Rabu, 09 April 2014

Blessing From The Lamb of God

Persamaan antara domba Paskah dan salib Golgotha
Shalom sobat, saya ingin membagikan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Ishak Sugiyanto pada ibadah hari Minggu yang lalu di GBI Aletheia Yogyakarta. Seperti yang sama-sama kita ketahui, di bulan April ini kita semua sebagai orang-orang percaya akan merayakan hari raya Paskah, yaitu hari bersejarah dimana Tuhan Yesus yang turun ke dunia merelakan dirinya disiksa dan disalibkan demi menebus dosa seluruh isi dunia. Di dalam Injil Yohanes, peristiwa kematian Yesus ini dikaitkan dengan perayaan Paskah Yahudi sebagaimana dicatat dalam Yohanes 1 : 29 - Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata :"Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Paulus juga sama dengan Yohanes - Sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus (I Korintus 5 : 7). Dengan demikian baik menurut Yohanes maupun Paulus, terdapat kesamaan yang indah antara Hari Raya Paskah dengan peristiwa kematian Yesus di salib Golgota.

Hari Raya Paskah diperintahkan Allah untuk dirayakan oleh semua umat Israel pada saat akhir masa perbudakan di Mesir. Demi untuk mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir, Allah menurunkan 10 tulah kepada bangsa Mesir hingga pada puncaknya yaitu tulah ke-10, Allah membuat semua anak sulung di Mesir mati, sedangkan pencabut nyawa melewati setiap rumah umat Israel karena pada tiap ambang pintu rumahnya telah diolesi oleh darah anak domba yang disembelih. Sehingga akhirnya Firaun mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir dan menjadi bangsa yang merdeka. Peristiwa ini disebut Pesakh atau Passover, yang artinya "melewati". Di dalam Kitab Keluaran, Allah memberikan detail apa yang harus umat Israel lakukan untuk merayakan hari raya Paskah ini. Dan ternyata kita bisa melihat banyak kesamaan antara Paskah Israel pada zaman Musa (1500BC) dan salib Kristus di Golgotha.

Setidaknya ada enam kesamaan antara Paskah zaman Musa dan salib Kristus, yaitu :
  1. Anak domba itu harus jantan
  2. Anak domba itu harus tidak bercela
  3. Anak domba itu harus dikurung sampai Paskah
  4. Anak domba itu harus disembelih
  5. Tulang anak domba tidak boleh dipatahkan
  6. Darah anak domba itu membawa keselamatan
Nah pada artikel saya selanjutnya, saya akan membahas lebih mendetail tentang enam kesamaan tersebut. Simak terus ya pengajaran yang luar biasa ini. Tuhan memberkati

Senin, 07 April 2014

Mbah Maridjan - Mengunjungi Sosok Juru Kunci Merapi yang Melegenda

Hallo sobat semua, hari senin kemarin kami pergi bersama Engkong dan Ama mengunjungi Kinahrejo, tempat dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal. Perjalanan dari kota Jogja tidak begitu jauh, hanya sekitar 25km saja dan bisa ditempuh dengan kendaraan selama 30 - 45 menit. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 14.00, karena sudah lapar, maka kami sempatkan diri untuk menikmati mie ayam bakso di daerah Pakem. Setelah makan, kami langsung melanjutkan perjalanan dan tiba di Kinahrejo sekitar pukul 15.15.

Di lokasi kami menyewa 2 buah sepeda motor yang digunakan untuk mengantarkan kami ke lokasi rumah Mbah Maridjan. Ama dibonceng oleh salah seorang pemandu wisata, sedangkan saya menggunakan satu motor yang berboncengan dengan Engkong dan Theora. Saya tidak menyangka jika jalan yang harus kami hadapi begitu terjal, sepeda motor Honda Supra X 125 yang saya kendarai nyaris tidak mampu menanjak naik, padahal saya sudah "gas pol". Akhirnya saya gunakan cara zig zag untuk mengurangi beban "gravitasi" sehingga akhirnya motor bisa menanjak lagi walaupun perlahan.

