Selasa, 03 Desember 2013

Tuhan Adalah Sumber Dari Segala Berkat

Kita percaya jika Tuhan adalah sumber dari segala berkat maupun pertolongan yang ada, termasuk juga inisiatif untuk memberikan pengharapan juga datang dan berasal dari Tuhan, bagian kita sebagai manusia adalah merespon setiap sesuatu yang Tuhan berikan. Dalam beberapa ayat di Alkitab kita ketahui Tuhan Yesus seringkali menggunakan kata "Ayo" yang berarti suatu ajakan atau undangan kepada kita semua. Tuhan Yesus sangat mengerti tentang kebutuhan kita, dan Ia sangat mengerti jika kita sedang berada dalam keadaan kekurangan, karena itulah Tuhan memberikan semuanya itu kepada kita secara cuma-cuma alias gratis.
Banyak dari kita seringkali tidak mengerti akan rencana Tuhan dalam kehidupan kita, sehingga kita tidak tahu bagaimana cara untuk meraih berkat-berkat yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Seringkali kita kecewa kepada Tuhan tanpa kita mau koreksi dan instrospeksi diri kita sendiri, kebanyakan dari kita kemudian mencari pertolongan dan pengharapan diluar Tuhan. Padahal pertolongan dan pengharapan tersebut hanyalah bersifat semu atau sementara. Seringkali kita berpikir bahwa harta kekayaan, jabatan yang tinggi dan juga tingkat kecerdasan yang tinggi dapat mengatasi segala macam persoalan hidup kita, tetapi dengan jelas dan gamblang sekali Tuhan Yesus berkata, "...diluar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15 : 5b)

Yang harus selalu kita ingat adalah bahwa kekuatan kita ada batasnya, dan semua yang kita miliki seperti harta kekayaan, jabatan maupun kepandaian bisa habis lenyap dalam sekejap mata karena kita tinggal di bumi, seperti ada firman, "...di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6 : 19b). Tetapi dalam Tuhan kita akan mendapatkan berkat dan jaminan hidup yang tidak dimiliki orang-orang di luar Tuhan. Yesus sendiri berkata, ”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10 : 10b).

Ada pun kunci yang harus kita perhatikan untuk dapat menikmati berkat-berkat dari Tuhan adalah:
  • Senantiasa dengar-dengaran akan firman Tuhan. (Yesaya 55 : 3). Kita harus mau melangkah untuk melakukan kehendak Tuhan dan hidup dalam ketaatan. ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15 : 7). 
  • Selalu mencari Tuhan dan  bersandar kepada-Nya (Yesaya 55 : 6). Kita harus bergaul akrab dengan Tuhan, serta mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya
  • Salurkan berkat yang Tuhan percayakan kepada kita. Tuhan juga menginginkan kita untuk bisa menjadi Channel of Blessing atau saluran berkat bagi orang lain di sekitar kita. percayalah bahwa Ia akan memberkati kita lebih lagi, karena Tuhan Yesus tidak pernah berhutang.



Apa pun yang kita perlukan, Tuhan pasti sanggup menyediakan,
asal kita mau mengerjakan bagian kita.

Senin, 02 Desember 2013

Telah Terbayar Lunas Oleh Segelas Susu

Kisah ini terjadi di suatu kota kecil, dimana di kota kecil tersebut hiduplah seorang anak laki-laki yang miskin. Ia hidup sebatangkara, saat itu sudah seharian ia tidak mendapatkan makanan dan tidak ada uang sepeserpun di dalam kantongnya. Karena terpepet dan sudah sangat kelaparan akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk sebuah rumah untuk meminta makanan. Namun keberaniannya tiba-tiba lenyap tatkala seorang wanita muda membuka pintu rumah tersebut. Akhirnya ia urung meminta makanan dan hanya meminta segelas air untuk diminum.

