Minggu, 15 Desember 2013

Apa Tujuan Yesus Datang ke Dunia (Part 1)

Jika pada suatu pagi kita berdiri di pinggir jalan raya, pasti kita akan melihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di jalan tersebut, baik dengan berjalan kaki, bersepeda, mengendarai sepeda motor, mobil, becak, dll. Apakah mereka semua berada  di jalan itu sepanjang hari? tentu saja tidak. Mereka berada di jalan tersebut tentu saja mempunyai suatu maksud dan tujuan, seperti berangkat sekolah, bekerja, maupun tujuan-tujuan lainnya. Seperti juga pada hari Natal sekitar 2000 tahun yang lalu, Tuhan Yesus turun ke dunia tentu juga memiliki maksud dan tujuan tertentu. Lalu apakah tujuan Tuhan Yesus meninggalkan kemuliaan Sorga dan turun ke dunia ber-inkarnasi menjadi manusia, lahir di kandang binatang yang hina di daerah Bethlehem?

Jika kita pelajari firman dengan teliti, maka kita akan mengetahui yang menjadi alasan dasar mengapa Tuhan Yesus mau-maunya turun ke dunia. Mari saya ajak sobat semua untuk melihat 3 (tiga) alasan tersebut.

Pertama - Yesus Datang Untuk Menjadi Juru Selamat

Tujuan Yesus datang sebagai juru Selamat ini bisa kita lihat dari apa yang diungkapkan oleh para malaikat kepada para gembala yang sedang menjaga domba-domba di malam Natal. Malaikat tersebut berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." (Lukas 2 : 10 - 12).

Sebelum Tuhan Yesus datang kedunia, umat manusia saat ini berada dalam keadaan "tidak selamat" dan tidak mempunyai "juru selamat". Mengapa bisa begitu? Untuk lebih jelasnya, mari kita buka Alkitab kita dalam Kejadian fs. 1 - 3. Pada awal mula penciptaan, Adam dan Hawa berada dalam keadaan selamat sejahtera dan tanpa dosa, memiliki hubungan yang sangat indah dengan Bapa Sang Pencipta. Namun akibat godaan si Iblis maka manusia pun akhirnya melanggar perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa. Jatuhnya manusia ke dalam dosa ini menimbulkan beberapa akibat, yaitu
  • Kematian secara roh (Kejadian 2 : 17), putusnya hubungan yang harmonis dengan Allah. Saat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, tubuh mereka tetap hidup, namun roh yang ada pada mereka menjadi mati.
  • Tubuh manusia pada mulanya diciptakan untuk bisa menikmati kekekalan, namun pada akhirnya berubah menjadi rapuh dan fana dan berujung pada kematian fisik (Roma 6 : 23). Kita bisa melihat saat ini tubuh manusia semakin lama semakin lemah, tidak ada manusia yang tidak memiliki kelemahan fisik, buktinya bisnis apotik semakin menjamur, kebutuhan obat-obatan semakin tinggi. Tubuh manusia, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak ada satupun yang bisa lolos dari yang namanya penyakit. Mulai dari penyakit ringan seperti ketombe dan panu hingga penyakit berat seperti kanker, diabetes, jantung, ginjal, dll.
  • Dosa yang dibuat oleh Adam dan Hawa ini akhirnya disebarkan pada seluruh dunia melalui keturunannya (Roma 5 : 12). Mulai sejak itulah hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari yang namanya dosa.
  • Ending dari kehidupan manusia yang penuh dengan dosa inilah yang akan membawa pada hukuman yang kekal di Neraka (Ibrani 9 : 27)
Keadaan seperti empat hal diatas membuat manusia berada dalam posisi "tidak selamat" dan membutuhkan seorang "juru selamat" yang dapat menyelamatkan dari hukuman yang kekal tersebut. Pada hari Natal, Anak Allah yaitu Yesus dikaruniakan kepada seluruh umat manusia sebagai juru selamat dunia.


Pada artikel ini kita belajar alasan yang pertama dulu ya, pada artikel selanjutnya "Apa Tujuan Yesus Datang ke Dunia (Part 2)", saya akan tuliskan juga dua alasan lainnya. So, disimak terus ya :)

Sumber : Khotbah Bpk. Pdt. Larry Nathan Kurniadi, M.A. pada acara ibadah Minggu, 15 Desember 2013 di GBI Aletheia Yogyakarta.

Jumat, 13 Desember 2013

Menang Tapi Sebenarnya Kalah

Hallo sobat, saya ingin menceritakan kejadian yang baru saja berlangsung dan dialami oleh salah seorang karyawan saya. Ceritanya pada hari kemarin saya menugaskan dia untuk mengambil sebuah PC/komputer saya yang baru saja diperbaiki dan diinstall ulang di kantor pos pusat yogyakarta dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio milik saya. Dalam perjalanan pulang, secara tidak sengaja dia terlibat insiden dengan dua orang yang mengendari satu sepeda motor sehingga mengakibatkan PC yang baru saja diperbaiki terjatuh di jalan dan rusak kembali.

