Naaman sakit kusta. Bagi seorang panglima pasukan dan pahlawan perang, penyakit tersebut jelas sekali sangat mengguncangkan jiwanya. Ia sangat ingin sembuh dari penyakitnya. Oleh karena itu ia mengikuti saran gadis pelayan istrinya untuk datang kepada Nabi Elisa. Namun, Elisa tidak memberikan ramuan, ataupun menumpangkan tangannya untuk berdoa bagi kesembuhannya seperti yang ia bayangkan. Nabi itu hanya menyuruh Namaan untuk mandi sebanyak tujuh kali di Sungai Yordan. Namaan merasa gusar dan kecewa. Tetapi, setelah dibujuk oleh pegawainya, ia mau juga melakukannya dan pulihlah tubuhnya dari kusta. Ia menjadi tahir, dan mendatangi Elisa untuk mengakui kebesaran Allah Israel.
Seringkali kita tidak setuju dengan cara Allah untuk memulihkan kehidupan kita. Cara yang digunakan-Nya seringkali terlihat aneh, dan bahkan tampak mustahil di mata manusia, sehingga kita jadi meragukan dan mempertanyakan hal tersebut. Sebaliknya, kadang cara-Nya terkesan sangat mudah dan tidak menuntut kerja keras kita. Kita tidak boleh meremehkannya karena tidak ada sesuatupun yang mustahil bagi Tuhan. Sebenarnya, cara-Nya yang tidak lazim tersebut justru mendorong kita untuk semakin mengerti jalan Allah yang misterius, meskipun cara-Nya seringkali tidak kita pahami, Dia tetap layak untuk dipercayai.
Sewaktu kita mulai mempercayai dan mengikuti cara Allah, kita belajar untuk semakin mengenal cara berpikir dan cara kerja Allah dalam kehidupan kita. Dengan mengesampingkan pola pikir manusiawi, kita memperbaharui pikiran yang selanjutnya berdampak pada pembaharuan dan pemulihan hidup kita.
Sumber : Buku Renungan Harian
Rabu, 30 Juli 2014
Belajar Berbicara Jujur Untuk Membentuk Karakter Yang Baik
Kebiasaan berkata dan berbuat jujur akan terbawa hingga akhir hayat. Begitu juga dengan kebiasaan buruk, jejaknya akan terbawa juga hingga selamanya. Apalagi jika hal tersebut sudah mendarah daging. Meskipun kita sudah berusaha untuk menyembunyikannya, suatu saat hal tersebut pasti akan ketahuan juga, ibarat pepatah "Sepandai-pandainya orang menutupi bangkai, baunya pasti akan tercium juga". Karena itu, kita perlu untuk belajar menjadi orang yang konsisten dalam kejujuran.
Tuhan Yesus dalam kehidupan-Nya selalu mengatakan kebenaran, kebenaran yang berasal dari Allah. Yesus menyatakan kebenaran sekalipun tidak semua orang mempercayai-Nya. "Tetapi Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku" (Yohanes 8 : 45). Tidak ada yang lebih penting daripada melakukan kebenaran dan mengatakan kebenaran dalam kehidupan ini, karena kebenaran memerdekakan. Kalau kita adalah orang yang jujur, kita dapat dengan bebas pergi kemana saja tanpa takut tergelincir. Seorang pernah berkata, "Jika kamu tidak mau tergelincir esok hari, berbicaralah dengan jujur hari ini!" Artinya, kalau kita terbiasa berkata benar dan berbuat jujur, kita tidak perlu takut akan kehidupan kita pada masa mendatang karena kebenaran itu sendiri menjaga kehidupan kita. Dengan demikian kita melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan.
Tidak perlu kita berbohong demi keuntungan sesaat dan kerugian yang berkepanjangan. Melakukan hal yang salah pada saat ini sama saja dengan menutup langkah kita pada hari yang akan datang. Belajarlah untuk melakukan semua hal dengan jujur dalam hidup ini. Berserulah kepada Yesus, Sang Kebenaran, untuk menyatakan kebenaran-Nya melalui hidup kita.
Sumber : Buku Renungan Harian
Tuhan Yesus dalam kehidupan-Nya selalu mengatakan kebenaran, kebenaran yang berasal dari Allah. Yesus menyatakan kebenaran sekalipun tidak semua orang mempercayai-Nya. "Tetapi Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku" (Yohanes 8 : 45). Tidak ada yang lebih penting daripada melakukan kebenaran dan mengatakan kebenaran dalam kehidupan ini, karena kebenaran memerdekakan. Kalau kita adalah orang yang jujur, kita dapat dengan bebas pergi kemana saja tanpa takut tergelincir. Seorang pernah berkata, "Jika kamu tidak mau tergelincir esok hari, berbicaralah dengan jujur hari ini!" Artinya, kalau kita terbiasa berkata benar dan berbuat jujur, kita tidak perlu takut akan kehidupan kita pada masa mendatang karena kebenaran itu sendiri menjaga kehidupan kita. Dengan demikian kita melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan.