Namun ternyata si wanita tersebut cukup jeli dan bisa melihat kondisi si anak laki-laki dan sudah bisa menebak bahwa ia kelaparan. Maka, ia segera masuk ke dalam dan akhirnya keluar dengan membawakan segelas besar susu. Si anak laki-laki dengan gugup bertanya "Berapa harga segelas susu ini?".

Si wanita muda menjawab, "Ibu saya mengajarkan, jangan meminta bayaran atas perbuatan baik yang kami lakukan."
"Saya mengucapkan terima kasih yang paling dalam atas kebaikanmu" balas si anak laki-laki itu setelah menghabiskan susu di dalam gelas tersebut.
 
Lalu semuanya berjalan seperti tidak pernah terjadi apapun, si wanita muda sudah melupakan apa yang terjadi hari itu. Dan belasan tahun telah berlalu dan si anak laki-laki tumbuh dewasa dan mengalami garis perjalanan hidup yang baik dan bekerja sebagai seorang dokter spesialis di suatu kota besar.

Wanita muda itu telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa, tetapi malang tak dapat ditolak, karena setelah didiagnosa ternyata ia memiliki suatu penyakit kronis. Semua dokter di kota kecil tersebut telah angkat tangan dan menyatakan tak sanggup hingga akhirnya ia dirujuk ke kota besar dimana terdapat dokter spesialis yang lebih berpengalaman.
Pada satu rumah sakit, terdapat seorang dokter spesialis yaitu Dokter Howard Kelly. Ia pun diminta untuk memeriksa si wanita tersebut. Saat sang dokter mendengar kota asal si wanita, ia merasakan suatu perasaan yang aneh yang datang dengan tiba-tiba. Dengan segera ia turun dari kantornya dan menemui wanita tersebut, dan saat keduanya bertemu maka seketika itu juga sang dokter mengenali bahwa wanita tersebut adalah orang yang telah memberinya segelas susu. Akhirnya proses penyembuhan dan perawatan segera dilakukan melalui proses yang panjang, hingga akhirnya si wanita berhasil disembuhkan dari penyakitnya. Saat hendak pulang, ia menerima amplop berisi kuitansi tagihan rumah sakit, wajahnya langsung pucat karena ia sadar bahwa biaya yang munul sudah pasti sangat besar dan ia merasa tidak akan sanggup untuk membayarnya meskipun harus dicicil seumur hidupnya sekalipun. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka amplop tersebut, dan matanya langsung terbelalak saat membaca suatu catatan kecil di bagian pojok atas kertas tagihan tersebut.
 
Telah dibayar lunas dengan segelas susu …” Tertanda, dr. Howard Kelly.
(dr. Howard Kelly adalah anak kelaparan yang pernah ditolong wanita tersebut. Cerita disadur dr buku pengalaman dr. Howard dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania, AS)
Begitulah, dr Howard Kelly telah menunjukkan kasih melalui perbuatan nyata kepada orang yang telah berjasa dalam hidupnya
Jangan pernah ragu untuk berbuat baik dan jangan pernah mengharap balasan. Pada akhirnya, buah perbuatan akan selalu mengikuti kita.

Minggu, 01 Desember 2013

Apakah Tuhan Juga Menciptakan Kejahatan?

Pada suatu hari, di sebuah kelas tampaklah seorang profesor sedang memberikan suatu mata kuliah kepada para mahasiswanya. Kemudian profesor tersebut mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswanya.
"Apakah kalian percaya bahwa semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?" tanya profesor tersebut.
Lalu spontan saja salah seorang mahasiswa yang duduk di kursi paling belakang menjawab : "Ya Prof, Tidak ada yang perlu diragukan lagi, Tuhan memang yang menciptakan semuanya". Dan hampir semua mahasiswa yang lain pun mengiyakan jawaban temannya tersebut.

