Kisah ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki 2 orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan bernama Sally, saat ini ia berumur 8 tahun. Sally memiliki seorang adik laki-laki bernama Georgi yang saat ini dalam keadaan menderita sakit yang sangat parah. Untuk mengobatinya dibutuhkan suatu operasi besar yang memakan biaya sangat mahal, sedangkan orang tuanya tidak memiliki uang sebanyak itu. Kemudian secara tidak sengaja, Sally mendengar pembicaran ayah dan ibunya yang mengatakan bahwa "Hanya sebuah Keajaiban yang bisa menyelamatkan hidup Georgi".
Mendengar hal itu dan tergerak oleh rasa sayang kepada adiknya, maka Sally segera membongkar celengannya dan berhasil mengumpulkan uang sebanyak satu dollar dan sebelas sen. Dengan membawa uang tersebut, Sally segera pergi ke sebuah apotik. Sesampainya disana, ia langsung disambut oleh sang apoteker dengan pertanyaan, "Ada yang bisa saya bantu adik kecil? Apa yang kau butuhkan?"
"Adik saya mengalami sakit keras, saya berniat untuk menolongnya dengan membeli sebuah keajaiban" jawab Sally.
"Apa?!" sang apoteker kebingungan akan pertanyaan Sally tersebut.
"Ayahku bilang kalau adikku bisa sembuh dari sakitnya jika ada keajaiban. Jadi saya ingin tahu berapa harganya?
"Tapi di apotek ini kami tidak menjual keajaiban, adik kecil" jawab apoteker tersebut masih dengan sedikit kebigungan.
"Tapi saya punya uang, dan saya akan membayarnya. Jadi tolongnya berikan saya keajaiban dan katakan saja berapa harganya"
Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi yang berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar percakapan tersebut dari awal mendekat dan kemudian bertanya kepada Sally
"Keajaiban seperti apa yang dibutuhkan oleh adikmu?'
"Saya tidak tahu", jawab Sally dengan ekspresi yang bingung dan air mata mulai mengalir di pipinya yang lembut.
"Yang saya tahu kalau adik saya sakit parah dan ayah saya mengatakan bahwa adik perlu dioperasi, tapi ayah tidak punya uang yang cukup untuk membayarnya, tapi saya punya uang ini"
“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar, sebelas sen” jawab Sally dengan yakin.
“Sungguh suatu kebetulan sekali”, kata pria itu sambil tersenyum, “Satu dollar dan
sebelas sen adalah harga yang tepat untuk membeli keajaiban, yang dapat
menolong adikmu!”
Pria itu kemudian mengambil uang Sally, dan memegang tangan Sally:
“Tolong antarkan saya kepada adikmu, saya mau bertemu dengannya dan orang tuamu”
Ternyata pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah yang sangat terkenal.
Operasi dilakukan tanpa biaya sedikitpun dan tak butuh waktu yang lama buat Georgi
kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Orang tuanya sangat bahagia. Sally
tersenyum. Kasih kepada sesama yang ditunjukkan oleh Dr. Carlton Armstrong sungguh pantas untuk dijadikan teladan dalam kehidupan kita. Dan keyakinan Sally untuk mendapatkan keajaiban itu membuat kita tersadar bahwa keajaiban dan mujizat itu masih ada. Dia tahu pasti berapa harga keajaiban tersebut, Satu dollar dan sebelas sen! ditambah dengan keyakinan.
When u think that there’s no miracle, you’re wrong !
Keep your Faith and Keep praying!
Sabtu, 30 November 2013
Jumat, 29 November 2013
Ratusan Pita Kuning Sebagai Tanda Cinta dan Pengampunan yang Tulus
Ada sebuah kisah cinta yang cukup terkenal, mungkin beberapa sahabat sudah pernah mendengarnya, tapi saya suka sekali dengan kisah ini, jadi tidak ada salahnya kalau sekarang saya share supaya bisa menjadi berkat dan inspirasi bagi kita semua.
Cerita ini didasari oleh kisah nyata. Cerita bermula dari seorang pria yang berasal dari suatu daerah di Georgia - Amerika yaitu area White Oak. Pria ini telah menikah dengan seorang wanita cantik dan telah memiliki anak. Namun sangat disayangkan ternyata pria ini memiliki jalan hidup yang tidak baik, dia lebih mementingkan diri dan kesenangan pribadinya tanpa peduli pada anak dan istrinya, setiap hari ia selalu pulang larut malam dan bahkan hingga dini hari dalam keadaaan mabuk, selain itu akibat pengaruh alkohol, dia seringkali tidak mampu mengontrol dirinya sehingga memukuli istri maupun anak-anaknya.
