Minggu, 01 Desember 2013

Apakah Tuhan Juga Menciptakan Kejahatan?

Pada suatu hari, di sebuah kelas tampaklah seorang profesor sedang memberikan suatu mata kuliah kepada para mahasiswanya. Kemudian profesor tersebut mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswanya.
"Apakah kalian percaya bahwa semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?" tanya profesor tersebut.
Lalu spontan saja salah seorang mahasiswa yang duduk di kursi paling belakang menjawab : "Ya Prof, Tidak ada yang perlu diragukan lagi, Tuhan memang yang menciptakan semuanya". Dan hampir semua mahasiswa yang lain pun mengiyakan jawaban temannya tersebut.

Sang Profesor hanya mengangguk kecil, sekilas ia sepertinya setuju dengan jawaban tersebut. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali "Jika memang Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga mencitakan kejahatan bukan? Sebab tindak kejahatan saat ini bukan hanya sekedar khayalan, namun sudah benar-benar terjadi. Semuanya bisa kita lihat di berbagai surat kabar kriminal dan juga televisi. Nah kalau memang Tuhan menciptakan segalanya, berarti Ia juga yang menciptakan banyak kejahatan saat ini.

Beberapa mahasiswa yang menjawab tadi hanya bisa bengong, dan yang lain menjadi tercengang dan tidak bisa menjawab apa-apa. Melihat kondisinya yang terlihat berada di atas angin dan mahasiswanya terlihat seperti kalah, maka sang profesor hanya tersenyum. Ia merasa sangat senang yang kemudian berkata "Nah, sekarang sudah jelas semuanya. Agama hanyalah mitos, bahkan mungkin Tuhan itu sebenarnya tidak ada. Ia hanya ada di dalam bayangan kalian, bukan diatas langit sana."

Namun tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang mengacungkan jarinya yang berkata, "Maaf prof, boleh saya mengajukan satu pertanyaan?"
"Oh..tentu saja. Silakan" jawab si profesor dengan gembira
Si mahasiswa kemudian bertanya,"Prof, apakah dingin itu ada?"
"Ya tentu saja ada, pertanyaan seperti apa itu. Emangnya selama ini kamu tinggal di padang pasir?" sahut sang profesor yang kemudian disambut dengan gelak tawa dari mahasiswa yang lain.

"Sayang sekali Prof, kenyataannya dingin itu tidaklah ada. Menurut hukum Fisika yang saya pelajari, sesuatu dianggap dingin jika tidak ada panas. Suhu -460F adalah suatu ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak menunjukkan suatu reaksi apapun pada suhu tersebut. Kita lalu menyebut kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas tersebut.

Kelas menjadi hening, semua mahasiswa terdiam dan saling pandang. Namun tak lama kemudian, mahasiswa tersebut kembali berkata,"Satu lagi Prof, apakah gelap itu ada?"
Kali ini jawaban si profesor sedikit ragu-ragu, namun kemudian ia menjawab,"Ya, tentu saja gelap itu ada."
"Mohon maaf, sekali lagi Anda salah Prof. Karena gelap juga tidak ada. Sesungguhnya kata gelap muncul dikarenakan suatu keadaaan dimana tidak terdapat cahaya. Kenyataannya jika cahaya bisa kita pelajari, namun gelap tidak bisa. Untuk mempelajari cahaya, kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan suatu cahaya.”

Atas statement tersebut suasana kelas menjadi semakin hening. Sang profesor diam-diam meringis dalam hati. Saat seperti itu tiba-tiba si mahasiswa kembali mengajukan pertanyaan
“Profesor, apakah kejahatan itu memang ada?”
Kali ini dengan sedikit bimbang, sang profesor itu menjawab, “Tentu, saya telah katakan sebelumnya bahwa memang kejahatan itu ada. Kita sudah seringkali melihatnya di koran dan juga di televisi."

Sambil geleng-geleng kepala, sekali lagi mahasiswa itu membantahnya. "Maaf Prof, sekali lagi Anda salah. Seperti halnya dingin maupun gelap, kejahatan adalah suatu kata yang seringkali kita gunakan untuk mendeskripsikan suatu keadaan dimana tidak ada kasih sayang Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menciptakan kejahatan, tetapi kajahatan bisa ada karena hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan di dalam hati setiap manusia. Seperti halnya dingin yang timbul dari kondisi tiada panas ataupun gelap akibat ketiadaan cahaya."

