Kamis, 10 September 2015
Tips dan Praktek Berjualan Online: Dedy Liem - Sejarah Berdirinya Jaxine Sprei dan Be...
Tips dan Praktek Berjualan Online: Dedy Liem - Sejarah Berdirinya Jaxine Sprei dan Be...: Nama lengkap saya Dedy Indrawan, SE , sedangkan nama panggilan saya adalah Dedy Liem . Saya anak kedua dari pasangan Liem Boen Lie dan Eny...
Jangan Ragu Untuk Selalu Berbuat Baik
Sesaat sebelum Yesus dijatuhi hukuman mati, Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus. Demikian juga dengan istrinya, yang mendapatkan petunjuk tentang Yesus melalui mimpinya. Pilatus berkuasa dan mempunyai wewenang penuh dan berhak untuk membebaskan Yesus. Akan tetapi, karena desakan dari orang-orang yang sedemikian banyak, Pilatus justru membebaskan seorang pembunuh dan pemberontak bernama Barabas. Pilatus mengingkari hati nuraninya sendiri, dan mencuci tangan, sebagai tanda bahwa dia tidak turut campur dalam masalah tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mendapati orang-orang yang bersikap apatis seperti Pilatus. Mereka tahu bagaimana harus melakukan kebenaran, tetapi mereka tidak mau melakukannya. Motivasinya bermacam-macam, mulai dari tidak mau tahu, atau takut jika nantinya akan disalahkan oleh orang lain. Mereka mungkin berpikir bahwa tindakannya mungkin tidak membawa pengaruh apapun bagi dirinya. Namun mereka tidak tahu bahwa perbuatan baik yang tidak dilakukan, itu sama saja dengan membiarkan pengaruh dan kejadian buruk terjadi pada diri orang lain.
Bukan hanya itu saja, kebiasaan acuh tak acuh ini pun akan menular dari satu orang ke orang yang lainnya. Hari ini, begitu banyak orang yang bersikap demikian. Jadi tidak mengherankan jika keadaan dunia menjadi semakin tak menentu. Kini dunia, bukan berjalan ke arah yang lebih baik, namun sebaliknya, moral masyarakat semakin hancur. itu semua karena keegoisan dan sikap tidak peduli terhadap kebutuhan sesama.
Firman Tuhan berkata di dalam Yakobus 4 : 17, "Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Sebagai garam dan terang dunia, kita harus membuat perubahan. Kita tidak boleh tinggal diam begitu saja atas segala yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kita harus mengawalinya dari diri sendiri. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Orang mungkin akan menilai atau melawan kita. Namun jika kita melakukan yang benar di mata Tuhan, maka Tuhan akan berpihak pada kita. Dia akan menunjukkan jalan yang terbaik, dimana kebenaran pasti akan menang. (Hikmat Wanita)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mendapati orang-orang yang bersikap apatis seperti Pilatus. Mereka tahu bagaimana harus melakukan kebenaran, tetapi mereka tidak mau melakukannya. Motivasinya bermacam-macam, mulai dari tidak mau tahu, atau takut jika nantinya akan disalahkan oleh orang lain. Mereka mungkin berpikir bahwa tindakannya mungkin tidak membawa pengaruh apapun bagi dirinya. Namun mereka tidak tahu bahwa perbuatan baik yang tidak dilakukan, itu sama saja dengan membiarkan pengaruh dan kejadian buruk terjadi pada diri orang lain.
Bukan hanya itu saja, kebiasaan acuh tak acuh ini pun akan menular dari satu orang ke orang yang lainnya. Hari ini, begitu banyak orang yang bersikap demikian. Jadi tidak mengherankan jika keadaan dunia menjadi semakin tak menentu. Kini dunia, bukan berjalan ke arah yang lebih baik, namun sebaliknya, moral masyarakat semakin hancur. itu semua karena keegoisan dan sikap tidak peduli terhadap kebutuhan sesama.
