Senin, 14 April 2014

Pantai Depok - Menikmati Deburan Ombak Sembari Menyantap Sea Food di Pinggir Pantai

Shalom sobat semua, seperti biasa, saya hanya ingin share kegiatan saya dan keluarga di hari Sabtu kemarin. Di hari Sabtu saya mengajak Engkong dan Ama untuk wisata ke Pantai Depok, tak lupa Jaxine dan Theora juga ikut, hanya sayangnya karena masih disibukkan dengan pekerjaan di toko sehingga istri terpaksa ditinggal untuk mengurusi pekerjaan di toko. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 14.00 WIB, kami sengaja mencari waktu agak sore karena rencananya sesampainya di lokasi, kami ingin menikmati makanan laut yang banyak disediakan disana dan setelah itu bermain ombak di pantai sembari menikmati sunset.

Sampai di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB kami langsung menuju salah satu warung langganan kami, yaitu warung Bu Yanti yang lokasinya termasuk paling ujung dan menghadap bibir pantai secara langsung. Kami langsung memesan menu cumi saos tiram, udang goreng mentega, cumi goreng tepung, ikan kakap bakar, dan tak lupa sayur kangkung sebagai pelengkap menu. Selesai makan, kami kemudian langsung menuju pantai untuk bermain ombak. Tidak seperti biasanya (mungkin karena sudah mulai pasang) sehingga ombak cukup besar dan sudah mulai menuju ke bagian pantai yang kemiringannya cukup curam sehingga saya harus cukup berhati-hati saat mengajak Jaxine dan Theora bermain ombak di pantai. Anak-anak terlihat sangat gembira bisa menikmati bermain di pantai, terutama Jaxine yang selama seminggu terakhir "terkarantina" karena harus menghadapi ujian di sekolahnya.

Setelah anak-anak puas bermain-main dan basah kuyup maka kami segera "mentas", kemudian anak-anak bilas dan mandi di kamar mandi yang banyak disediakan disana, dan setelah itu kami langsung meluncur pulang ke jogja. Sampai di kota jogja, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.00 WIB dan dikarenakan keesokan harinya, yaitu Minggu pagi kami harus mengantarkan Engkong dan Ama pulang ke Lubuk Linggau, maka kami langsung saja berburu oleh-oleh yang hendak dibawa untuk keluarga disana. Tempat pertama yang kami tuju adalah Brownies Amanda yang terletak di Jalan Diponegoro (sebelah barat Tugu Yogyakarta), disana kami membeli 5 dus/kotak brownies Amanda beraneka rasa. Selanjutnya kami menuju pusat oleh-oleh Bakpia Pojok yang terletak di Jalan Palagan/Monjali dan membeli cukup banyak oleh-oleh khas kota Yogyakarta, seperti bakpia, yangko, gethuk, geplak, moaci, dll. Selesai berbelanja, kami langsung pulang ke rumah, mandi dan beristirahat. Nah di bawah ini saya share beberapa picture yang sempat saya abadikan melalui kamera Nikon D3100 kesayangan. Tuhan Memberkati









Kamis, 10 April 2014

Enam Kesamaan Antara Paskah Israel dan Salib Kristus di Bukit Golgotha



Shalom sobat, pada artikel sebelumnya saya telah menulis tentang Blessing From The Lamb of God, dan pada kesempatan saat ini saya ingin membahas tentang Persamaan antara Paskah pada zaman Musa dan Salib Kristus di bukit Golgotha. Yuk kita lihat bersama-sama apa saja kesamaan tersebut

1.      Anak Domba Itu Harus Jantan
Untuk Paskah, anak domba yang digunakan haruslah “zakar” = jantan, yang berumur satu tahun (Keluaran 12 : 15). Pada tahun 700 BC, Nabi Yesaya memberikan nubuatan tentang hal tersebut – Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda : Sesungguhnya seorang anak dara (almah = virgin) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki (zakar) dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yesaya 7 : 14). Nubuat Yesaya ini digenapi melalui berita yang dibawa malaikat kepada Maria. Matius 1 : 21-23 – “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi : “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti Allah menyertai kita.