Sang Profesor hanya mengangguk kecil, sekilas ia sepertinya setuju dengan jawaban tersebut. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali "Jika memang Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga mencitakan kejahatan bukan? Sebab tindak kejahatan saat ini bukan hanya sekedar khayalan, namun sudah benar-benar terjadi. Semuanya bisa kita lihat di berbagai surat kabar kriminal dan juga televisi. Nah kalau memang Tuhan menciptakan segalanya, berarti Ia juga yang menciptakan banyak kejahatan saat ini.

Beberapa mahasiswa yang menjawab tadi hanya bisa bengong, dan yang lain menjadi tercengang dan tidak bisa menjawab apa-apa. Melihat kondisinya yang terlihat berada di atas angin dan mahasiswanya terlihat seperti kalah, maka sang profesor hanya tersenyum. Ia merasa sangat senang yang kemudian berkata "Nah, sekarang sudah jelas semuanya. Agama hanyalah mitos, bahkan mungkin Tuhan itu sebenarnya tidak ada. Ia hanya ada di dalam bayangan kalian, bukan diatas langit sana."

Namun tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang mengacungkan jarinya yang berkata, "Maaf prof, boleh saya mengajukan satu pertanyaan?"
"Oh..tentu saja. Silakan" jawab si profesor dengan gembira
Si mahasiswa kemudian bertanya,"Prof, apakah dingin itu ada?"
"Ya tentu saja ada, pertanyaan seperti apa itu. Emangnya selama ini kamu tinggal di padang pasir?" sahut sang profesor yang kemudian disambut dengan gelak tawa dari mahasiswa yang lain.

"Sayang sekali Prof, kenyataannya dingin itu tidaklah ada. Menurut hukum Fisika yang saya pelajari, sesuatu dianggap dingin jika tidak ada panas. Suhu -460F adalah suatu ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak menunjukkan suatu reaksi apapun pada suhu tersebut. Kita lalu menyebut kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas tersebut.

Kelas menjadi hening, semua mahasiswa terdiam dan saling pandang. Namun tak lama kemudian, mahasiswa tersebut kembali berkata,"Satu lagi Prof, apakah gelap itu ada?"
Kali ini jawaban si profesor sedikit ragu-ragu, namun kemudian ia menjawab,"Ya, tentu saja gelap itu ada."
"Mohon maaf, sekali lagi Anda salah Prof. Karena gelap juga tidak ada. Sesungguhnya kata gelap muncul dikarenakan suatu keadaaan dimana tidak terdapat cahaya. Kenyataannya jika cahaya bisa kita pelajari, namun gelap tidak bisa. Untuk mempelajari cahaya, kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan suatu cahaya.”

Atas statement tersebut suasana kelas menjadi semakin hening. Sang profesor diam-diam meringis dalam hati. Saat seperti itu tiba-tiba si mahasiswa kembali mengajukan pertanyaan
“Profesor, apakah kejahatan itu memang ada?”
Kali ini dengan sedikit bimbang, sang profesor itu menjawab, “Tentu, saya telah katakan sebelumnya bahwa memang kejahatan itu ada. Kita sudah seringkali melihatnya di koran dan juga di televisi."

Sambil geleng-geleng kepala, sekali lagi mahasiswa itu membantahnya. "Maaf Prof, sekali lagi Anda salah. Seperti halnya dingin maupun gelap, kejahatan adalah suatu kata yang seringkali kita gunakan untuk mendeskripsikan suatu keadaan dimana tidak ada kasih sayang Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menciptakan kejahatan, tetapi kajahatan bisa ada karena hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan di dalam hati setiap manusia. Seperti halnya dingin yang timbul dari kondisi tiada panas ataupun gelap akibat ketiadaan cahaya."

Sang Profesor hanya terdiam sambil manggut-manggut. untuk sesaat suasana di ruang kuliah menjadi sunyi senyap hingga akhirnya sang profesor memecah keheningan dengan berkata. "Siapakah namamu, Nak?'
“Albert, Sir. Albert Einstein”

Ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita adalah penyebab dari munculnya kejahatan.
Yohanes 15 : 4, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”