Akhirnya rumah tangganya pun diambang kehancuran, hingga pada suatu malam ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke New York dengan berbekal uang hasil mencuri tabungan milik istrinya. Disana, pria ini mencoba peruntungan dengan berbisnis dengan rekan-rekan barunya yang membuatnya semakin terjerumus di dalam kehidupan liar kota megapolitan, karena sambil terus berbisnis, ia juga menghambur-hamburkan uangnya untuk berjudi, membayar pelacur dan juga untuk mabuk-mabukan.
Setelah berjalan beberapa tahun tanpa sedikitpun memberi kabar kepada istri dan anak-anaknya, ia semakin dalam terjerumus dalam lembah kelam. Bisnisnya mengalami kemunduran dan hasilnya tidak bisa untuk mencukupi gaya hidupnya yang sudah terlanjur glamour, sehingga pada suatu titik akhirnya ia mengalami kebangkrutan dan terlilit hutang dalam jumlah yang sangat besar. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara melakukan suatu tindakan penipuan melalui cek palsu. Namun malang tak dapat ditolak karena akhirnya modusnya tercium aparat kepolisian dan iapun akhirnya tertangkap dan dijerat dengan hukuman penjara selama tiga tahun.
Hukuman tersebut dijalaninya dengan baik, dan menjelang akhir masa tahanan, ia mulai merasa rindu akan istri dan anak-anaknya. Walaupun awalnya merasa takut dan tidak layak, namun akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menulis sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat ini pertama-tama ia mengucapkan penyesalan yang amat mendalam atas semua kesalahan yang telah dibuatnya, dan merasa sangat merindukan istri dan anak-anaknya serta berharap mendapat kesempatan lagi untuk membina keluarga yang harmonis dengan istrinya tersebut. Surat tersebut berbunyi "Istriku, engkau tidak perlu menungguku. Namun jika engkau masih menginginkan aku untuk kembali, berikanlah tanda kepadaku dengan mengikat sehelai pita kuning pada pohon ek yang ada di pusat kota. Jika nanti aku lewat disana dan tidak menemukan pita kuning tersebut, tidak apa-apa. Aku tidak akan turun dari bis dan aku akan meneruskan perjalananku ke Miami. Aku berjanji tidak akan menggangu kehidupan kalian lagi." itulah secuil ringkasan dari suratnya tersebut.
Hingga akhirnya hari pembebasan itu tiba, si pria segera naik bis dengan tujuan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia tidak tahu apakah surat yang dikirimkannya tersebut sudah diterima istrinya, dan apakah istrinya bersedia untuk memaafkannya atau tidak. Di sepanjang perjalanan, ia merasa sangat gelisah dan kemudian bercerita kepada sopir bis dan meminta untuk menjalankan bisnya pelan-pelan saat berjalan memasuki pusat kota White Oak yang terdapat sebuah pohon ek. Seluruh penumpang di dalam bis juga akhirnya larut dalam ceritanya dan banyak yang memberikan dukungan kepadanya.
Saat bis mulai memasuki kota White Oak, pria ini semakin gelisah dan raut wajahnya terlihat semakin tegang. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaannya dan membuat air matanya menetes tanpa henti disaat ia melihat ratusan pita kuning bergelantungan pada sebuah pohon ek. Seluruh penumpang yang ikut-ikutan tegang akhirnya bisa bernafas lega dan kemudian bersorak gembira, mereka ikut berbahagia dan mengantarkan pria tersebut yang disambut dengan kehangatan cinta dari istri dan anak-anaknya. Karena perasaan haru yang amat sangat, akhirnya sopir bis tersebut menelepon surat kabar New York Post untuk memuat kisah yang sungguh mengharukan tersebut. Dan yang lebih menarik lagi adalah ternyata di dalam bis tersebut juga terdapat seorang penulis lagu yang akhirnya terinspirasi untuk menulis sebuah lagu berdasarkan kisah tersebut, hingga akhirnya pada bulan February 1973 lagu tersebut meledak di pasaran dan menjadi hits. Judul lagu tersebut adalah “Tie a Yellow Ribbon Arround the Old Oak Tree".