2.      Anak Domba Itu Harus Tidak Bercela
Anak domba Paskah harus diperiksa dengan teliti apakah layak untuk dikorbankan : Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela (Keluaran 12 : 5). Dan syarat kedua inipun digenapi oleh Yesus sebab semua kesaksian yang ada menyatakan bahwa Yesus tidak bercela dan tidak bersalah.
  •     Pemeriksaan oleh Iman Besar, Ahli Taurat dan Tua-Tua
Pertama sekali, Tuhan Yesus diperiksa oleh imam besar Kayafas, para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Mereka memeriksa apakah ada cacat dalam hal Taurat. Karena tidak ada bukti yang sah, mereka lalu mencari saksi palsu – Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan : “Orang ini berkata : Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari (Matius 26 : 59 – 61).
  •     Pemeriksaan oleh Pontius Pilatus
Dari imam besar Kayafas, Yesus lalu diserahkan kepada Pontius Pilatus untuk memeriksa apakah ada hukum negara yang dilanggar. Tapi ternyata Pilatus tidak menjumpai kesalahan pada diri Yesus sehingga patut untuk dihukum mati. Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka : “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.” (Lukas 23 : 22)
  •    Pemeriksaan oleh Herodes
Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes, dan ia juga tidak menjumpai kesalahan pada diri Yesus, lalu Herodes mengembalikan lagi Yesus kepada Pilatus dan berkomentar: “Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati” (Lukas 23 : 13 – 16).
  •     Kesaksian Yudas
Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepada dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” (Matius 27 : 3-4a).

Dengan demikian Yesus menggenapi syarat kedua domba Paskah, yaitu tidak bercacat cela.

3.      Anak Domba Itu Harus Dikurung Sampai Paskah
Katakanlah kepada segenap jemaah Israel : Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba,…..kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. (Keluaran 12 : 3, 6). Di dalam Matius 21 : 1 -13) mencatat bagaimana Yesus masuk ke Yerusalem dari Betania dengan sambutan meriah dari rakyat, ini disebut dengan Palm Sunday dan setelah itu Yesus tidak pergi jauh lagi dari Yerusalem. Sejarah mencatat bahwa hari-hari terakhir Yesus dilewati di Betania dan Yerusalem (Betania jaraknya hanya sekitar 3 km sebelah timur Yerusalem). Pelayanan keliling yang biasanya dilakukan oleh Yesus sudah tidak lagi dilakukan oleh Yesus sejak ia masuk ke Yerusalem pada Palm Sunday. Akhirnya kita semua tahu, Yesus naik ke kayu salib di sebuah tempat yang disebut Golgotha (place of the skull).

4.      Anak Domba Itu Harus Disembelih
Aturan hari raya Paskah dicatat di dalam Keluaran 12 : 6 sebagai berikut : Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada waktu senja (Keluaran 12 : 6). Disembelih artinya : darah tercurah yang mengakibatkan kematian. Hal ini dengan tepat terjadi pada Yesus sebagai Anak Domba Allah (Lamb of God) – darah-Nya tercurah dan mati di kayu salib tepat pada perayaan Paskah Yahudi yaitu tanggal 14 bulan Nissan.

5.      Tulang Anak Domba Tidak Boleh Dipatahkan
Aturan perayaan Paskah – Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kau bawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan (Keluaran 12 : 46). Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu adalah hari yang besar – maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit itu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya Yohanes 19 : 31 -33).

6.      Darah Anak Domba Itu Membawa Keselamatan
Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah dimana orang memakannya. Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila aku menghukum tanah Mesir (Keluaran 12 : 7, 12 – 13). Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus (I Korintus 5 : 7). Pada saat kematian-Nya, Yesus berseru : Sudah selesai! (Yohanes 19 : 30), dan tirai Bait Suci yang memisahkan Ruang Maha Kudus dan Ruang Kudus terkoyak dari atas sampai bawah (Matius 27 : 51). Darah Yesus yang suci, Anak Domba Paskah itu telah selesai dicurahkan dan darah itu berkuasa untuk menyelamatkan manusia dari hukuman atas dosa-dosanya. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu dengan darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (I Petrus 1 : 18 – 19). Ini adalah berkat dari Anak Domba Allah bagi kita semua.

Sumber : Khotbah Pdt. Ishak Sugiyanto pada Ibadah Minggu 07 April 2014 di GBI AletheiaYogyakarta.

