudah terbalik. Saya yang memberi nasihat tapi justru saya yang disuruh bertobat hehehe...Awalnya saya ingin berkonfrontasi secara langsung untuk meyakinkan mereka jika itu adalah sesuatu yang salah, dan tentu tidak berkenan di hadapan Tuhan, namun dengan melihat kondisi bahwa mereka adalah orang kristen, rajin ke gereja, sering sharing Firman Tuhan, dll. saya jadi bingung sendiri apa lagi yang harus saya sampaikan. Mereka seharusnya sudah mengerti terhadap apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan, tapi mengapa mereka tetap tidak bisa membedakan hal yang berkenan dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ya sudahlah, apa yang kita perbuat pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Saya sudah berusaha yang terbaik walaupun resikonya akhirnya saya kehilangan teman karena mereka mulai membenci dan meninggalkan saya. Dunia boleh membenci saya dan teman-teman boleh meninggalkan saya, tapi saya tetap punya penghiburan bahwa Tuhan Yesus akan selalu menyertai dan tidak sekali-kalipun meninggalkan saya. Amin :)
Langganan:
Postingan (Atom)