Sungguh melalui cerita ini kita bisa melihat kebesaran hati yang laur biasa dari seorang istri yang telah disia-siakan sekian lama. Bagaimana ia bisa memberikan pengampunan yang tulus kepada suaminya. Semoga cerita ini bisa menjadi berkat bagi kita semua...:)
Cerita ini didasari oleh kisah nyata. Cerita bermula dari seorang pria yang berasal dari suatu daerah di Georgia - Amerika yaitu area White Oak. Pria ini telah menikah dengan seorang wanita cantik dan telah memiliki anak. Namun sangat disayangkan ternyata pria ini memiliki jalan hidup yang tidak baik, dia lebih mementingkan diri dan kesenangan pribadinya tanpa peduli pada anak dan istrinya, setiap hari ia selalu pulang larut malam dan bahkan hingga dini hari dalam keadaaan mabuk, selain itu akibat pengaruh alkohol, dia seringkali tidak mampu mengontrol dirinya sehingga memukuli istri maupun anak-anaknya.
Akhirnya rumah tangganya pun diambang kehancuran, hingga pada suatu malam ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke New York dengan berbekal uang hasil mencuri tabungan milik istrinya. Disana, pria ini mencoba peruntungan dengan berbisnis dengan rekan-rekan barunya yang membuatnya semakin terjerumus di dalam kehidupan liar kota megapolitan, karena sambil terus berbisnis, ia juga menghambur-hamburkan uangnya untuk berjudi, membayar pelacur dan juga untuk mabuk-mabukan.
Setelah berjalan beberapa tahun tanpa sedikitpun memberi kabar kepada istri dan anak-anaknya, ia semakin dalam terjerumus dalam lembah kelam. Bisnisnya mengalami kemunduran dan hasilnya tidak bisa untuk mencukupi gaya hidupnya yang sudah terlanjur glamour, sehingga pada suatu titik akhirnya ia mengalami kebangkrutan dan terlilit hutang dalam jumlah yang sangat besar. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara melakukan suatu tindakan penipuan melalui cek palsu. Namun malang tak dapat ditolak karena akhirnya modusnya tercium aparat kepolisian dan iapun akhirnya tertangkap dan dijerat dengan hukuman penjara selama tiga tahun.
Hukuman tersebut dijalaninya dengan baik, dan menjelang akhir masa tahanan, ia mulai merasa rindu akan istri dan anak-anaknya. Walaupun awalnya merasa takut dan tidak layak, namun akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menulis sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat ini pertama-tama ia mengucapkan penyesalan yang amat mendalam atas semua kesalahan yang telah dibuatnya, dan merasa sangat merindukan istri dan anak-anaknya serta berharap mendapat kesempatan lagi untuk membina keluarga yang harmonis dengan istrinya tersebut. Surat tersebut berbunyi "Istriku, engkau tidak perlu menungguku. Namun jika engkau masih menginginkan aku untuk kembali, berikanlah tanda kepadaku dengan mengikat sehelai pita kuning pada pohon ek yang ada di pusat kota. Jika nanti aku lewat disana dan tidak menemukan pita kuning tersebut, tidak apa-apa. Aku tidak akan turun dari bis dan aku akan meneruskan perjalananku ke Miami. Aku berjanji tidak akan menggangu kehidupan kalian lagi." itulah secuil ringkasan dari suratnya tersebut.
Hingga akhirnya hari pembebasan itu tiba, si pria segera naik bis dengan tujuan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia tidak tahu apakah surat yang dikirimkannya tersebut sudah diterima istrinya, dan apakah istrinya bersedia untuk memaafkannya atau tidak. Di sepanjang perjalanan, ia merasa sangat gelisah dan kemudian bercerita kepada sopir bis dan meminta untuk menjalankan bisnya pelan-pelan saat berjalan memasuki pusat kota White Oak yang terdapat sebuah pohon ek. Seluruh penumpang di dalam bis juga akhirnya larut dalam ceritanya dan banyak yang memberikan dukungan kepadanya.
Saat bis mulai memasuki kota White Oak, pria ini semakin gelisah dan raut wajahnya terlihat semakin tegang. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaannya dan membuat air matanya menetes tanpa henti disaat ia melihat ratusan pita kuning bergelantungan pada sebuah pohon ek. Seluruh penumpang yang ikut-ikutan tegang akhirnya bisa bernafas lega dan kemudian bersorak gembira, mereka ikut berbahagia dan mengantarkan pria tersebut yang disambut dengan kehangatan cinta dari istri dan anak-anaknya. Karena perasaan haru yang amat sangat, akhirnya sopir bis tersebut menelepon surat kabar New York Post untuk memuat kisah yang sungguh mengharukan tersebut. Dan yang lebih menarik lagi adalah ternyata di dalam bis tersebut juga terdapat seorang penulis lagu yang akhirnya terinspirasi untuk menulis sebuah lagu berdasarkan kisah tersebut, hingga akhirnya pada bulan February 1973 lagu tersebut meledak di pasaran dan menjadi hits. Judul lagu tersebut adalah “Tie a Yellow Ribbon Arround the Old Oak Tree".