Adu argumen pun terjadi, kedua belah pihak tidak mau dipersalahkan sehingga akhirnya harus dilerai di pos polisi terdekat. kata damai diperoleh dengan kesepakatan bahwa biaya perbaikan PC yang rusak akan ditanggung kedua belah pihak secara prorata. Akhirnya secara bersama-sama kedua pihak pergi ke toko komputer terdekat untuk memperkirakan total biaya yang harus dikeluarkan. Setelah diperiksa, ternyata biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp. 210.000,-, yang berarti masing-masing pihak harus menanggung kerugian sebesar Rp. 105.000,-. Namun sayangnya pihak kedua tidak konsisten dengan kesepakatan awal yaitu menanggung 50% dari kerugian, dan hanya bersedia membayar Rp. 50.000,-. Keributan pun tidak bisa dihindarkan hingga puncaknya terjadi perkelahian antara kedua pihak.

Pulang ke toko, karyawan langsung saya tanyain kejadiannya, cerita panjang lebar akhirnya saya tarik kesimpulan dia "kalah". Kalah disini dalam artian jasmani dan juga rohani. Kalah secara jasmani sudah jelas, karena terpaksa berkelahi 3 lawan 1, terluka, kehilangan jam tangan, dan sukses menambah musuh baru. Sedangkan kalah secara rohani memperlihatkan ketidakmampuan dalam mengontrol emosi. Waktu saya muda, ya sekitar umur 15 - 23 tahun, saya sangat suka berkelahi, seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa saya jagoan hebat, ada kebanggaan tersendiri jika diakui sebagai "preman" oleh orang-orang sekitar. Namun semua itu berubah setelah saya lebih mengenal Tuhan Yesus, memang perubahan tidak terjadi secara drastis dan membutuhkan waktu yang cukup panjang, bahkan  saat ini di usia ke -33 tahun terkadang saya masih sulit mengendalikan emosi saya.

Terkadang kita selalu berusaha menonjolkan penampilan luar yang ada pada kita, kemampuan fisik yang hebat, keinginan untuk dipuji orang lain, dll. tapi kita tidak pernah memperhatikan apa yang ada di "dalam" kita yaitu roh dan jiwa kita. Tubuh kita bisa besar, kuat dan gagah seperti Ade Rai, tapi ternyata roh kita "kurus kering" karena tidak pernah mendapatkan santapan rohani dan juga tidak pernah dilatih oleh masalah-masalah rohani. So, penampilan fisik memang perlu, namun roh dan jiwa juga butuh "makanan" yaitu doa dan firman.

Rabu, 11 Desember 2013

Latihan Parodi Untuk Ibadah Natal AWG & AFF di Gereja

Shalom sobat sekalian, selamat malam. Pukul 10.45 WIB saya baru saja pulang dari gereja sehabis latihan drama parodi untuk mengisi acara Natal gabungan AFF (Aletheia Family Faithzone) dan AWG (Aletheia Women of Grace). Karena sesampainya di rumah, saya masih belum mengantuk maka saya ingin bercerita sedikit di blog ini. Acara Natal bersama akan diselenggarakan pada hari senin tanggal 16 Desember 2013 di GBI Aletheia. Rencana awal adalah latihan akan dilaksanakan hari ini mulai pukul 18.30 WIB, namun dikarenakan masih harus menunggu bagian lain, khususnya Praise and Worship maka latihan baru dimulai pada pukul 21.00. Alhasil lumayan lama juga nunggunya, tapi Puji Tuhan walaupun lumayan lama menunggu namun saya cukup terhibur juga saat menonton rekan-rekan choir berlatih gerakan untuk mengiringi lagu yang dibawakan oleh Worship Leader.

Pukul 21.00 latihan dimulai, ada beberapa konsep yang diubah dari latihan sebelumnya. Sebelumnya saya berperan sebagai malaikat, namun karena dalam cerita lumayan sulit untuk "tune" dengan rekan-rekan, akhirnya saya bertukar peran sebagai Gatot Kacang (plesetan dari Gatot Kaca). Pada awal latihan rasanya sangat kikuk karena harus mendalami peran lagi, tapi lama-kelamaan akhirnya bisa "tune" dengan rekan-rekan. Saya tergolong orang yang banyak ngomong, tapi saat harus mendalami peran "ndagel" ternyata tidak semudah saat kita menonton acara Opera Van Java (OVJ) yang seolah-olah pemainnya sudah begitu menyatu satu sama lain. Awalnya terlihat seperti sesuatu yang gampang, namun saat memerankannya di atas pentas ternyata begitu sulit untuk berekspresi layaknya seorang aktor. Pantas saja bayaran yang diterima bintang film bisa sangat tinggi karena ternyata pekerjaan mereka membutuhkan keahlian khusus ya.

Dengan kejadian ini menjadi pembelajaran yang sangat berguna bagi saya bahwa menjadi aktor dan aktris itu tidak mudah. Tapi apapun itu, kita sebagai pelayan Tuhan harus selalu mengupayakan yang terbaik walaupun itu bukan bidang keahlian kita sehingga berkat Tuhan pun akan selalu tercurah buat kita yang setia melayani-Nya. Tetap semangat dan pantang menyerah....

Sudah dulu ya...dah mulai ngantuk nih...:D