Suatu hari, ketika Yesus sedang berada di rumah Simon, ada seorang perempuan datang dan mencuci kaki Yesus lalu menyekanya dengan rambutnya dan kemudian memberi minyak wangi pada kakiNya. Simon sempat heran dan mengatakan bahwa perempuan itu adalah orang berdosa. Namun Yesus berkata bahwa perempuan itu sudah diampuni, sebab dia telah berbuat kasih. Semakin banyak diampuni maka semakin banyak juga orang berbuat kasih. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit diampuni maka semakin sedikit jugalah ia berbuat kasih.
Kasih adalah tanda pertobatan dan syarat untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Kasih yang kita berikan tidak boleh pandang bulu. Bukan hanya pada orang yang ingin kita kasihi, melainkan juga pada orang yang telah menyakiti kita. Seringkali orang pilih kasih dalam mencintai. Mereka seringkali lebih memilih untuk memendam kebencian daripada melepaskan pengampunan. Pengampunan harus kita berikan dengan sepenuh hati. Seperti yang dilakukan Yesus, ketika Ia dianiaya hingga wafat disalib, Yesus tidak mengeluh atau marah. Dia menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan berhak menghakimi mereka, namun Yesus justru memohon pengampunan bagi mereka.
Kolose 3 : 13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian"
Orang mungkin membela dirinya dan merasa bahwa dirinya paling benar dan orang lainlah yang melakukan kesalahan. Namun bagaimanapun juga, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Jadi janganlah buru-buru untuk menghakimi kesalahan orang lain, tetapi bercerminlah terlebih dahulu. Sebelum kita menyalahkan orang lain, sebaiknya kita sadari terlebih dahulu kesalahan kita. Tuhan pun berkenan mengampuni kesalahan kita. Tuhan mengasihi kita, Dia tidak akan menghukum kita setimpal dengan kesalahan kita jika kita mau bertobat dan meminta pengampunan dariNya. Nah, disinilah letak keadilan Tuhan. Tuhan tidak mau kita berhenti hanya sampai disitu. Tuhan mau mengampuni kita jika kita mau mengampuni sesama. Sama seperti Tuhan telah mengampuni dan mengasihi kita, kitapun harus mau mengampuni dan mengasihi sesama. Semakin banyak kita mengasihi maka akan semakin banyak pula kita diampuni, dikasihi dan diberkati oleh Tuhan. (Hikmat Wanita).
Jumat, 26 Juni 2015
Kamis, 25 Juni 2015
Mampukah Kita Membalas Kejahatan dengan Kebaikan?
Ketika Yesus ditangkap, sebuah insiden kericuhan terjadi. Petrus yang marah dan sedang membawa pedang, memotong telinga seorang hamba orang Farisi yang bernama Malkhus. Yesus yang melihat kejadian tersebut, langsung menyembuhkan Malkhus. Yesus tahu bahwa Malkhus datang dengan tujuan menangkapnya untuk disalibkan, tetapi Yesus tidak membiarkannya begitu saja. Yesus tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya, Yesus membalasnya dengan kebaikan.
Berbeda dengan Yesus, kebanyakan orang cenderung membalas perbuatan jahat dengan kejahatan pula. Mereka sering berkata, "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal" atau bahkan "Aku bisa melakukan yang lebih jahat dari itu!". Membela diri adalah naluri dari setiap mahkluk hidup. Binatangpun akan melakukan hal yang sama jika ada orang atau binatang lain yang mengganggunya. Itu adalah sifat yang alami. Namun sayangnya jarang ada orang yang sadar bahwa reaksi seperti itu juga akan mendatangkan konsekuensi yang tidak ringan. Sebagai mahkluk yang diberi akal budi, kita diminta untuk memiliki kesadaran dan berpikir panjang dalam bertindak. Amarah, emosi, rasa tergesa-gesa, kepahitan, keinginan untuk balas dendam, akan selalu berdampak buruk terhadap diri kita sendiri. Beberapa binatang akan mati jika mereka menyengat musuhnya, demikian halnya dengan kita, kita akan semakin dirugikan ketika kita berusaha untuk membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Pembalasan dendam hanya akan membuat luka kita semakin dalam.