Sungguh melalui cerita ini kita bisa melihat kebesaran hati yang laur biasa dari seorang istri yang telah disia-siakan sekian lama. Bagaimana ia bisa memberikan pengampunan yang tulus kepada suaminya. Semoga cerita ini bisa menjadi berkat bagi kita semua...:)
Kamis, 28 November 2013
Kisah Seorang Raja dengan Empat Orang Istri
Ada sebuah kisah inspiratif yang menurut saya cukup menarik. Cerita ini saya temukan saat sedang iseng membuka internet untuk sekedar menghabiskan waktu luang saja. Alkisah di sebuah negri yang sangat makmur hiduplah seorang raja yang sangat berkuasa, berwajah tampan dan gagah serta hiduplah bergelimang kemewahan. Di usianya yang menginjak angka 45 tahun dia telah menikah sebanyak empat kali alias memiliki 4 orang istri. Keempat istri tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri di mata sang raja.
Istri keempat
Tentu saja karena usianya yang paling muda (sekitar 18-22 tahun), maka istri keempat otomatis menjadi istri yang paling disayang oleh sang raja. Raja selalu memanjakannya dengan perlakuan yang sangat istimewa dengan memberikan bermacam-macam hadiah yang sangat mahal dan berbagai makanan yang paling enak, intinya adalah semua yang terbaik selalu dipersembahkan oleh sang raja untuk istri keempatnya ini.
Istri ketiga
Usianya sedikit lebih dewasa dari istri keempat memiliki kelebihan lain yaitu usianya yang berada dalam usia keemasan (sekitar 23 - 28 tahun) memiliki aura kecantikan yang lebih baik dari ketiga istri yang lainnya, sehingga sang raja pun begitu memujanya dan sangat suka memamerkan istri ketiganya tersebut di hadapan para pejabat-pejabatnya. Tak mengherankan memang, karena istri ketiganya ini bisa dibilang sebagai wanita tercantik di seantero negri, sehingga sang raja sungguh tergila-gila padanya dan menghabiskan paling banyak waktu untuk berduaan dengan istri ketiga tersebut.
Istri kedua
Sang raja juga menyayangi istri keduanya, dengan usianya saat ini sekitar 35 tahun, sang istri kedua memiliki kelebihan lain yaitu tingkat kedewasaan yang cukup baik, memiliki kematangan mental yang bagus sehingga sering dijadikan tempat curahan hati sang raja. Jika dia mengalami masa-masa sulit maka istrinya ini bisa membantunya dan menguatkannya untuk melalui masa-masa sulit tersebut.
Suatu hari, raja mengalami sakit keras dan dia sadar bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Dalam kondisi sekarat tersebut kemudian dia teringat akan keempat istrinya. Kemudian dia memanggil sang istri satu persatu, urut mulai dari istri keempat dan mulai bertanya kepada mereka. Lalu mulailah sang raja bertanya kepada istri keempatnya, "Tahukah kamu bahwa sampai saat ini kamu adalah istri yang paling aku cintai, yang terbaik selalu kuberikan kepadamu, jika aku mati apakah kau akan terus mengikuti dan menemaniku?. Tidak disangka-sangka ternyata jawaban sang istri begitu melukai hati raja, karena dengan ketus istrinya menjawab "Tidak akan pernah" (sambil berlalu pergi).
Kemudian dia teringat akan istri ketiganya yang begitu cantik mempesona, dan pertanyaan yang sama diajukannya kepada istri ketiga tersebut. Sekali lagi jawaban yang diterima membuat hatinya serasa makin remuk, karena dengan santainya sang istri menjawab, "Aku masih sangat muda dan cantik, hidupku masih panjang dan masih banyak lelaki kaya lain yang mau menikah denganku. Maaf aku tidak mau mengikutimu" (dengan gaya bahasa yang sinis).