Candi Prambanan – Mengunjungi Salah Satu Warisan Budaya di Yogyakarta



Shalom sobat sekalian, Pemilihan Umum (Pemilu) baru saja berlalu dan saya percaya sobat semua pasti telah menggunakan hak pilih dengan bijak untuk menentukan nasib bangsa kita hingga lima tahun ke depan. Nah pada saat “coblosan” kemarin tentu banyak dari sobat yang bekerja mendapatkan fasilitas libur dari instansi tempat bekerja. Trus kalau begitu, habis “coblosan” kemarin pada kemana nih? :D

Kalau saya dan istri kemarin mencoblos di TPS asal istri saya yaitu di Kelurahan Gowongan, karena memang KTP kami memang tercatat disana (ikut alamat mertua saya). Selesai mencoblos sekitar pukul 11.00 kami langsung buka toko untuk melayani pesanan pelanggan yang sudah menumpuk. Namun saya hanya sebentar saja di toko karena sekitar pukul 12.00, Saya, Theora, Engkong, dan Ama berangkat bersama untuk mengunjungi Candi Prambanan. Jarak Candi Prambanan dari kota jogja tidak begitu jauh, dapat ditempuh dengan kendaraan selama 30 menit dengan kecepatan sedang. Sampai di pelataran parkir Candi, jam sudah menunjukkan pukul 12.45 dan kami berempat langsung membeli tiket untuk masuk ke dalam Candi. Harga tiket yang tertera menurut saya cukup mahal yaitu Rp. 30.000,- (Dewasa) dan Rp. 12.500,- (Anak-anak sampai dengan usia 6 tahun). Cukup mahal karena dengan membayar Rp. 30.000,- per orang dewasa, tidak ada benefit langsung yang bisa kami rasakan selain “hanya” memandangi candi dan sekedar berfoto-foto. Coba bandingkan jika kita piknik ke pantai, dengan “hanya” membayar sekitar Rp. 5.000,- per orang, maka kita sudah bisa menikmati banyak hal, misalnya bermain ombak, bermain pasir, bermain laying-layang, bermotor di atas pasir, mengendarai kuda, makan bersama di pinggir pantai, dll.

Tapi bagaimanapun, Candi Prambanan tetap memiliki pesona tersendiri yang berbeda dibandingkan tempat wisata lainnya. Akhirnya kami semua jepret sana-jepret sini sampe puas dan langsung pulang karena perut sudah mulai “keroncongan” semua. Pulang dari Candi Prambanan, kami langsung mampir ke warung lesehan Sendang Ayu yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi candi dan searah dengan jalan kami pulang ke kota Jogja. Kebetulan saat itu suasana rumah makan sangat penuh, jadi kami terpaksa menunggu pesanan kami datang cukup lama (hampir satu jam). Dulu saya dan keluarga cukup sering makan di tempat ini karena tempatnya lumayan bagus dan bersih, namun akhir-akhir ini tempatnya terkesan lebih kumuh dari sebelumnya dan pondokannya juga lebih rapat sehingga keindahan kolam yang dulunya tersaji sekarang lebih banyak tertutup oleh pondok makan yang baru. Selain itu, mungkin karena kurangnya sirkulasi air di kolam membuat air kolam sedikit berwarna kehijauan dan terkesan seperti “air comberan” dan ikan-ikan yang dulunya kelihatan banyak dan “ceria”, kini hanya terlihat sedikit dan tampak “megap-megap” seperti kehabisan oksigen. 

Itu hanya sedikit penilaian negatif saja, selain pelayanannya yang kurang begitu sigap. Untungnya rasa dari makanan yang disajikan masih terjaga dengan baik sehingga kekecewaan sedikit berkurang. Namun dengan biaya makan yang hampir sama, maka saya dan keluarga lebih memilih untuk menikmati liburan dan makan bersama di Gubug Makan Mang Engking, karena lebih banyak hal positifnya, seperti keindahan lokasi, pelayanan yang begitu ramah dan bersahabat, kebersihan tempat, rasa masakan, dan juga hiburan (terapi ikan) serta arena bermain anak (becak mini) masih jauh lebih baik dibandingkan Sendang Ayu. Itu hanya pendapat saya pribadi saja, mungkin sobat punya pendapat lain yang berbeda dengan saya :D. Nah di bawah ini saya bagikan sedikit foto yang bisa saya abadikan saat berada di Candi Prambanan dan Sendang Ayu. Tuhan Yesus Memberkati..