Kamis, 10 September 2015

Jangan Ragu Untuk Selalu Berbuat Baik

Sesaat sebelum Yesus dijatuhi hukuman mati, Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus. Demikian juga dengan istrinya, yang mendapatkan petunjuk tentang Yesus melalui mimpinya. Pilatus berkuasa dan mempunyai wewenang penuh dan berhak untuk membebaskan Yesus. Akan tetapi, karena desakan dari orang-orang yang sedemikian banyak, Pilatus justru membebaskan seorang pembunuh dan pemberontak bernama Barabas. Pilatus mengingkari hati nuraninya sendiri, dan mencuci tangan, sebagai tanda bahwa dia tidak turut campur dalam masalah tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mendapati orang-orang yang bersikap apatis seperti Pilatus. Mereka tahu bagaimana harus melakukan kebenaran, tetapi mereka tidak mau melakukannya. Motivasinya bermacam-macam, mulai dari tidak mau tahu, atau takut jika nantinya akan disalahkan oleh orang lain. Mereka mungkin berpikir bahwa tindakannya mungkin tidak membawa pengaruh apapun bagi dirinya. Namun mereka tidak tahu bahwa perbuatan baik yang tidak dilakukan, itu sama saja dengan membiarkan pengaruh dan kejadian buruk terjadi pada diri orang lain.

Bukan hanya itu saja, kebiasaan acuh tak acuh ini pun akan menular dari satu orang ke orang yang lainnya. Hari ini, begitu banyak orang yang bersikap demikian. Jadi tidak mengherankan jika keadaan dunia menjadi semakin tak menentu. Kini dunia, bukan berjalan ke arah yang lebih baik, namun sebaliknya, moral masyarakat semakin hancur. itu semua karena keegoisan dan sikap tidak peduli terhadap kebutuhan sesama.

Firman Tuhan berkata di dalam Yakobus 4 : 17, "Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Sebagai garam dan terang dunia, kita harus membuat perubahan. Kita tidak boleh tinggal diam begitu saja atas segala yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kita harus mengawalinya dari diri sendiri. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Orang mungkin akan menilai atau melawan kita. Namun jika kita melakukan yang benar di mata Tuhan, maka Tuhan akan berpihak pada kita. Dia akan menunjukkan jalan yang terbaik, dimana kebenaran pasti akan menang. (Hikmat Wanita)

Senin, 13 Juli 2015

Stop - Jangan Menjadi Orang Yang Munafik

Tuhan Yesus paling sering melontarkan kritikNya kepada kelompok orang Farisi dan para ahli Taurat. Keyakinan Farisi adalah ketaatan pada hukum, hidup diatur dengan mendetail dan sangat teliti. Mereka menetapkan 613 peraturan Tuhan dengan rincian : 248 perintah yang harus dilaksanakan dan 365 larangan. Mereka menerapkan pagar atau rambu-rambu yang ketat agar tidak ada pelanggaran-pelanggaran baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Peraturan ini seringkali memberatkan bagi orang-orang kecil yang tidak mampu secara ekonomi. Secara lahiriah, mereka tampak seperti orang yang taat pada Allah karena mereka terpandang, sering beribadah, memimpin ibadah, dan tahu serta melakukan aturan-aturan yang berlaku. Namun sebagai pemuka agama, mereka gagal memberi teladan dan pengajaran tentang nilai dan hakekat tentang kehidupan rohani.

Mereka hanya mengikat diri mereka sendiri dan orang lain pada peraturan-peraturan, sedangkan hati mereka sama sekali tidak terikat pada Tuhan. Mereka beribadah seperti orang yang sangat taat, namun hati mereka tidak memiliki cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama. Pikiran mereka hanya terpusat pada keinginan mereka sendiri saja.