Sang raja merasa bumi seakan berputar-putar dan langit seolah runtuh menimpa kepalanya. Disaat seperti itu kemudian dia teringat akan istri keduanya yang begitu bijaksana dan lembut, yang selalu ada saat dia membutuhkan pertolongan, lalu sang rajapun kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada istri keduanya. Kali ini jawaban sang istri tidak seperti yang dia harapkan sebelumnya, biasanya jawaban dari istri kedua selalu menyenangkan hatinya tapi kali ini kembali meremukkan perasaannya, namun ia masih bersyukur karena sang istri memberi jawaban penolakan dengan suara yang halus dan lembut, "Maafkan aku sayang, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, yang bisa aku lakukan hanya sekedar menemani hingga ajal menjemputmu dan aku hanya bisa mengantarkan hingga ke pemakamanmu saja".
Hilang sudah harapan sang raja setelah mendengar jawaban dari ketiga istrinya, saat itu semnagat hidupnya sudah semakin pudar, dan dia sudah lupa jika istri pertamanya belum sempat dipanggil dan menjawab pertanyaannya hingga tiba-tiba dia mendengar suatu suara yang sangat lembut menghampirinya dan berkata "Kemanapun kau pergi aku akan selalu bersamamu dan menemanimu". Sang raja tersentak dan kaget mendengar suara itu, sontak ia memalingkan wajahnya dan ia melihat istri pertamanya berdiri disampingnya dengan seulas senyum dibibirnya. Tubuhnya tampak kurus dan seperti tidak terawat. Akhirnya sang raja tersadar dan dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam ia berkata kepada istri pertamanya, 'Maafkan aku sayang, seharusnya aku lebih peduli dan lebih memperhatikanmu saat aku masih memiliki kesempatan". Sang rajapun tidak lama kemudian akhirnya meninggal dan istri pertama memenuhi janjinya untuk terus menemani hingga akhir hayatnya.
Ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari cerita ini karena dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita semua memiliki "4 istri" ini dalam hidup kita.
Istri keempat
Tentu saja karena usianya yang paling muda (sekitar 18-22 tahun), maka istri keempat otomatis menjadi istri yang paling disayang oleh sang raja. Raja selalu memanjakannya dengan perlakuan yang sangat istimewa dengan memberikan bermacam-macam hadiah yang sangat mahal dan berbagai makanan yang paling enak, intinya adalah semua yang terbaik selalu dipersembahkan oleh sang raja untuk istri keempatnya ini.
Istri ketiga
Usianya sedikit lebih dewasa dari istri keempat memiliki kelebihan lain yaitu usianya yang berada dalam usia keemasan (sekitar 23 - 28 tahun) memiliki aura kecantikan yang lebih baik dari ketiga istri yang lainnya, sehingga sang raja pun begitu memujanya dan sangat suka memamerkan istri ketiganya tersebut di hadapan para pejabat-pejabatnya. Tak mengherankan memang, karena istri ketiganya ini bisa dibilang sebagai wanita tercantik di seantero negri, sehingga sang raja sungguh tergila-gila padanya dan menghabiskan paling banyak waktu untuk berduaan dengan istri ketiga tersebut.
Istri kedua
Sang raja juga menyayangi istri keduanya, dengan usianya saat ini sekitar 35 tahun, sang istri kedua memiliki kelebihan lain yaitu tingkat kedewasaan yang cukup baik, memiliki kematangan mental yang bagus sehingga sering dijadikan tempat curahan hati sang raja. Jika dia mengalami masa-masa sulit maka istrinya ini bisa membantunya dan menguatkannya untuk melalui masa-masa sulit tersebut.
Isteri pertama
Istri pertamanya adalah pasangan yang sangat setia dan merupakan sosok yang telah memberikan banyak kontribusi bagi kerajaannya. Namun dengan usianya yang sudah beranjak "tua" yaitu sekitar 40 tahun dan kecantikan yang sedikit memudar membuat sang raja tidak begitu memperhatikannya, meskipun sang istri begitu setia dan mencintainya tetap sulit bagi sang raja untuk memperhatikannya karena dia masih memiliki tiga istri lain yang lebih cantik dan menyenangkan sehingga ia nyaris tidak memiliki waktu bersama dengan istri pertamanya tersebut.