Pemandu pertama kali membawa kami ke lokasi puncak tertinggi hunian masyarakat dan menjelaskan banyak hal yang terjadi pada saat letusan dasyat merapi pada tahun 2010 yang lalu. Setelah disana sebentar, pemandu kemudian mengajak kami mengunjungi "petilasan" Mbah Maridjan. Di tempat ini kami bisa melihat lokasi rumah bekas tempat tinggal Mbah Maridjan yang sudah rata dengan tanah dimana diatasnya dibuat satu "cungkup" kecil yang menandakan lokasi ditemukannya jasad Mbah Maridjan. Selain itu kami juga bisa melihat beberapa bangkai hewan peliharaan milik Mbah Maridjan serta kendaraan Suzuki APV milik wartawan yang ikut tewas dalam musibah tersebut.

Puas berfoto-foto dan mendapatkan penjelasan dari pemandunya, kami langsung meluncur turun. Setelah membayar uang sewa untuk 2 sepeda motor dan jasa pemandu sebesar Rp. 50.000,-, kami langsung meluncur pulang ke Jogja. Berikut ini saya bagikan beberapa foto yang sempat saya abadikan dengan menggunakan kamera Nikon D3100 saya.

Di hunian tertinggi di Kinahrejo
Mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata
Theora berpose di gerbang masuk rumah Mbah Maridjan
Di depan petilasan rumah Mbah Maridjan
Di depan petilasan rumah Mbah Maridjan
Di depan sisa-sisa perabotan milik Mbah Maridjan
Di depan bangkai mobil APV yang terkena wedhus gembel





Minggu, 06 April 2014

Makan Bersama Engkong dan Ama di Mang Engking

Shalom sobat sekalian, minggu ini merupakan pekan yang cukup menggembirakan karena selama seminggu ini kami dikunjungi Engkong dan Ama yang khusus berlibur ke Jogja untuk menemui kami semua. Engkong dan Ama tiba di Jogja pada hari Kamis malam, 03 April 2014 melalui Bandara Adisucipto Yogyakarta. Hari Jumat hanya kami lewati dengan jalan-jalan di tengah kota saja, dan hari Sabtu, Engkong dan Ama menginap di Wonosari. Sedangkan hari ini kami manfaatkan untuk makan bersama di Mang Engking Godean yang merupakan salah satu tempat resto favorit kami.

Kami berangkat sekitar pukul 12.00 WIB dengan menggunakan dua buah mobil yang diisi oleh sembilan orang. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 13.00 WIB kami langsung memesan menu ikan gurameh bakar madu, udang bakar madu, cumi-cumi goreng, ayam goreng, dan juga tahu goreng, tak lupa minuman spesial es cincau tak luput dari pesanan kami. Namun yang sedikit mengurangi keasyikan kami yaitu sesampainya disana tiba-tiba ...byurr...hujan turun dengan derasnya :(, sehingga kami hanya bisa memandangi hujan melalui gubug kami saja, padahal kami sudah berencana untuk bermain perahu, berfoto-foto di dekat kolam, dll. Tapi dibalik "musibah" tersebut ternyata juga memberikan sesuatu yang baru yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. memandangi dan mendengar air hujan yang turun dari atap dan jatuh ke kolam ternyata memberikan sensasi keunikan tersendiri.

Selesai makan, kami masih menyempatkan diri menikmati sensasi menggelitik dari terapi ikan yang disediakan oleh pengelola, dan hari ini sepertinya ada sesuatu yang baru yaitu ikan-ikannya diganti semua dengan ikan-ikan yang lebih kecil karena ikan yang lama bisa dibilang sudah terlalu besar.

Selesai terapi ikan, kami langsung pulang dan mampir untuk melihat proses pembangunan rumah kami, tapi ternyata dalam perjalanan hujan deras turun lagi dan menggangu perjalanan kami. Nah, ini beberapa foto dan juga video yang bisa saya bagikan buat sobat sekalian.