Yesus juga paham benar tentang hukum Taurat, sejak kecil Yesus gemar berdiskusi dengan para pemuka agama. Namun demikian, Yesus tidak terpaku pada ajaran-ajaran yang menyangkut tata lahiriah belaka. Sebaliknya, Yesus menekankan pada apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu cinta kasih. Itulah hukum yang utama yang sudah merangkum semua hukum di dalam Alkitab.

Peraturan memang baik untuk mengendalikan perilaku masyarakat. Namun, motivasi dalam menjalankan peraturan dan terutama motivasi dalam beribadah jauh lebih penting nilainya. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang munafik seperti halnya orang Farisi. Tuhan mau kita melakukan ajaranNya dengan hati yang tulus, dan dengan motivasi yang benar yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan saja. Bukan untuk kepentingan diri sendiri, apalagi hanya karena ingin tampil dan dilihat orang. Kemunafikan dan kebohongan adalah dosa yang menodai ibadah kita. Sebaliknya, kesungguhan, ketulusan, dan kesetiaan kita untuk hidup dalam kebenaran, dengan jujur, akan berkenan bagi Tuhan dan tentunya akan mendatangkan berkat yang luar biasa bagi hidup kita. GBU (Hikmat Wanita)

Senin, 29 Juni 2015

Rapture - Tujuan dan Rahasia yang Terkandung di Dalamnya

Kata "Rapture" tidak terdapat di dalam Alkitab bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Mengapa? Karena Rapture berasal dari kata latin "Raptu", kata yunaninya adalah "Harpazo" yang artinya diangkat secara tiba-tiba (to be caught up). I Tesalonika 4 : 16-17, "Pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat (Harpazo) bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan."

Tujuan Rapture
Tujuan Rapture dinyatakan dengan jelas di dalam I Tesalonika 1 : 10 yaitu Untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkanNya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. Didalam Kitab Wahyu pasal 4, Rasul Yohanes melihat pintu sorga dan ada suara yang berseru "Naiklah kemari", ini merupakan gambaran dari Rapture. Baru kemudian di dalam Wahyu pasal ke-19 kita membaca bagaimana umat tebusan Kristus sudah berada di sorga dan siap datang kembali ke bumi bersama dengan Sang Juruselamat yang datang sebagai King of kings and Lord of lords. Disini kita bisa melihat begitu besarnya kasih Yesus kepada umat tebusanNya sehingga Ia memberikan perlindungan khusus dalam bentuk Rapture ini, lihat Wahyu 3 : 10, "Karena engkau menuruti firmanKu, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi."

Rahasia Rapture
Rasul Paulus di dalam I Korintus 15 : 51-52 membuka sebuah rahasia buat kita semua - "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia (musterion), kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang yang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semuanya akan diubah." Ayat ini memberikan suatu pengertian yang sangat luar biasa yaitu bahwa Rapture akan terjadi dalam waktu yang teramat sangat cepat, dan Rapture sebagai "The Blessed Hope" mengandung berkat yang dasyat luar biasa, apabila kita semua masih hidup pada saat itu, kita tidak akan mengalami kematian. Kita akan diubah dalam sekejap mata dan bertemu dengan our Beloved Savior, Jesus Christ.

Seberapa Dekat Rapture Akan Terjadi?
Hanya Tuhan saja yang tahu kapan Rapture akan terjadi. Rapture bisa terjadi kapan saja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Namun Tuhan Yesus mau kita bisa membaca tanda-tanda jaman. Sebuah pemikiran tentang we are very close to Rapture muncul dari buah karya St. Malachy, seorang rahib dari Irlandia yang pada tahun 1139 mendapatkan "wahyu khusus" tentang 112 pimpinan gereja Roma sejak dari masanya sampai yang terakhir di akhir zaman.Menariknya, pimpinan (Paus) yang sekarang ini adalah Paus di urutan ke-112 atau yang terakhir di dalam daftar panjang St. Malachy. Apakah pimpinan yang sekarang ini merupakan yang terakhir? Hanya Tuhan yang tahu, tugas kita adalah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganNya. GBU