Firman Tuhan berkata di dalam Yakobus 4 : 17, "Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Sebagai garam dan terang dunia, kita harus membuat perubahan. Kita tidak boleh tinggal diam begitu saja atas segala yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kita harus mengawalinya dari diri sendiri. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Orang mungkin akan menilai atau melawan kita. Namun jika kita melakukan yang benar di mata Tuhan, maka Tuhan akan berpihak pada kita. Dia akan menunjukkan jalan yang terbaik, dimana kebenaran pasti akan menang. (Hikmat Wanita)
Senin, 13 Juli 2015
Stop - Jangan Menjadi Orang Yang Munafik
Tuhan Yesus paling sering melontarkan kritikNya kepada kelompok orang Farisi dan para ahli Taurat. Keyakinan Farisi adalah ketaatan pada hukum, hidup diatur dengan mendetail dan sangat teliti. Mereka menetapkan 613 peraturan Tuhan dengan rincian : 248 perintah yang harus dilaksanakan dan 365 larangan. Mereka menerapkan pagar atau rambu-rambu yang ketat agar tidak ada pelanggaran-pelanggaran baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Peraturan ini seringkali memberatkan bagi orang-orang kecil yang tidak mampu secara ekonomi. Secara lahiriah, mereka tampak seperti orang yang taat pada Allah karena mereka terpandang, sering beribadah, memimpin ibadah, dan tahu serta melakukan aturan-aturan yang berlaku. Namun sebagai pemuka agama, mereka gagal memberi teladan dan pengajaran tentang nilai dan hakekat tentang kehidupan rohani.
Mereka hanya mengikat diri mereka sendiri dan orang lain pada peraturan-peraturan, sedangkan hati mereka sama sekali tidak terikat pada Tuhan. Mereka beribadah seperti orang yang sangat taat, namun hati mereka tidak memiliki cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama. Pikiran mereka hanya terpusat pada keinginan mereka sendiri saja.
Yesus juga paham benar tentang hukum Taurat, sejak kecil Yesus gemar berdiskusi dengan para pemuka agama. Namun demikian, Yesus tidak terpaku pada ajaran-ajaran yang menyangkut tata lahiriah belaka. Sebaliknya, Yesus menekankan pada apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu cinta kasih. Itulah hukum yang utama yang sudah merangkum semua hukum di dalam Alkitab.
Peraturan memang baik untuk mengendalikan perilaku masyarakat. Namun, motivasi dalam menjalankan peraturan dan terutama motivasi dalam beribadah jauh lebih penting nilainya. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang munafik seperti halnya orang Farisi. Tuhan mau kita melakukan ajaranNya dengan hati yang tulus, dan dengan motivasi yang benar yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan saja. Bukan untuk kepentingan diri sendiri, apalagi hanya karena ingin tampil dan dilihat orang. Kemunafikan dan kebohongan adalah dosa yang menodai ibadah kita. Sebaliknya, kesungguhan, ketulusan, dan kesetiaan kita untuk hidup dalam kebenaran, dengan jujur, akan berkenan bagi Tuhan dan tentunya akan mendatangkan berkat yang luar biasa bagi hidup kita. GBU (Hikmat Wanita)
Mereka hanya mengikat diri mereka sendiri dan orang lain pada peraturan-peraturan, sedangkan hati mereka sama sekali tidak terikat pada Tuhan. Mereka beribadah seperti orang yang sangat taat, namun hati mereka tidak memiliki cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama. Pikiran mereka hanya terpusat pada keinginan mereka sendiri saja.
Yesus juga paham benar tentang hukum Taurat, sejak kecil Yesus gemar berdiskusi dengan para pemuka agama. Namun demikian, Yesus tidak terpaku pada ajaran-ajaran yang menyangkut tata lahiriah belaka. Sebaliknya, Yesus menekankan pada apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu cinta kasih. Itulah hukum yang utama yang sudah merangkum semua hukum di dalam Alkitab.
Peraturan memang baik untuk mengendalikan perilaku masyarakat. Namun, motivasi dalam menjalankan peraturan dan terutama motivasi dalam beribadah jauh lebih penting nilainya. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang munafik seperti halnya orang Farisi. Tuhan mau kita melakukan ajaranNya dengan hati yang tulus, dan dengan motivasi yang benar yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan saja. Bukan untuk kepentingan diri sendiri, apalagi hanya karena ingin tampil dan dilihat orang. Kemunafikan dan kebohongan adalah dosa yang menodai ibadah kita. Sebaliknya, kesungguhan, ketulusan, dan kesetiaan kita untuk hidup dalam kebenaran, dengan jujur, akan berkenan bagi Tuhan dan tentunya akan mendatangkan berkat yang luar biasa bagi hidup kita. GBU (Hikmat Wanita)
Langganan:
Postingan (Atom)