Sang Profesor hanya terdiam sambil manggut-manggut. untuk sesaat suasana di ruang kuliah menjadi sunyi senyap hingga akhirnya sang profesor memecah keheningan dengan berkata. "Siapakah namamu, Nak?'
“Albert, Sir. Albert Einstein”

Ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita adalah penyebab dari munculnya kejahatan.
Yohanes 15 : 4, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Sabtu, 30 November 2013

Harga Untuk Sebuah Keajaiban

Kisah ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki 2 orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan bernama Sally, saat ini ia berumur 8 tahun. Sally memiliki seorang adik laki-laki bernama Georgi yang saat ini dalam keadaan menderita sakit yang sangat parah. Untuk mengobatinya dibutuhkan suatu operasi besar yang memakan biaya sangat mahal, sedangkan orang tuanya tidak memiliki uang sebanyak itu. Kemudian secara tidak sengaja, Sally mendengar pembicaran ayah dan ibunya yang mengatakan bahwa "Hanya sebuah Keajaiban yang bisa menyelamatkan hidup Georgi".

Mendengar hal itu dan tergerak oleh rasa sayang kepada adiknya, maka Sally segera membongkar celengannya dan berhasil mengumpulkan uang sebanyak satu dollar dan sebelas sen. Dengan membawa uang tersebut, Sally segera pergi ke sebuah apotik. Sesampainya disana, ia langsung disambut oleh sang apoteker dengan pertanyaan, "Ada yang bisa saya bantu adik kecil? Apa yang kau butuhkan?"
"Adik saya mengalami sakit keras, saya berniat untuk menolongnya dengan membeli sebuah keajaiban" jawab Sally.
"Apa?!" sang apoteker kebingungan akan pertanyaan Sally tersebut.
"Ayahku bilang kalau adikku bisa sembuh dari sakitnya jika ada keajaiban. Jadi saya ingin tahu berapa harganya?
"Tapi di apotek ini kami tidak menjual keajaiban, adik kecil" jawab apoteker tersebut masih dengan sedikit kebigungan.
"Tapi saya punya uang, dan saya akan membayarnya. Jadi tolongnya berikan saya keajaiban dan katakan saja berapa harganya"
Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi yang berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar percakapan tersebut dari awal mendekat dan kemudian bertanya kepada Sally
"Keajaiban seperti apa yang dibutuhkan oleh adikmu?'
"Saya tidak tahu", jawab Sally dengan ekspresi yang bingung dan air mata mulai mengalir di pipinya yang lembut.
"Yang saya tahu kalau adik saya sakit parah dan ayah saya mengatakan bahwa adik perlu dioperasi, tapi ayah tidak punya uang yang cukup untuk membayarnya, tapi saya punya uang ini"
“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar, sebelas sen” jawab Sally dengan yakin.
“Sungguh suatu kebetulan sekali”, kata pria itu sambil tersenyum, “Satu dollar dan sebelas sen adalah harga yang tepat untuk membeli keajaiban, yang dapat menolong adikmu!”
Pria itu kemudian mengambil uang Sally, dan memegang tangan Sally:
“Tolong antarkan saya kepada adikmu, saya mau bertemu dengannya dan orang tuamu”

Ternyata pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah yang sangat terkenal. Operasi dilakukan tanpa biaya sedikitpun dan tak butuh waktu yang lama buat Georgi kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Orang tuanya sangat bahagia. Sally tersenyum. Kasih kepada sesama yang ditunjukkan oleh Dr. Carlton Armstrong sungguh pantas untuk dijadikan teladan dalam kehidupan kita. Dan keyakinan Sally untuk mendapatkan keajaiban itu membuat kita tersadar bahwa keajaiban dan mujizat itu masih ada. Dia tahu pasti berapa harga keajaiban tersebut, Satu dollar dan sebelas sen! ditambah dengan keyakinan.

When u think that there’s no miracle, you’re wrong !
Keep your Faith and Keep praying!

Jumat, 29 November 2013

Ratusan Pita Kuning Sebagai Tanda Cinta dan Pengampunan yang Tulus

Ada sebuah kisah cinta yang cukup terkenal, mungkin beberapa sahabat sudah pernah mendengarnya, tapi saya suka sekali dengan kisah ini, jadi tidak ada salahnya kalau sekarang saya share supaya bisa menjadi berkat dan inspirasi bagi kita semua.

Cerita ini didasari oleh kisah nyata. Cerita bermula dari seorang pria yang berasal dari suatu daerah di Georgia - Amerika yaitu area White Oak. Pria ini telah menikah dengan seorang wanita cantik dan telah memiliki anak. Namun sangat disayangkan ternyata pria ini memiliki jalan hidup yang tidak baik, dia lebih mementingkan diri dan kesenangan pribadinya tanpa peduli pada anak dan istrinya, setiap hari ia selalu pulang larut malam dan bahkan hingga dini hari dalam keadaaan mabuk, selain itu akibat pengaruh alkohol, dia seringkali tidak mampu mengontrol dirinya sehingga memukuli istri maupun anak-anaknya.