Obat yang mujarab dari sakit hati tidak datang dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri, yakni dari hati yang mau mengampuni. Kita harus berdamai dengan diri kita sendiri sebelum kita berdamai dengan orang lain. Kita harus terus berpikir positif dan percaya bahwa peristiwa buruk bisa menjadi berkat bagi banyak orang jika kita setia dan menyerahkan diri pada Tuhan. Seperti yang dialami Yesus, yang melalui sengsara dan darahNya menyelamatkan umat manusia dari dosa. Seperti Yusuf yang karena pengalaman buruknya justru membuatnya menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak ada alasan bagi kita untuk membalas kejahatan orang lain. Pembalasan adalah haknya Allah. Kewajiban kita adalah mengampuni dan memberkati, sebab kita dipanggil untuk mendapatkan pengampunan dan berkat Tuhan. (Hikmat Wanita)
Roma 12 : 21, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"
Berbeda dengan Yesus, kebanyakan orang cenderung membalas perbuatan jahat dengan kejahatan pula. Mereka sering berkata, "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal" atau bahkan "Aku bisa melakukan yang lebih jahat dari itu!". Membela diri adalah naluri dari setiap mahkluk hidup. Binatangpun akan melakukan hal yang sama jika ada orang atau binatang lain yang mengganggunya. Itu adalah sifat yang alami. Namun sayangnya jarang ada orang yang sadar bahwa reaksi seperti itu juga akan mendatangkan konsekuensi yang tidak ringan. Sebagai mahkluk yang diberi akal budi, kita diminta untuk memiliki kesadaran dan berpikir panjang dalam bertindak. Amarah, emosi, rasa tergesa-gesa, kepahitan, keinginan untuk balas dendam, akan selalu berdampak buruk terhadap diri kita sendiri. Beberapa binatang akan mati jika mereka menyengat musuhnya, demikian halnya dengan kita, kita akan semakin dirugikan ketika kita berusaha untuk membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Pembalasan dendam hanya akan membuat luka kita semakin dalam.
Obat yang mujarab dari sakit hati tidak datang dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri, yakni dari hati yang mau mengampuni. Kita harus berdamai dengan diri kita sendiri sebelum kita berdamai dengan orang lain. Kita harus terus berpikir positif dan percaya bahwa peristiwa buruk bisa menjadi berkat bagi banyak orang jika kita setia dan menyerahkan diri pada Tuhan. Seperti yang dialami Yesus, yang melalui sengsara dan darahNya menyelamatkan umat manusia dari dosa. Seperti Yusuf yang karena pengalaman buruknya justru membuatnya menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak ada alasan bagi kita untuk membalas kejahatan orang lain. Pembalasan adalah haknya Allah. Kewajiban kita adalah mengampuni dan memberkati, sebab kita dipanggil untuk mendapatkan pengampunan dan berkat Tuhan. (Hikmat Wanita)
Roma 12 : 21, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"
Rabu, 20 Mei 2015
Saat Internet Mengubah Hidup Seorang Menjadi Lebih Baik
“Perjalanan bisnis yang kami lalui tidak selalu mulus. Kami sempat dililit hutang
ratusan juta rupiah dan selama dua tahun keadaan ekonomi kami terpuruk,
bahkan terkadang harus makan sepiring berdua. Dedy juga harus bekerja
serabutan di hari libur,” terang Tri Wardhani, istri dari Dedy Indrawan,
seorang pengusaha sprei dan bedcover asal Yogyakarta.