Tidak perlu kita berbohong demi keuntungan sesaat dan kerugian yang berkepanjangan. Melakukan hal yang salah pada saat ini sama saja dengan menutup langkah kita pada hari yang akan datang. Belajarlah untuk melakukan semua hal dengan jujur dalam hidup ini. Berserulah kepada Yesus, Sang Kebenaran, untuk menyatakan kebenaran-Nya melalui hidup kita.
Sumber : Buku Renungan Harian
Senin, 28 Juli 2014
Lebaran Hari Pertama - Silaturahmi ke Rumah Keluarga yang Dituakan
Shalom sobat semua, Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H buat semua sobat yang merayakan Lebaran pada hari ini. Yap...hari ini adalah lebaran, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh sobat kita yang beragama muslim karena ini adalah hari yang menandai kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan penuh. Bagaimana acara sobat semua hari ini? tentu yang pertama-tama adalah saling maaf memaafkan kepada keluarga, sahabat dan handai taulan sekalian, lanjut dengan tentunya makanan khas Idul Fitri yaitu ketupat lebaran, trus dapat salam tempel gak nih hehehe....
Oke dech, semuanya yang terjadi hari ini tentunya sangat menyenangkan bukan? :). Saya sendiri sekeluarga memutuskan untuk menghabiskan malam takbiran dan lebaran hari pertama dengan berlibur di kota Solo. Nah, saya ingin melanjutkan cerita saya sebelumnya yaitu Liburan di Kota Solo. Kami bangun hari ini bisa dibilang cukup siang yaitu sekitar jam 08.00 karena tidur semalam cukup larut, bangun pagi saya dan istri langsung mandi dan menikmati sarapan, sedangkan papa&mama mertua menemani Jaxine dan Theora untuk berenang. Selesai makan waktu banyak kami habiskan dengan mengabadikan foto kami di taman hotel yang begitu luas dengan kamera Nikon D3100 kesayangan. Hasilnya lumayan banyak dan bagus-bagus karena memang tamannya cukup luas dan unik sehingga cukup membuat kami ketagihan untuk jeprat-jepret melulu hehehe....Tak terasa waktu terus berjalan, dan pukul 12.00 tepat kami check out dari hotel dan langsung menuju ke tempat saudara istri, tepatnya adik dari papa mertua yang berlokasi di daerah Gumpang - Solo, yaitu Bulik Ninik yang kebetulan beragama muslim dan merayakan lebaran. Sebelumnya saat makan di hotel, saya sengaja makan seadanya saja karena ingin menikmati lontong opor di tempat saudara, tapi begitu sampai disana ada sedikit kekecewaan karena ternyata Bulik Ninik tidak menyiapkan hidangan lebaran hiks...hiks...(puasa deh).
Puas ngobrol-ngobrol, akhirnya kami berpamitan untuk pulang ke jogja, sesampainya di Jogja kami langsung lanjut silaturahmi ke tempat saudara istri yang lainnya yaitu kakak dari papa mertua, Budhe Hani yang terletak di daerah Pogung (hanya beberapa ratus meter dari rumah saya :D). Nah, disini akhirnya keinginan saya untuk menikmati lontong opor bisa keturutan hehehe...(akhirnya bisa kenyang :p). Selesai dari tempat Budhe Hani kami langsung lanjut lagi ke tempat saudara tertua dari papa mertua yaitu Budhe Sri yang tinggal di Jalan Kaliurang km. 12. Dan ternyata...sampai disana disuruh makan lontong opor lagi, sampe perutnya buncit karena kekenyangan hehehe.....
Begitulah cerita aktivitas saya dan keluarga sepanjang hari ini. Sangat melelahkan, namun juga sangat menyenangkan karena bisa berkumpul dengan banyak saudara-saudara. Moment lebaran memang spesial karena bisa berkumpul semuanya penuh dengan kebahagiaan. Dan saya percaya hal yang sama tentu juga terjadi di dalam keluarga sobat semua bukan? Oke dech...gitu dulu aja ya, dilanjut besok lagi :D
Salam,
Dedy Liem
| Silaturahmi dengan Keluarga Bulik Ninik |
| Silaturahmi dengan Keluarga Budhe Hani |
Begitulah cerita aktivitas saya dan keluarga sepanjang hari ini. Sangat melelahkan, namun juga sangat menyenangkan karena bisa berkumpul dengan banyak saudara-saudara. Moment lebaran memang spesial karena bisa berkumpul semuanya penuh dengan kebahagiaan. Dan saya percaya hal yang sama tentu juga terjadi di dalam keluarga sobat semua bukan? Oke dech...gitu dulu aja ya, dilanjut besok lagi :D
Salam,
Dedy Liem
Langganan:
Postingan (Atom)