Akhirnya rumah tangganya pun diambang kehancuran, hingga pada suatu malam ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke New York dengan berbekal uang hasil mencuri tabungan milik istrinya. Disana, pria ini mencoba peruntungan dengan berbisnis dengan rekan-rekan barunya yang membuatnya semakin terjerumus di dalam kehidupan liar kota megapolitan, karena sambil terus berbisnis, ia juga menghambur-hamburkan uangnya untuk berjudi, membayar pelacur dan juga untuk mabuk-mabukan.

Setelah berjalan beberapa tahun tanpa sedikitpun memberi kabar kepada istri dan anak-anaknya, ia semakin dalam terjerumus dalam lembah kelam. Bisnisnya mengalami kemunduran dan hasilnya tidak bisa untuk mencukupi gaya hidupnya yang sudah terlanjur glamour, sehingga pada suatu titik akhirnya ia mengalami kebangkrutan dan terlilit hutang dalam jumlah yang sangat besar. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara melakukan suatu tindakan penipuan melalui cek palsu. Namun malang tak dapat ditolak karena akhirnya modusnya tercium aparat kepolisian dan iapun akhirnya tertangkap dan dijerat dengan hukuman penjara selama tiga tahun.

Hukuman tersebut dijalaninya dengan baik, dan menjelang akhir masa tahanan, ia mulai merasa rindu akan istri dan anak-anaknya. Walaupun awalnya merasa takut dan tidak layak, namun akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menulis sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat ini pertama-tama ia mengucapkan penyesalan yang amat mendalam atas semua kesalahan yang telah dibuatnya, dan merasa sangat merindukan istri dan anak-anaknya serta berharap mendapat kesempatan lagi untuk membina keluarga yang harmonis dengan istrinya tersebut. Surat tersebut berbunyi "Istriku, engkau tidak perlu menungguku. Namun jika engkau masih menginginkan aku untuk kembali, berikanlah tanda kepadaku dengan mengikat sehelai pita kuning pada pohon ek yang ada di pusat kota. Jika nanti aku lewat disana dan tidak menemukan pita kuning tersebut, tidak apa-apa. Aku tidak akan turun dari bis dan aku akan meneruskan perjalananku ke Miami. Aku berjanji tidak akan menggangu kehidupan kalian lagi." itulah secuil ringkasan dari suratnya tersebut.

Hingga akhirnya hari pembebasan itu tiba, si pria segera naik bis dengan tujuan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia tidak tahu apakah surat yang dikirimkannya tersebut sudah diterima istrinya, dan apakah istrinya bersedia untuk memaafkannya atau tidak. Di sepanjang perjalanan, ia merasa sangat gelisah dan kemudian bercerita kepada sopir bis dan meminta untuk menjalankan bisnya pelan-pelan saat berjalan memasuki pusat kota White Oak yang terdapat sebuah pohon ek. Seluruh penumpang di dalam bis juga akhirnya larut dalam ceritanya dan banyak yang memberikan dukungan kepadanya.

Saat bis mulai memasuki kota White Oak, pria ini semakin gelisah dan raut wajahnya terlihat semakin tegang. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaannya dan membuat air matanya menetes tanpa henti disaat ia melihat ratusan pita kuning bergelantungan pada sebuah pohon ek. Seluruh penumpang yang ikut-ikutan tegang akhirnya bisa bernafas lega dan kemudian bersorak gembira, mereka ikut berbahagia dan mengantarkan pria tersebut yang disambut dengan kehangatan cinta dari istri dan anak-anaknya. Karena perasaan haru yang amat sangat, akhirnya sopir bis tersebut menelepon surat kabar New York Post untuk memuat kisah yang sungguh mengharukan tersebut. Dan yang lebih menarik lagi adalah ternyata di dalam bis tersebut juga terdapat seorang penulis lagu yang akhirnya terinspirasi untuk menulis sebuah lagu berdasarkan kisah tersebut, hingga akhirnya pada bulan February 1973 lagu tersebut meledak di pasaran dan menjadi hits. Judul lagu tersebut adalah “Tie a Yellow Ribbon Arround the Old Oak Tree".

Sungguh melalui cerita ini kita bisa melihat kebesaran hati yang laur biasa dari seorang istri yang telah disia-siakan sekian lama. Bagaimana ia bisa memberikan pengampunan yang tulus kepada suaminya. Semoga cerita ini bisa menjadi berkat bagi kita semua...:)