Dedy Indrawan atau yang akrab disapa Dedy Liem memulai bisnis sprei dan bedcover bersama sang istri secara online sejak 2009. Awalnya muncul banyak keraguan dalam dirinya untuk menjalani bisnis ini. Dedy yang saat itu bekerja sebagai seorang staf pemasaran sebuah bank swasta nyatanya tidak memiliki tabungan yang cukup untuk memulai bisnis. Jangankan memiliki tabungan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Dedy harus “ngojek” pada malam hari usai pulang kerja.
“Saya pernah mencoba ngojek. Jadi siang saya bekerja di bank, malamnya ngojek keliling, tetapi usaha ini tidak berhasil” kata bapak dua putri ini.
Dedy mencoba keberuntungan lain dengan door to door menawarkan produk asuransi dan lagi-lagi usaha ini tak kunjung berhasil memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun keadaan tidak lantas membuat Dedy menyerah. Menurutnya, perubahan ke arah yang lebih baik harus dimulai dari diri sendiri dan sedini mungkin. “Saya tidak mungkin tega membiarkan istri dan dua putri saya tinggal di sebuah kontrakan kecil seumur hidup. Kalau bukan kita yang memulai perubahan, siapa lagi, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi,” jelasnya dengan menggebu.
Akhirnya pria yang berusia 34 tahun ini memberanikan diri memulai bisnis sprei dan bedcover secara online dengan bermodalkan pinjaman uang dari seorang saudara yang nominalnya tidak seberapa, namun nyatanya hal tersebut bukanlah penghalang yang berarti. “Berbisnis melalui internet tetap mungkin dilakukan walaupun hanya dengan modal seadanya,” tutur pemilik sekaligus pengelola toko online Jaxine Sprei and Bedcover.
Jaxine Sprei and Bedcover yang semakin lama semakin berkembang akhirnya membuat Dedy memutuskan untuk berhenti bekerja dari bank dan fokus menggarap bisnis online-nya. Setelah tiga tahun hanya mengambil stok barang dari supplier, kini akhirnya ia sudah mampu memproduksi sprei dan bedcover sendiri dengan dibantu 24 orang karyawan. Namun pemasaran yang awalnya dilakukan melalui website pribadi lambat laun dirasa tidak lagi efektif untuk menindaklanjuti pesanan yang dari hari ke hari kian bertambah.
“Saya kewalahan mengelola website sendiri dan di sisi lain persaingan dengan website kompetitor juga semakin ketat,” imbuhnya. Ia akhirnya memutuskan untuk memasarkan produknya melalui mall online, salah satunya Tokopedia. “Dengan memasarkan produk di Tokopedia, saya tidak perlu lagi pusing memikirkan SEO dan posisi keyword saya di search engine,” terang Dedy. Ia juga menambahkan, dengan bergabung bersama Tokopedia, produknya lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. “Pengunjung Tokopedia sendiri sudah ramai. Hal itu secara langsung membantu saya dalam mempromosikan brand kami ke seluruh penjuru Indonesia,” imbuh laki-laki yang sekarang sudah berhasil mengirimkan ribuan paket produk setiap bulannya ini.


Sebelum memulai bisnis online, hidup Dedy dan keluarga kecilnya serba pas-pasan dengan hanya mengandalkan gaji bulanan sebagai karyawan, yang bahkan untuk sekedar membeli sepeda motor saja harus mencicil selama tiga tahun. Dedy yang usai lulus kuliah sempat berdagang angkringan ini juga harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun berkat kegigihannya dalam membangun bisnis melalui internet, kehidupannya berubah. “Internet memberi dampak yang begitu besar bagi hidup kami, khususnya dalam mengubah kondisi perekonomian keluarga kami. Dulu bahkan untuk makan saya harus ngirit, tapi sekarang bisnis online membuat kami mampu membeli sebuah rumah, tiga buah mobil dan empat sepeda motor dengan mudah,” tutupnya dengan penuh syukur.