Suatu hari, raja mengalami sakit keras dan dia sadar bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Dalam kondisi sekarat tersebut kemudian dia teringat akan keempat istrinya. Kemudian dia memanggil sang istri satu persatu, urut mulai dari istri keempat dan mulai bertanya kepada mereka. Lalu mulailah sang raja bertanya kepada istri keempatnya, "Tahukah kamu bahwa sampai saat ini kamu adalah istri yang paling aku cintai, yang terbaik selalu kuberikan kepadamu, jika aku mati apakah kau akan terus mengikuti dan menemaniku?. Tidak disangka-sangka ternyata jawaban sang istri begitu melukai hati raja, karena dengan ketus istrinya menjawab "Tidak akan pernah" (sambil berlalu pergi).
Kemudian dia teringat akan istri ketiganya yang begitu cantik mempesona, dan pertanyaan yang sama diajukannya kepada istri ketiga tersebut. Sekali lagi jawaban yang diterima membuat hatinya serasa makin remuk, karena dengan santainya sang istri menjawab, "Aku masih sangat muda dan cantik, hidupku masih panjang dan masih banyak lelaki kaya lain yang mau menikah denganku. Maaf aku tidak mau mengikutimu" (dengan gaya bahasa yang sinis).
Sang raja merasa bumi seakan berputar-putar dan langit seolah runtuh menimpa kepalanya. Disaat seperti itu kemudian dia teringat akan istri keduanya yang begitu bijaksana dan lembut, yang selalu ada saat dia membutuhkan pertolongan, lalu sang rajapun kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada istri keduanya. Kali ini jawaban sang istri tidak seperti yang dia harapkan sebelumnya, biasanya jawaban dari istri kedua selalu menyenangkan hatinya tapi kali ini kembali meremukkan perasaannya, namun ia masih bersyukur karena sang istri memberi jawaban penolakan dengan suara yang halus dan lembut, "Maafkan aku sayang, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, yang bisa aku lakukan hanya sekedar menemani hingga ajal menjemputmu dan aku hanya bisa mengantarkan hingga ke pemakamanmu saja".
Hilang sudah harapan sang raja setelah mendengar jawaban dari ketiga istrinya, saat itu semnagat hidupnya sudah semakin pudar, dan dia sudah lupa jika istri pertamanya belum sempat dipanggil dan menjawab pertanyaannya hingga tiba-tiba dia mendengar suatu suara yang sangat lembut menghampirinya dan berkata "Kemanapun kau pergi aku akan selalu bersamamu dan menemanimu". Sang raja tersentak dan kaget mendengar suara itu, sontak ia memalingkan wajahnya dan ia melihat istri pertamanya berdiri disampingnya dengan seulas senyum dibibirnya. Tubuhnya tampak kurus dan seperti tidak terawat. Akhirnya sang raja tersadar dan dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam ia berkata kepada istri pertamanya, 'Maafkan aku sayang, seharusnya aku lebih peduli dan lebih memperhatikanmu saat aku masih memiliki kesempatan". Sang rajapun tidak lama kemudian akhirnya meninggal dan istri pertama memenuhi janjinya untuk terus menemani hingga akhir hayatnya.
Ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari cerita ini karena dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita semua memiliki "4 istri" ini dalam hidup kita.
- Istri keempat, adalah tubuh kita. Kita selalu berusaha membuatnya bagus dan terlihat muda. Begitu banyak usaha dan pengorbanan yang kita lakukan untuk membuatnya selalu dalam kondisi bagus dan prima tapi tetap saja dia tidak akan pernah mengikuti kita saat kita meninggalkan dunia.
- Istri ketiga, adalah ambisi kita. Selama kita hidup didunia hal yang paling sering kita perhatikan dan kita banggakan adalah harta, kekayaan dan kedudukan kita. Tak peduli bagaimanapun kerasnya kita berusaha untuk mempertahankannya, toh pada akhirnya saat kita meninggal maka semuanya itu akan jatuh ke tangan orang lain.
- Istri kedua, adalah keluarga dan sahabat-sahabat kita. Kita memang sayang kepada mereka tetapi biasanya kita hanya ingat kepada mereka saat kesulitan atau masalah datang kepada kita. Tidak peduli berapa banyaknya waktu yang kita habiskan dalam hidup untuk bersama mereka, namun kenyataannya mereka hanya bisa menemani dan mengiring kita hingga ke pemakaman saja.
- Istri pertama, adalah jiwa, roh, dan iman kita. Kita seringkali mengabaikannya karena kita sibuk memenuhi kepuasan nafsu kita akan kekayaan dan kekuasaan. Padahal justru saat kita meninggal maka merekalah yang mengasihi kita akan dengan setia menemani kita kemanapun kita pergi
Langganan:
Postingan (Atom)