Dedy Indrawan atau yang akrab disapa Dedy Liem memulai bisnis sprei dan bedcover bersama sang istri secara online sejak 2009. Awalnya muncul banyak keraguan dalam dirinya untuk menjalani bisnis ini. Dedy yang saat itu bekerja sebagai seorang staf pemasaran sebuah bank swasta nyatanya tidak memiliki tabungan yang cukup untuk memulai bisnis. Jangankan memiliki tabungan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Dedy harus “ngojek” pada malam hari usai pulang kerja.
“Saya pernah mencoba ngojek. Jadi siang saya bekerja di bank, malamnya ngojek keliling, tetapi usaha ini tidak berhasil” kata bapak dua putri ini.
Dedy mencoba keberuntungan lain dengan door to door menawarkan produk asuransi dan lagi-lagi usaha ini tak kunjung berhasil memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun keadaan tidak lantas membuat Dedy menyerah. Menurutnya, perubahan ke arah yang lebih baik harus dimulai dari diri sendiri dan sedini mungkin. “Saya tidak mungkin tega membiarkan istri dan dua putri saya tinggal di sebuah kontrakan kecil seumur hidup. Kalau bukan kita yang memulai perubahan, siapa lagi, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi,” jelasnya dengan menggebu.
Akhirnya pria yang berusia 34 tahun ini memberanikan diri memulai bisnis sprei dan bedcover secara online dengan bermodalkan pinjaman uang dari seorang saudara yang nominalnya tidak seberapa, namun nyatanya hal tersebut bukanlah penghalang yang berarti. “Berbisnis melalui internet tetap mungkin dilakukan walaupun hanya dengan modal seadanya,” tutur pemilik sekaligus pengelola toko online Jaxine Sprei and Bedcover.
Jaxine Sprei and Bedcover yang semakin lama semakin berkembang akhirnya membuat Dedy memutuskan untuk berhenti bekerja dari bank dan fokus menggarap bisnis online-nya. Setelah tiga tahun hanya mengambil stok barang dari supplier, kini akhirnya ia sudah mampu memproduksi sprei dan bedcover sendiri dengan dibantu 24 orang karyawan. Namun pemasaran yang awalnya dilakukan melalui website pribadi lambat laun dirasa tidak lagi efektif untuk menindaklanjuti pesanan yang dari hari ke hari kian bertambah.
“Saya kewalahan mengelola website sendiri dan di sisi lain persaingan dengan website kompetitor juga semakin ketat,” imbuhnya. Ia akhirnya memutuskan untuk memasarkan produknya melalui mall online, salah satunya Tokopedia. “Dengan memasarkan produk di Tokopedia, saya tidak perlu lagi pusing memikirkan SEO dan posisi keyword saya di search engine,” terang Dedy. Ia juga menambahkan, dengan bergabung bersama Tokopedia, produknya lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. “Pengunjung Tokopedia sendiri sudah ramai. Hal itu secara langsung membantu saya dalam mempromosikan brand kami ke seluruh penjuru Indonesia,” imbuh laki-laki yang sekarang sudah berhasil mengirimkan ribuan paket produk setiap bulannya ini.


Sebelum memulai bisnis online, hidup Dedy dan keluarga kecilnya serba pas-pasan dengan hanya mengandalkan gaji bulanan sebagai karyawan, yang bahkan untuk sekedar membeli sepeda motor saja harus mencicil selama tiga tahun. Dedy yang usai lulus kuliah sempat berdagang angkringan ini juga harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun berkat kegigihannya dalam membangun bisnis melalui internet, kehidupannya berubah. “Internet memberi dampak yang begitu besar bagi hidup kami, khususnya dalam mengubah kondisi perekonomian keluarga kami. Dulu bahkan untuk makan saya harus ngirit, tapi sekarang bisnis online membuat kami mampu membeli sebuah rumah, tiga buah mobil dan empat sepeda motor dengan mudah,” tutupnya dengan penuh syukur.
Langganan:
Postingan (Atom)


